Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Kehilangan itu Sakit


__ADS_3

Sampainya di rumah sakit, Eza segera berlari menuju IGD sambil menggendong Andini yang sudah tidak sadarkan diri.


"Dokter, tolong istri saya, Dok!" kata Eza dengan sangat panik lalu dia menurunkan Andini di atas brangkar saat seorang Dokter dan dua suster telah mendekat.


"Apa yang terjadi?" Dokter itu mengecek detak jantung Andini.


"Istri saya mengalami pendarahan Dok. Dia sedang hamil."


"Baik. Tolong tunggu diluar ya, Pak."


Eza berjalan keluar dari ruang IGD. Dia sebenarnya ingin tetap berada di samping istrinya tapi demi kelancaran pemeriksaan, Eza menurutinya.


Dia tidak bisa duduk tenang. Hanya bisa berjalan mondar-mandir tak karuan dengan helaan napas dalam beberapa kali. Dalam hatinya terus berdo'a semoga tidak terjadi apa-apa dengan Andini dan kandungannya. Walau kemungkinan itu sangat kecil mengingat usia kehamilan Andini masih begitu muda.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar, Eza langsung mendekat untuk menanyakan keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Ikut ke ruangan saya sebentar ya Pak."


Dengan langkah lemas, Eza mengikuti Dokter itu. Dadanya sudah berdetak tak karuan. Dia harus bisa siap mendengar keadaan terburuk yang terjadi.


Eza kini duduk di hadapan Dokter. Melihat ekspresi Dokter yang sangat serius sambil mengeluarkan beberapa kertas dan diletakkan di dalam map pasti telah terjadi sesuatu yang buruk.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Istri Anda mengalami keguguran karena cidera yang dialami di punggungnya. Usia kandungannya juga masih sangat muda. Mungkin masih kisaran 8 minggu jadi kandungannya masih lemah."


Eza sudah tidak bisa berkata lagi. Dia hanya mampu mendengarkan kalimat Dokter dengan dada yang semakin terasa sesak.


"Kami akan melakukan tindakan kuret untuk membersihkan jaringan yang tersisa di dinding rahim. Jadi saya minta persetujuan dari Bapak." Dokter memberi selembar kertas persetujuan yang harus ditanda tangani Eza. "Tanda tangan di sini Pak."


Dengan tangan yang bergetar Eza menandatangani berkas itu. "Berapa lama Dok prosesnya?"


"Paling tidak sekitar 30 menit. Nanti Anda bisa menemui istri Anda setelah dipindahkan ke ruang rawat."


"Baik Dok." Eza keluar dari ruangan Dokter bersamaan dengan Dokter itu yang akan segera melakukan tindakan kuret.


Eza terduduk dengan lemas di kursi tunggu. Dia tekan kedua ujung matanya yang sudah penuh dengan air mata. Dia sangat menyesal dengan peristiwa ini. Seandainya saja Stefi tidak ada di kantornya, pasti sekarang dia sedang merayakan kebahagiaan bersama Andini. Seandainya saja Andini tidak melindunginya pasti semua tidak akan seperti ini. Kali ini dia benar-benar merasa gagal melindungi Andini.

__ADS_1


Eza mengusap wajahnya yang sudah banjir air mata. Rasa bersalah, menyesal, dan kehilangan semua jadi satu yang membuat dadanya semakin terasa sesak.


Jadi beberapa hari ini kamu sangat manja sama aku karena kamu lagi hamil. Kenapa aku sampai gak sadar dengan perubahan kamu. Andai saja aku tahu, pasti semua gak akan kayak gini.


"Bos??" Rendi kini duduk di samping bosnya yang menangis seorang diri. "Apa yang terjadi?"


"Gue udah kehilangan..."


"Andini kenapa bos??" Rendi ikut panik. Tidak biasanya bosnya yang sangat tegas itu berada di titik lemah seperti sekarang.


"Andini keguguran, Ren."


"Andini hamil?"


Eza mengangguk pelan. "Gue baru tahu hari ini dan hari ini juga gue kehilangan calon anak gue, Ren."


Rendi mengusap bahu Eza untuk mengurangi kesedihan yang dirasakannya. "Sabar Bos. Gue ngerti ini berat."


"Ini salah gue, Ren. Andai saja tadi gue usir Stefi pasti Andini gak salah paham. Andini datang ke kantor untuk memberi kejutan tentang kehamilannya. Tapi justru dia yang terkejut karena lihat Stefi yang tiba-tiba peluk gue, Ren."


Ingin Rendi menimpali pembicaraan Eza tapi dia urungkan. Pasti Eza sedang butuh tempat untuk berbagi cerita.


"Gimana? Mereka sudah ditangkap semua kan? Termasuk Stefi?"


"Sudah Bos. Tapi Stefi terus mengelak. Katanya dia tidak pernah menyuruh mereka untuk melukai fisik."


Eza mengepalkan tangannya. "Gue akan tuntut dia dengan pasal berlapis. Tidak hanya penculikan tapi dia juga sudah membuat Andini keguguran." Eza kembali menghela napas panjang. "Sekarang lo putuskan semua kerjasama dengan Pak Satya! Gue gak mau lagi berhubungan dengan keluarganya."


Perintah Eza berhasil membuat Rendi terkejut. "Apa Bos? Memutuskan semua kontrak kerjasama dengan Pak Satya? Tapi kalau semua kontrak dibatalkan secara sepihak, perusahaan akan rugi sampai 1 milyar bahkan bisa lebih."


"Gue gak peduli, Ren. Uang bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa kembali."


"Iya bos, gue ngerti. Tapi apa tidak dibicarakan dulu dengan Bapak."


Eza berdengus kesal. Dia mengacak rambutnya frustasi. "Kalau Papa tidak setuju, biar gue ganti semua kerugiannya."


"Ganti apa, Za?" tanya Pak Handoko yang saat itu sudah datang bersama istrinya dan mendengar satu kalimat terakhir Eza.


"Aku mau memutuskan semua kerjasama dengan Pak Satya."

__ADS_1


"Eza, pikirkan dulu dengan kepala dingin. Yang melakukan penculikan itu putrinya bukan Pak Satya."


"Sama aja, Pa. Stefi juga ikut andil dalam penanganan proyek itu. Pokoknya aku gak mau lagi berhubungan dengan pembunuh dari calon anak aku."


"Maksud kamu, Za?" tanya Pak Handoko yang memang tidak mengerti keadaan yang sebenarnya. Dia hanya tahu Andini masuk rumah sakit karena diculik oleh suruhan Stefi.


Eza kembali menghela napas panjang. "Andini keguguran, Pa."


"Astaga..." Seketika Bu Sonya duduk di samping Eza. "Jadi Andini udah hamil, Za?"


Eza menganggukkan kepalanya. "Aku baru tahu hari ini Ma, dan hari ini juga aku kehilangan dia." Air mata itu ingin lolos lagi dari mata Eza mengingat kepedihan yang dia rasakan.


Bu Sonya mengusap punggung Eza lalu memeluknya. "Sabar ya sayang. Mama ngerti, pasti kamu sangat sedih."


"Iya Ma. Aku gagal menjaga mereka berdua Ma."


"Udah, jangan salahkan diri kamu sendiri. Mungkin ini belum rezeki kamu."


Pak Handoko kini ikut duduk di sebelah Eza saat Rendi telah berpindah. "Papa ngerti, nak. Harta masih bisa dicari, sedangkan nyawa tidak bisa diganti. Rendi, sekarang kamu urus semua surat pemutusan kontrak kerja. Selesaikan hari ini, biar kamu dibantu sama Tio."


"Iya, Pak. Saya permisi dulu." Mendapat perintah, Rendi yang memang sangat cekatan itu segera undur diri dan mengerjakan tugasnya.


"Papa akan bantu kamu tuntut Stefi agar dia bisa dihukum seberat-beratnya."


"Terima kasih, Pa."


Beberapa saat kemudian suster yang menangani Andini menghampiri mereka. "Tindakan sudah selesai, pasien sudah dipindah ke ruang rawat."


"Ruang VIP nomor berapa sus?" tanya Eza yang kini tengah berdiri.


"Nomor 3."


Eza segera melangkahkan kakinya cepat menuju ruang VIP nomor 3. Dia kini membuka pintu lalu berjalan masuk dan menutup pintu itu kembali. Dia melihat Andini yang sedang terbaring sambil membuang muka ke sisi lain dan menangis.


Hati Eza kembali porak poranda. Dia tidak tega melihat wajah sedih Andini saat ini.


"Sayang, maafin aku." Eza duduk di dekat brangkar lalu mengenggam tangan Andini. "Maafin aku..."


Andini tak juga melihat Eza, dia tetap membuang pandangannya dengan tangis yang semakin terisak....

__ADS_1


__ADS_2