Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Just Kiss


__ADS_3

Andini keluar dari kamar dan melihat Eza yang sedang duduk di atas sofa sambil menatap serius layar laptopnya.


"Hmm, Mas.." panggil Andini setelah duduk di samping Eza.


"Iya." Eza mengalihkan pandangannya dari laptop. Dia kini menatap Andini yang terlihat sangat segar dengan aroma harum yang menguar. Rambut panjang yang basah itu begitu sangat menggoda.


"Barang-barang yang di kamar apa tidak berlebihan?"


"No. Special for you, my wife."


Pipi Andini seketika memerah lagi. Dia kini menatap Eza yang juga sudah terlihat segar dengan rambut basahnya yang sedikit teracak. "Lagi sibuk?"


Lagi sibuk? Pertanyaan itu seolah diartikan lain oleh otak Eza. Oke, kalau tidak sibuk apa Andini mau diajak main-main.


Eza menggelengkan kepalanya mengusir omesnya yang sekarang sering muncul secara tiba-tiba.


"Cuma lagi mengecek keuangan kantor. Kamu lapar? Kalau lapar ada makanan di dapur. Aku ambilin ya." Untunglah mulutnya berkata dengan sempurna tidak menerima perintah dari omesnya. Otak mesum.


Andini menggeleng. "Gak usah Mas. Aku nanti bisa ambil sendiri. Lagian juga masih kenyang."


"Biasanya aku di apartemen ini sendiri. Sekarang udah ada kamu yang nemenin. Makasih udah mau jadi bagian dari hidup aku."


"Sama-sama." Andini kini bersandar sambil melihat Eza yang kembali fokus dengan pekerjaannya.


Tidak ada suara dari Andini. Kelihatannya rasa kantuk mulai menyerang Andini.


"Andini kalau ngantuk tidur di kamar." Kata Eza yang melihat mata Andini sudah tinggal 5 watt.


"Mas Eza biasanya tidur jam berapa?" Andini justru balik bertanya.


"Sebentar lagi." Lagi, untuk kesekian kalinya otaknya mengartikan tidur dengan kata lain.


"Cantik." Eza mengusap pipi Andini dengan lembut hingga membuat Andini semakin terbuai.


Seperti ada magnet yang menarik wajahnya untuk mendekat. Eza semakin mendekatkan dirinya. Bibir tipis itulah tujuan utamanya.


Dia tempelkan bibirnya dengan lembut yang membuat Andini kini melebarkan matanya. Tangan Eza menahan tengkuk leher Andini agar tidak mengelak ciumannya.


Lembut dan hangat. Itu yang dirasakan Andini. Ini pertama kalinya dia merasakan ciuman itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir di dadanya.


Eza mencari celah dengan lembut. Ingin menyusuri manisnya madu dan menyesapnya.


"Oh, my...." pekikan itu membuat Eza melepas pagutannya dari Andini.


"Sorry bos." Rendi berdiri kaku di ambang pintu kamar Eza.


"Lo ngapain di situ!!"

__ADS_1


"Eh, bos lupa. Tadi kan gue numpang ke kamar mandi. Perut gue sakit makanya lama."


Eza memijit pelipisnya sesaat. Setelah Rendi membereskan acara dibawah, dia memang ke tempatnya untuk melaporkan pekerjaan di kantor lalu menumpang ke kamar mandi. Mungkin sangking lamanya sampai Eza lupa kalau masih ada Rendi.


Andini hanya menunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ya udah, balik lo sekarang!" Eza berdiri dan menarik Rendi agar segera keluar dari apartemennya.


"Bisa juga si bos nyipok anak orang."


Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Rendi.


"Aduh bos. Butuh suplemen gak buat nanti malam. Biasanya yang muda-muda gini tuh energinya full, jangan sampai baru satu ronde bos udah tepar."


Satu jitakan lagi melayang ke kepala Rendi. "Ronde apaan. Hem!!"


"Oiya, lupa. Masih nunggu ready. Pepet terus deh bos sampai dapet. Selamat berjuang." Rendi cekikikan sambil keluar dari apartemen Eza.


Eza berdengus lalu menutup pintu apartemennya. Dia membalikkan badannya. Ternyata Andini sudah menghilang dari tempatnya.


"Andini my angel. I will get you..."


...***...


Pagi itu, Andini sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dengan penampilan baru bahkan hampir semua yang melekat di tubuhnya adalah barang baru.


Tok! Tok!


"Andini." terdengar ketukan pintu dan suara panggilan dari Eza.


"Iya Mas. Masuk saja tidak dikunci." suruh Andini karena dia kini sedang menyisir rambutnya.


Pintu terbuka, Eza berjalan sambil menatap Andini. "Belum selesai?"


"Sebentar lagi Mas."


Eza berdiri di belakang Andini lalu mengambil alih sisir yang Andini pegang. "Aku bantu ya." Eza mulai menyisir rambut Andini.


Dada Andini kembali berdebar-debar. Mendapat perlakuan seperti ini dari Eza benar-benar membuatnya salah tingkah.


Gerakan halus dan lembut yang dilakukan Eza di kepalanya berhasil membuat otot-otornya menegang beberapa saat.


"Sudah." Eza meletakkan sisir di atas meja rias. Bukannya pergi tapi dia justru membungkukkan badannya dan menempelkan dagunya di pundak Andini.


Sepertinya Eza benar-benar akan membuat Andini pingsan kehabisan oksigen. Entahlah, kelakuan Eza pagi ini membuat dada Andini sesak. Bahkan gelenyar aneh mulai menjalar dari perutnya saat merasakan napas hangat Eza meniup-niup lehernya.


"Kamu lihat. Kamu itu cantik. Sekarang saatnya jadi Andini yang baru. Andini yang lebih percaya diri dan kuat tidak mudah ditindas. Bahkan kalau Clarissa sudah keterlaluan kamu boleh melakukan sedikit kekerasan sebagai pembelaan diri. Ingat, you're my wife. Istri dari pemilik sekolah."

__ADS_1


"Tapi Mas, aku gak mau..."


"Sssttt.."


Bagaimana Andini tidak langsung terdiam jika saat ini tangan Eza justru melingkar di lehernya. Tolong segera beri tambahan oksigen sebelum saturasinya benar-benar menurun.


"Kamu berhak mendapatkan ini semua. Mulai sekarang, you must fight them."


Andini mengangguk pelan sambil menatap Eza yang berada sangat dekat dengannya.


Bibir manis itu begitu menggoda Eza."May i kiss you?"


Pertanyaan yang sebenarnya tidak menunggu jawaban dari Andini. Eza sudah menahan pipi Andini agar tak menghindar dan melabuhkan bibirnya dengan sempurna. Sangat manis dengan aroma strawberry dari lipbalm yang telah teroles di bibirnya.


Gerakan halus Eza benar-benar meruntuhkan pertahanan Andini.


Eza berhasil mendapat celah. Dia kini berhasil menyusuri lembah madu yang sangat nikmat. Sedikit menyesapnya dan menuntut balasan dari Andini.


Andini merasa tubuhnya sangat ringan dan terbang melayang di udara. Keinginan alami dari tubuhnya merespon lain dari perilaku Eza. Menerimanya dengan terbuka dan bereaksi aktif membalas setiap pagutan itu.


Merasa mendapat balasan, Eza semakin liar saja menjelajah. Tapi sebelum ciuman panas itu berakhir dengan hal lain, Eza menyudahinya dengan satu gigitan kecil.


Andini merasakan bibirnya seolah menebal dan berdenyut hangat. Dia kini menatap Eza yang sedang mengusap lembut bibirnya. Sengatan Eza benar-benar sedahsyat ini. Mampu meluluh lantah tembok pertahanan yang sengaja dia bangun sendiri.


"Maaf, sakit?"


Andini menggelengkan kepalanya.


"Jangan tegang. Just kiss not for another." Eza tersenyum lalu menegakkan dirinya. "Kita sarapan. Sebentar lagi kita berangkat takut telat."


Andini mengangguk lalu mengikuti langkah Eza.


"Hmm, Mas kalau mulai besok aku masak sendiri boleh?"


"Tentu dong." jawab Eza yang kini telah duduk di kursi makan. "Kalau kamu mau masak ya gak papa. Nanti kita beli semua kebutuhannya ya sepulang sekolah."


"Tapi masakan aku gak seenak masakan restoran."


Eza tersenyum. Belum juga mencoba Andini sudah tidak percaya diri. "Apapun yang berasal dari tangan kamu pasti enak."


Andini yang telah duduk di dekat Eza hanya sedikit mencibir. Semakin pintar saja gombalan Eza. Adek jadi melted Mas.


💞💞💞


.


.

__ADS_1


__ADS_2