Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Just You and Me


__ADS_3

"Andini, kamu kenapa? Maafin aku ya..." Eza meraih tubuh Andini lalu mengusap keringat dingin yang ada di pelipisnya.


Andini hanya memejamkan matanya sambil merintih. "Andini kamu kenapa? Sayang maafin aku..."


Eza segera mengangkat tubuh Andini. Menggendongnya keluar dari apartemen menuju mobil. Dia segera membawa Andini menuju rumah sakit.


Melihat Andini yang masih meringkuk menahan sakit, Eza semakin khawatir. Dia menambah laju mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.


Eza sangat menyesal karena tidak bisa menahan emosinya pada Andini tadi siang. Harusnya dia bisa bicara baik-baik dengan Andini. Sekarang, hatinya sangat sakit melihat Andini yang tidak berdaya seperti ini.


Setelah sampai di rumah sakit, Eza segera menggendong Andini ke IGD.


"Dia kenapa, Pak?" tanya dokter saat Eza menurunkan Andini di atas brangkar yang berada di ruang IGD.


"Saya kurang tahu, Dok. Sepertinya perutnya sakit karena telat makan."


"Oke, saya periksa dulu. Bapak tunggu diluar ya."


Eza menuruti perintah Dokter. Dia kini menunggu diluar IGD dengan gelisah. Bahkan dia hanya bisa berjalan mondar-mandir dengan menggaruk rambut yang sebenarnya tidak gatal.


Kenapa jadi seperti ini? Andini, semoga kamu tidak apa-apa.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari IGD dan Eza segera menghampirinya untuk menanyakan keadaan Andini. "Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Istri Bapak mempunyai maag akut dan asam lambung jadi usahakan jangan sampai telat makan. Sudah minum obat penetralisir asam lambung, satu jam kemudian langsung makan ya. Sementara jangan makan yang terlalu kasar dulu."


"Iya Dok, terima kasih. Apa harus dirawat inap Dok?"


"Iya, sehari saja untuk memantau keadaannya. Besok sore sudah boleh pulang.


"Baik Dok. Terima kasih."


Setelah Dokter kembali ke ruangannya, Andini dipindahkan ke ruang rawat vvip.


Andini kini membuka matanya. Perutnya sudah terasa lebih enakan. Dia menatap Eza yang sedang duduk di kursi sebelah brangkarnya.

__ADS_1


"Udah enakan?" tanya Eza sambil mengusap rambut Andini dengan lembut.


Andini hanya mengangguk lemah. Dia kini mengalihkan pandangannya dari Eza.


"Maafin aku ya.."


Ucapan Eza hanya dibalas anggukan kecil dari Andini.


"Sudah satu jam, kamu makan dulu ya. Aku suapin."


"Aku bisa sendiri."


"Gak papa. Aku aja." Eza membantu Andini agar setengah duduk. Lalu dia mengambil bubur ayam yang berada di atas nakas dan mulai menyuapi Andini.


Keadaan sunyi beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. Hanya tangan Eza yang terus menyuapi Andini sampai bubur itu habis.


Setelah selesai makan, Eza mengambilkan air mineral yang langsung diminum oleh Andini.


"Kamu istirahat ya. Aku jagain di sini." Eza membantu Andini merebahkan dirinya. Dia usap puncak kepala Andini agar dia merasa nyaman dan tertidur.


Eza menggelengkan kepalanya. "Nggak. Maafin aku..."


Andini terdiam. Bayangan Eza marah masih terus terlintas di kepalanya.


"Kamu masih cinta sama Irvan? Kalau kamu masih cinta sama dia, gak papa kamu berhak mendapatkan cinta kamu."


Andini kini menatap Eza. Lalu sedetik kemudian dia justru tertawa kecil. "Mas Eza lucu ya. Udah punya suami masa' disuruh terima cowok lain."


"Bukannya kamu masih cinta kan sama Irvan?"


Andini menggeleng yakin.


"Terus kamu tadi kenapa ngambek sampai gak mau makan?"


"Aku takut sama Mas Eza. Kalau marah nakutin."

__ADS_1


Eza tersenyum kecil lalu meraih tangan Andini dan mengenggamnya. "Iya, maaf ya. Aku tadi gak bisa ngontrol emosi aku. Aku janji, gak akan kayak gitu lagi."


Andini menganggukkan kepalanya.


"Tapi kalau kamu memang udah gak cinta sama Irvan? Kamu sekarang cintanya sama siapa?"


"Ih, Mas Eza ngapain tanya kayak gitu sih. Kayak anak SMA aja."


"Ya udah kalau gak boleh tahu. Kamu tidur gih. Aku temenin di sini."


"Temenin sambil duduk?"


"Terus?"


Andini menggeser tubuhnya lalu memiringkan dirinya hingga menyisakan tempat kosong di sisi kirinya. "Aku mau tidur sambil meluk Mas Eza, boleh?."


Eza tersenyum, lalu dia berdiri. Melepas sandalnya dan naik ke atas brangkar untuk memenuhi tempat kosong itu. "Of course, sayang." Eza meraih tubuh Andini ke dalam pelukannya. "Hati-hati infus kamu ya."


Andini mengangguk lalu menenggelamkan dirinya di dada Eza. Benar-benar terasa nyaman, ditambah aroma maskulin dari Eza yang seperti aroma therapy.


"Tidur ya. Besok sore kamu sudah boleh pulang."


"Lagian, aku biasa sakit gini. Cuma minum obat lambung pasti sembuh."


"Jangan sepelein penyakit. Gak boleh. Setelah ini, aku akan benar-benar jaga kamu. Termasuk jadwal makan kamu."


"Terserah Mas Eza. Tapi jangan marah-marah lagi kayak tadi ya. Aku takut." Andini memejamkan matanya, dia seperti terbuai dengan nyaman.


"Iya. I love you."


"I love you too."


Baru kali ini dia mendengar balasan dari ucapan cintanya. Eza tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


Kita akan selalu bersama Andini. Just you and me...

__ADS_1


__ADS_2