Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Lamaran Rendi


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, inilah hari yang ditunggu-tunggu. Tidak hanya Rendi ataupun Rara yang berdebar-debar. Tapi juga Andini.


Dia kini mematut dirinya di depan cermin sambil sesekali tersenyum. Membayangkan suatu hal yang romantis yang akan terjadi pada sahabat terbaiknya.


"Cantik banget. Jadi pengen melamar kamu lagi." Eza membungkukkan dirinya dengan tangan yang sudah melingkar di perutnya.


Andini hanya mencibir. Dulu Eza melamar hanya sendiri bahkan orang tuanya saja tidak ikut serta sampai pernah terbesit jika Eza menikahinya secara rahasia.


"Eh, bibirnya ingin dicium ya?" Eza mendaratkan ciumannya di pipi mulus istrinya karena bibir Andini sulit dia jangkau. "Waktu cepat banget ya berlalu. Rasanya kayak baru kemarin aku yang melamar kamu."


"Iya, melamar sendiri dan gak ada romantisnya."


Eza tertawa karena itu memang benar adanya. "Tapi yang penting sekarang kita bisa romantisan tiap hari."


"Gak romantis sih Mas. Lebih tepatnya mesum."


Iya, itu memang benar.


"Ya udah, malam ini lagi ya?" Sapuan lembut kini sudah singgah di leher Andini yang membuatnya geli.


"Gak usah tanya lagi, Mas. Biasanya kan langsung main serobot."


"Tapi kamu suka kan?".


Andini hanya tersenyum. Suka? Bukan suka lagi tapi sudah ketagihan.


"Rara sudah pasti menerima lamaran Rendi kan? Kasian kalau ditolak bisa depresi tuh si player tobat."


"Pasti, Mas. Rara udah yakin dengan perasaannya sendiri."


Eza melepas pelukannya lalu beralih mengambil ponselnya. Sudah ada beberapa pesan dari Rendi.


"Sayang, kita disuruh langsung ke tempat saja. Kalau seandainya mereka belum datang kita menunggu di depan rumahnya biar menghemat waktu."


"O, ya udah. Kita berangkat sekarang Mas?" Andini berdiri lalu mengambil tasnya yang sudah berisi ponsel dan dompetnya.


"Iya, barang-barang sudah dimasukkan ke mobil kan?"


"Sudah, Mas."


Eza menggandeng tangan Andini lalu mereka keluar dari kamarnya.


"Za, barang-barangnya sudah lengkap kan?" tanya Pak Handoko yang juga sudah siap bersama istrinya. Mereka berdua juga ikut ke acara lamaran Rendi. Karena selama ini mereka sudah menganggap Rendi seperti putranya sendiri.

__ADS_1


"Sudah, Pa. Papa sama Mama mau ikut mobil aku atau sama Pak Wawan?"


"Mobil kamu saja sekalian. Berangkat sekarang?"


"Iya, Pa."


Andini melepas tangannya karena kini dia lebih memilih untuk berjalan di samping ibu mertuanya.


"Ikut senang ya melihat orang yang dekat dengan kita akan mendapatkan kebahagiaannya." Bu Sonya kini merangkul pinggang menantunya. "Maaf ya sayang, dulu waktu Eza melamar kamu, mama sama papa gak ikut. Bahkan sampai kalian menikah kita juga tidak bisa datang."


"Tidak apa-apa, Ma. Yang penting sekarang Dini bahagia bisa bersama mama sama papa sebagai pengganti orang tua Dini."


Bu Sonya tersenyum. Dia sudah cukup bahagia mendapat menantu seperti Andini yang tidak pernah menuntut apa-apa. Bahkan cenderung sangat penurut dan tidak suka menghamburkan uang. Itu poin penting yang menunjukkan jika Andini mencintai Eza dengan tulus bukan karena materi.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Eza dan papanya duduk di kursi depan. Sedangkan Andini dan Bu Sonya di kursi belakang. Mereka masih saja asyik mengobrol sambil sesekali tertawa.


Setelah 15 menit, Eza menghentikan mobilnya di depan rumah Rara yang bersamaan dengan dua mobil dari keluarga Rendi.


Mereka keluar dari mobil. Andini langsung berjalan ke dalam rumah dan menuju kamar Rara sesuai pesan Rara di ponselnya.


"Udah siap??" Eza menghampiri Rendi dan merangkul pundaknya. Bagi Eza, Rendi bukan hanya sekedar asisten pribadinya tapi juga sahabat dan saudaranya.


"Deg-deg an bos."


"Oiya barang-barangnya sampai lupa masih di mobil."


"Biar diambil sama Deni saja. Den!"


Deni yang tak lain adalah adik Rendi kini mendekat. "Kamu ambil barang di mobil Pak Eza ya, ajak Vino juga."


Kemudian mereka melanjutkan obrolan, "Makasih ya bos."


"Oke, kan lo sendiri yang minta sponsor."


"Untunglah dana sponsornya masih mengalir sampai acara nikah dan bulan madu."


Satu jitakan mendarat di kepala Rendi. "Kalau bulan madu gak ada sponsor dari gue. Mau enak-enak kok minta sumbangan."


Mereka berdua tertawa lalu masuk ke dalam rumah Rara yang langsung disambut hangat oleh keluarga Rara.


Andini berjalan cepat dan segea masuk ke dalam kamar Rara.


"Dini udah datang? Kamu makin cantik aja."

__ADS_1


Andini tersenyum lalu mencium tangan Bu Eni yang memang sedang berada di dalam kamar bersama Rara.


"Sejak menikah sudah gak pernah ke sini."


"Iya tante, Rara yang sering saya ajak ke rumah."


"Iya, Rara sering cerita soal kamu. Makasih ya, berkat kamu Rara jadi seperti sekarang." Mata Bu Eni berkaca-kaca. Dia sangat bahagia melihat putrinya yang sekarang. Sudah lebih percaya diri, sudah tidak lagi dibully temannya dan sekarang akan mendapatkan pasangan hidupnya.


"Sama-sama tante. Rara kan sahabat saya jadi saya juga ingin Rara bahagia."


"Tante keluar dulu ya. Mau menyambut kedatangan mereka. Nanti kalau sudah, Mama panggil baru kalian keluar." Bu Eni keluar dari kamar putrinya.


"Rara, lo cantik banget." Andini berjalan mendekat lalu memeluk sahabatnya yang sudah siap menerima lamaran Rendi itu.


"Din, gue deg-deg an banget. Banyak gak keluarga Kak Rendi?"


"Lumayan. Ada Mama sama Papa juga." Andini melepas pelukannya lalu menatap Rara dengan mata berbinarnya.


"Orang tuanya Pak Eza juga ikut?"


"Iya. Kak Rendi itu udah dianggap seperti anak sendiri makanya mereka ikut. Udah lo tenang ya. Semua akan berjalan dengan lancar. Tinggal bilang iya aja." Andini tersenyum dengan manis untuk menenangkan perasaan sahabatnya.


"Sayang, ayo acaranya akan dimulai," panggil Bu Eni.


Kini Rara berjalan berdampingan dengan Andini dan Mamanya. Mereka menuju halaman samping rumah Rara yang cukup luas. Ya, acara lamaran itu diselenggarakan secara outdoor karena di dalam rumahnya cukup sempit.


Dada Rara semakin berdebar. Apalagi saat mendapat tatapan dan senyuman dari Rendi. Jantung itu semakin berdetak seperti genderang yang mau perang saja.


Rara kini duduk berdampingan dengan kedua orang tuanya sedangkan Andini duduk di sebelah Eza.


Acara lamaran pun dimulai. Ada kalimat pinangan terlebih dahulu yang disampaikan orang tua Rendi kepada orang tua Rara. Orang tua Rara merestui hubungan mereka tapi semua keputusan mereka pasrahkan pada putrinya.


Kini tiba saatnya sebuah lamaran resmi dari Rendi untuk Rara. Rendi berdiri dia berjalan mendekati Rara. Sudah membawa mic agar sebuah kata-kata indah itu bisa di dengar semua orang yang datang atau mungkin kalau bisa seluruh dunia ikut mendengar ungkapan hati dari seorang Rendi, player yang telah tobat.


"Terima kasih sudah memberi izin pada saya untuk berdiri di sini. Saya..." Rendi menghentikan perkataannya beberapa saat. Dia merasa benar-benar nervous tidak seperti menghadapi para client. Dia ambil napas dalam. Dia kini akan mengungkapkan segala perasaan yang dia rasa..


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu... 🤭


__ADS_2