
Andini menggandeng tangan Eza dengan mesra saat berjalan di dalam mall. Mereka sudah beberapa kali masuk ke dalam butik ternama. Sudah ada beberapa paper bag yang berada di tangan mereka.
"Sayang, belum komplit kalau belum beli ini." Eza menarik tangan Andini menuju pusat underwear di mall itu.
"Eh, hmm.." Baru pertama kali ini Andini masuk ke tempat itu bersama Eza. Ya, walaupun pria di sebelahnya itu adalah suaminya yang sudah tahu betul lekuk tubuhnya, tapi dia masih saja merasa canggung.
"Kamu beli baju renang ya. Di resort ada kolam renang dengan pemandangan yang sangat bagus."
Mereka kini berdiri di depan aneka macam baju renang yang terpajang.
"Warna merah itu kayaknya cocok sama kamu." Eza menunjuk sebuah baju renang yang sangat sexy yang hanya dikaitkan dengan tali temali.
"Mas, itu terlalu dikit banget nutupnya."
"Gak papa. Kan cuma sama aku renangnya. Gak akan ada yang lihat kecuali aku." bisik Eza di dekat telinga Andini yang membuat pipinya seketika memerah. Pikirannya langsung travelling terlebih dahulu mendahului raganya.
"Hmm, iya Mas."
Mereka kembali berkeliling. Eza semakin memilih dengan sesuka hatinya termasuk lingerie-lingerie yang cantik dan sexy.
"Mas ini udah cukup."
"Gak papa. Kamu mau yang mana lagi?"
__ADS_1
"Udah cukup, Mas. Makan yuk Mas, aku lapar."
"Ya udah. Kita ke kasir dulu."
Mereka berjalan menuju kasir tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Eza hingga membuat langkah Andini dan Eza terhenti.
"Eza? Kamu kemana aja sih. Gak pernah ketemu."
Andini menatap bingung pada gadis yang sok akrab pada suaminya itu.
"Kamu ngapain di sini? Mau beli apa?" tanyanya lagi.
"Beliin istri aku." jawab Eza singkat namun sangat menusuk di hati gadis itu.
"Jadi beneran kamu udah nikah?"
"Siapa Mas?" tanya Andini yang sudah sangat penasaran dengan gadis cantik itu.
"Stefi, anaknya Pak Satya. Rekan kerja Papa."
"Oo, yang mau dijodohkan sama Mas Eza itu?"
Eza kini menatap Andini. "Ingatan kamu tajam ya."
__ADS_1
"Dia cantik. Kenapa Mas dulu gak mau?"
Eza menghela napas panjang. Mengapa Andini bertanya seperti itu? Kalau dia mau sudah tentu dia tidak akan menikahi Andini.
Eza membayar barang belanjaannya di kasir. Setelah itu, mereka keluar dari toko. Rupanya Andini masih juga penasaran dengan pertanyaan yang belum Eza jawab itu.
"Mas, pertanyaanku belum dijawab."
Eza menghentikan langkahnya. Lalu menatap Andini sambil meraih semua paper bag yang ada di tangannya walau sempat dilarang oleh Andini. "Karena aku pilih kamu dan kamu jauh lebih baik daripada dia."
"Masak sih Mas. Kelihatannya dia gadis yang menarik."
"Kelihatannya kan? Kamu gak tahu aja sifat asli dia."
"Tapi Mas..."
"Udah ya, jangan bahas orang yang gak penting. Sekarang aku sudah bahagia bersama kamu dan dalam hubungan kita hanya akan ada aku dan kamu." Eza kini merengkuh bahu Andini lalu mengajaknya berjalan. "Kita mau makan dimana?"
"Terserah Mas Eza aja. Mas, paper bag nya mana? Aku bantu bawa." Andini ingin meraih paper bag yang berada di tangan Eza tapi Eza menjauhkan tangannya.
"Tidak usah. Biar aku aja. Kita makan diluar aja ya, jangan di Mall."
"Iya, Mas."
__ADS_1
Mereka turun dari lantai tiga lewat eskalator. Beberapa pasang mata masih saja melihat pasangan yang sangat serasi ini...
💞💞💞