Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Terbang Bersama


__ADS_3

"Mas, gimana kalau Clarissa besok nyebar gosip di sekolah?" tanya Andini yang saat itu sudah berada di boncengan Eza sambil memeluknya.


Eza memang sengaja melajukan motornya pelan karena ingin menikmati suasana malam bersama Andini. "Biarin aja. Clarissa itu hanya bagian kecil aja kayak Irvan. Kan ada aku." Eza mengusap tangan Andini yang berada di atas perutnya. "Tangan kamu kok dingin? Kamu kedinginan? Pakai jaket aku ya.."


"Nggak Mas. Kan aku udah pakai cardigan masak mau pake jaket lagi. Mas aja. Pasti lebih dingin."


"Gini aja ya." Eza menghentikan motornya lalu melepas jaketnya dan menghadapkannya ke belakang.


"Ih, ini sih modus."


"Gak papa, sama suami sendiri."


Andini kembali memeluk tubuh suaminya dengan tangan yang terselip di balik jaket. Memang terasa lebih hangat.


Eza mulai melajukan motornya kembali. Hangat pelukan Andini dan lekuk tubuh Andini yang terasa di punggungnya berhasil memancing sesuatu yang sedari tadi tertidur.


"Sayang, kita ke apartemen aja ya?"


"Tapi mobil Mas Eza?"


"Gampang. Besok biar diantar Pak Wawan."


"Terserah Mas Eza aja. Pasti mau itu kan?" Tangan Andini yang semula berada di perut tiba-tiba dituntun Eza untuk menyentuh sesuatu yang telah mengeras itu.


"Ini jawabannya."


"Ih, Mas Eza mesum banget."


Eza terkekeh lalu kembali meletakkan tangan kirinya disetir motor.


"Sayang, yang lebih mesum sekarang siapa ya?" Eza merasa geli sendiri saat tangan Andini justru tidak pindah dari sangkarnya dan malah memainkannya yang membuat wajah Eza sekarang sudah seperti kepiting rebus.


Untunglah sebentar lagi sudah sampai di apartemen. Eza menghentikan motornya di tempat parkir seiring dilepaskannya tangan Andini.


Andini turun dari motor. Lalu melepas helmnya. "Mas, helmnya taruh mana?"

__ADS_1


"Sini aja gak papa."


Setelah itu mereka segera berjalan beriringan menuju lift.


"Udah gemes banget sama kamu." Eza merengkuh tubuh Andini yang saat itu masih di dalam lift.


"Ih, Mas Eza." Andini mendorong pelan wajah Eza yang sudah begitu ingin singgah di lehernya.


Setelah pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju apartemennya dengan tangan Eza yang semakin mesra merengkuh tubuh istrinya.


Sampai di depan pintu, Eza mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu akses. Setelah pintu itu terbuka, Eza langsung menarik tubuh Andini dan menciumnya sambil berjalan masuk ke dalam apartemen.


Tangan kanannya menahan punggung Andini sedangkan tangan kirinya kini menutup pintu apartemennya.


"Mas," ucap Andini setelah Eza melepaskan ciumannya. "Barusan pintu belum ditutup kenapa udah main cium sih?"


"Udah gak tahan sayang." Eza kembali mencumbu Andini, kini tubuh Andini telah dikungkungnya dibalik pintu.


Ciuman yang semakin lama semakin memanas dan liar. Tangan Eza mulai bekerja, satu per satu dia mulai melepaskan kain yang menutupi tubuh Andini.


"Mau posisi stand?"


Andini tak menjawab, dia justru mengatur napasnya yang telah tersenggal karena ulah Eza barusan.


Tanpa menunggu jawaban, Eza melepas celana Andini hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Lalu dia lepas semua pakaiannya.


"Mas, ini di belakang pintu."


"Gak papa. Ada peredam suaranya, gak mungkin juga terdengar sampai luar."


"Tapi Mas..."


"Jangan tegang ya, pegangan leher aku. Sudah siap lepas landas nih."


Andini memegang leher Eza kuat-kuat. Dia memang masih amatir hingga membuat Eza kesulitan memposisikan dirinya.

__ADS_1


Eza sedikit mengangkat tubuh Andini agar berhasil memasukinya.


"Hmmm, Mas." Andini sedikit memekik. Ya, dengan posisi ini lebih terasa mengganjal di bawah sana. Apalagi saat Eza mulai menggerakannya, Andini benar-benar dibuat kelabakan walau sudah berpegangan leher Eza erat-erat.


Eza tersenyum melihat wajah Andini yang merah merona merasakan kenikmatan yang terasa semakin dahsyat.


"I love you." ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Andini.


Suara indah itu semakin bersahutan dari dua sejoli yang sedang memadu cinta.


Eza menahan tubuh Andini yang melemas setelah sampai pelepasannya. Sesaat kemudian di susul oleh Eza yang dengan cepat dia lepas dan dikeluarkannya di atas perut Andini.


Mereka kini beringsut ke lantai.


"Capek juga." Eza mengatur napasnya lalu menyandarkan dirinya di pintu sambil merengkuh tubuh Andini.


"Mas Eza sih."


"Nyoba sensasi baru sayang. Dan benar-benar sensasional. Nanti nyoba lagi yuk di kamar dekat jendela sambil lihat pemandangan pasti terasa terbang di langit beneran."


"Mas Eza. Ih, masih capek."


Eza tersenyum lalu mengecup puncak kepala Andini. "I love you..."


"I love you too..."


💞💞💞


.


.


.


🙈🙈

__ADS_1


Aduh, aku gak lihat loh ya..


__ADS_2