Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Belum Terlambat


__ADS_3

Setelah rapat dengan kepala sekolah selesai, Eza berjalan menuju tempat parkir. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Andini tapi tak juga ada jawaban.


"Andini kemana? Katanya tadi dia tunggu di depan."


Eza sampai berjalan ke depan gerbang. Dia menoleh ke tempat biasanya Andini naik tapi juga tidak ada. Eza kembali ke dekat mobilnya. Menghubunginya lagi, dan masih tetap sama tidak diangkat oleh Andini.


"Andini kemana?" Eza mulai khawatir. Dia kini membuka google map dan mencari keberadaan Andini lewat ponsel. Dia memang sengaja memasang GPS di jam tangan yang selalu dipakai oleh Andini yang terkoneksi langsung dengan ponselnya.


"Andini ada di gudang atraco? Jangan-jangan ada yang menculik Andini." Eza bergegas masuk ke dalam mobil. Sedetik kemudian mobil Eza melaju dengan kencang meninggalkan area sekolah.


...***...


"Berapa tarif lo di dunia nyata? Angel?"


Andini melebarkan matanya. Darimana Irvan tahu tentang Angel?


"Maksud lo apa? Ternyata lo sama aja kayak Clarissa!"


Irvan tersenyum miring. "Gue gak sama kayak Clarissa karena gue tahu sendiri siapa lo sebenarnya. Angel?"


"Darimana lo tahu soal Angel?" Andini berusaha memberanikan diri walau sebenarnya saat ini dia benar-benar ketakutan.


"Gue? Gue Putra. Cowok yang pernah pakai jasa lo secara virtual."


Andini melebarkan matanya. Putra? Putra yang pernah beberapa kali menghubunginya itu.


"Kenapa? Kaget gue bisa nemuin lo? Gue hacker, gue bisa lacak keberadaan lo."


Andini rasanya semakin benci dengan Irvan. Dia sangat berbeda dengan Eza. Eza tahu tentang dirinya, Eza juga tahu identitas aslinya. Tapi cara Eza tidak seperti ini, bahkan Eza sangat menghargai dia sebagai seorang perempuan.


"Terus lo mau apa?"


"Gue mau pakai jasa lo di dunia nyata."


"Gue bukan cewek BO!!!" Andini mengeraskan suaranya di depan Irvan.


Irvan tertawa sumbang. "Lo gak usah pura-pura di depan gue. Berapa Pak Eza bayar lo? Atau pelanggan lo lainnya? Gue bisa bayar lebih!!"


Plak!!! Satu tamparan keras mendarat di pipi Irvan. "Lo jadi cowok bisa gak ngehargai cewek!!"

__ADS_1


"Iya ini gue kasih lo harga!" Irvan kini mencekal tangan Andini hingga dia tidak bisa berkutik lagi. "Gue udah ajak lo secara baik-baik tapi lo selalu nolak gue. Jadi lo mau ngelakuin dengan cara gue paksa, tenang aja gue bakal kasih lo lebih!"


"Irvan! Lepasin gue!!" Andini berusaha memberontak.


Irvan semakin menghimpit tubuh Andini. "Gue udah lama ingin merasakan lo di dunia nyata."


"Irvan! Lepasin." Andini berusaha menghindar saat Irvan ingin menciumnya.


"Lo diam! Nurut sama gue! Gue gak akan nyakitin lo. Kita bisa senang-senang hari ini dan lo akan dapat bayaran."


"Irvan!! Gue benci sama lo!!" Andini masih terus memberontak sampai dia jatuh tersungkur dengan kepala yang terbentur lantai.


"Jadi mau ngelakuin di bawah aja." Irvan membalik tubuh Andini. Dia kini mengungkung Andini hingga tidak bisa berkutik. Dia cekal kedua tangan Andini ke atas lalu menarik kasar kemeja Andini hingga kancing itu terlepas dari benangnya.


Irvan tersenyum miring saat melihat banyak tanda merah di sekitar dada Andini. "Tanda merah dari siapa? Pak Eza atau cowok lain? Gak usah munafik deh lo!!"


Andini mulai meneteskan air matanya. Dia benar-benar sudah tidak bisa melawan Irvan.


Mas Eza tolong aku...


Tiba-tiba satu tarikan cukup keras berhasil menarik Irvan dari atas tubuh Andini.


"Kamu tahu dengan siapa kamu berhadapan!!!" Eza mencengkeram krah Irvan. Dia sudah babak belur, bahkan mungkin sudah tidak ada kekuatan untuk melawan Eza. "Aku Eza Handoko. Aku bisa aja keluarkan kamu dari sekolah saat ini juga! Dan aku juga bisa buat keluarga kamu bangkrut. Apa kamu gak tahu, Putra Group itu berada dibawah kendali Hans Group."


Irvan sangat terkejut dengan kenyataan ini. Ternyata Pak Eza yang selama ini hanya dia kira seorang guru Matematika biasa adalah seorang yang sangat penting dan berpengaruh dalam bisnis keluarganya.


Eza melepas cengkeramannya dan mendorongnya cukup kuat hingga dia jatuh ke lantai.


"Andini itu istri aku. Kita udah sah secara hukum dan agama. Sekali lagi kamu ganggu dia, aku akan bunuh kamu!"


Eza membuang napasnya kasar lalu dia berjalan mendekati Andini yang sedang mendekap dirinya sendiri sambil bersimpuh di lantai.


Eza melepas blazernya lalu menutupi tubuh Andini dan membawanya dalam pelukan. "Tenang ya. Ada aku di sini."


Andini semakin menangis terisak.


"Udah, jangan nangis..." Eza mengusap punggung Andini yang bergetar berusaha untuk menenangkannya. "Kita pulang ya.." Eza membantu Andini berdiri lalu merengkuhnya sambil berjalan.


"Kamu ingat kata-kata aku!!" ancam Eza lagi saat melewati Irvan yang masih belum beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Setelah masuk dalam mobil, Andini masih saja menangis. Bahkan sepanjang perjalanan isak tangis itu masih kerap kali terdengar.


"Sayang, udah jangan nangis." Eza kembali merengkuh tubuh Andini saat dia berjalan menuju apartemennya.


Setelah sampai di dalam apartemen, Andini duduk di sofa lalu kembali menenggelamkan dirinya di dada bidang Eza.


"Tenang ya. Aku akan selalu ada buat kamu."


"Mas Eza aku ini memang cewek murahan kan?"


"Siapa yang bilang gitu? Sayang udah, jangan terpancing sama omongan Irvan." Eza mengusap rambut Andini yang cukup berantakan itu.


"Mas, ternyata Irvan itu adalah Putra yang pernah menjadi client aku beberapa kali di vcs. Aku gak tahu kalau dia itu Irvan, karena dia sama-sama pakai topeng kayak aku."


Meskipun sedikit terkejut tapi Eza sudah tahu betul tentang masa lalu Andini yang kelam itu.


"Sekarang ada satu orang yang tahu siapa aku sebenarnya. Apa Mas Eza menyesal sudah menikah dengan aku?"


"Kamu tanya apa sih? Aku yang ngejar kamu, jelas aku tidak akan menyesal. Aku juga sudah tahu, kan aku pelanggan kamu."


"Tapi Mas, aku jadi merasa gak pantas buat Mas Eza."


"Sssttt, gak pantas gimana? Kamu terpaksa kan ngelakuin itu semua. Yang terpenting di dunia nyata kamu gak mau disentuh oleh siapa pun dan aku sudah membuktikan sendiri kalau aku jadi orang pertama yang menyentuh kamu." Eza merenggangkan pelukannya lalu menatap Andini yang sudah berhenti menangis. "Kamu tenang ya, aku akan selalu jagain kamu. Mulai sekarang Irvan pasti gak akan ganggu kamu lagi. Kalau dia berani macam-macam atau berani membocorkan rahasia kamu, dia sendiri yang akan menyesal."


Andini menganggukkan pelan. "Makasih ya Mas."


"Sama-sama." Sedetik kemudian Eza mendekatkan dirinya. Mencium Andini dengan lembut hingga perasaan sedih itu menguar dari diri Andini. "Mau tahu cara menghilangkan rasa sedih yang paling mujarab?" tanya Eza setelah melepas pagutannya.


"Apa?"


Eza justru mendorong tubuh Andini hingga dia terbaring di atas sofa. "Ini.."


"Ih, Mas Eza...."


💞💞💞


Ih, Mas Eza gitu deh.. 🤭


Yang mau intip next episode aja.. 😅

__ADS_1


__ADS_2