Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Suami Siaga


__ADS_3

Setelah meeting selesai, Eza menyandarkan dirinya sesaat di kursi kantornya. Sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah tapi karena Rendi masih sibuk menyusun berkas, terpaksa dia menunggu sampai Rendi selesai.


"Udah Ren?" tanya Eza. Hanya bertanya saja, tidak ada niatan membantu.


"Sebentar bos. Bos ini gak sabaran banget mau pulang. Oiya sampai lupa mau tanya, gimana hasilnya tadi?" tanya Rendi yang tatapannya tetap fokus dengan berkas-berkas.


Eza tersenyum. "Berhasil."


"Berhasil? Berhasil jadi?"


"Iya. Jadi dua malahan."


Seketika Rendi mendongak. "Weh, kembar maksudnya? Selamat bos, tokcer bener bos gue ini. Ajarin bos, biar top markotop gitu."


"Nikah dulu baru praktek. Jadi kapan lo mau nikah?"


"Tiga bulan lagi. Doa in lancar ya bos."


"Iya, tapi jangan bulan madu jauh-jauh dulu. Nunggu Andini lahiran dulu, soalnya gue mau maksimal jagain istri dan calon anak gue."


Rendi menutup berkas-berkas yang telah tersusun rapi. "Kok gitu bos? Kan ada Tio."


"Tio gak bisa kalau menghandle kantor sendiri. Gue minta tolong ya. Lo bisa buat di apartemen yang gue kasih itu, lebih indah dari pada bulan madu di tempat lain. Percaya sama gue." kata Eza yang memang saat tinggal di apartemen benar-benar merasa indah dan menikmati semua berdua.


"Iya, iya, yang udah pengalaman. Ya udah karena gue kasihan sama bos, gue pending dulu. Gue juga ngerti bos mau jadi suami siaga."


"Nah, gitu. Baru dana sponsor ngalir terus buat lo. Mulai besok gue juga jemput Andini ke kampus sekalian makan siang, soalnya dia gak mau makan kalau gak disuapin."


"Sampai segitunya bos."


Eza menganggukkan kepalanya. "Ada kenikmatan tersendiri Ren, saat menuruti semua keinginannya yang kata orang ngidam itu. Malah rasanya mau jagain sampai 24 jam." Eza tersenyum sambil memikirkan kemanjaan Andini akhir-akhir ini.


"Ikut melted juga. Udah deh, bos pulang aja daripada pikiran bercabang terus gitu."


Eza kini berdiri dan memakai jasnya. "Thank you brother." Eza segera berlenggang keluar dari kantor.


Dia segera menuju tempat parkir dan beberapa saat kemudian, mobil Eza sudah melaju.


Tak butuh waktu lama karena jalanan sore itu cukup lancar, Eza sudah sampai di depan rumahnya. Dia segera turun, rasanya dia sudah tidak sabar bertemu dengan istri tercintanya.


Saat masuk ke dalam kamar, Eza tersenyum melihat Andini yang sedang makan manisan di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


"Mas," Andini tersenyum saat Eza berjalan mendekat lalu Andini meraih tangan Eza dan mencium punggung tangannya. "Kok cepat Mas?"


"Iya." Satu ciuman mendarat di kening Andini. "Udah kangen sama kamu."

__ADS_1


"Ini yang Pak Wawan beli tadi buat aku kan Mas? Banyak banget."


"Iya, sama susu hamil juga dengan rasa yang lengkap. Biar kamu gak bosan."


"Makasih, Mas."


"Sama-sama. Sebentar aku mandi dulu ya." Eza mengusap rambut Andini sesaat lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Andini kembali melihat ponselnya. Sedari tadi dia sedang berbalas pesan dengan Rara. Memberi tahu kabar bahagia itu pada sahabatnya.


"Oiya, baju ganti Mas Eza." Andini meletakkan ponselnya lalu berdiri dan segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


"Sayang, bathrobenya kok gak ada?"


"Oiya Mas, lupa tadi yang satunya di cuci." kata Andini sambil meletakkan pakaian Eza di dekat ranjang. Andini kini membalikkan badannya karena aroma harum itu semakin tercium dengan kuat. "Ih, Mas Eza. Kaget." karena saat Andini membalikkan tubuhnya dia justru menabrak dada bidang suaminya yang tidak tertutup apa-apa. Hanya sebuah handuk yang melilit di pinggulnya.


"Kenapa kaget? Kan tiap hari lihat."


Tiba-tiba saja wajah Andini bersemu merah. Hari itu masih sore, masa iya otak nakalnya sudah bekerja maksimal.


"Kenapa? Pipinya kok merah gini." Eza mengusap lembut pipi Andini.


"Gak papa Mas. Hmm, ini baju ganti Mas Eza." tiba-tiba saja Andini menjadi salah tingkah. Dia membalikkan badannya beralasan mengambil baju ganti yang telah dia siapkan sebelumnya. Perasaannya sekarang memang bisa berubah dengan cepat.


"Main apa?" tanya Andini yang kini sudah mulai terpancing dengan napas hangat Eza yang menyapu telinganya.


"Main bola."


"Ih, emang udah tahu kalau cowok."


"Firasat aja. Kalau cewek ya gak papa. Atau cewek cowok pasti lebih seru."


Andini tersenyum. Dia kini semakin bersandar di dada bidang suaminya.


"Lagi mau itu lagi? Hem?"


Andini menganggukkan kepalanya pelan.


"Suka banget lihat ekspresi kamu yang malu-malu mau gini." Eza mulai mencumbu leher Andini, tangannya mulai bergerak aktif meski masih terbungkus kain.


Andini kini membalikkan badannya, dia mengalungkan tangannya di leher Eza lalu mencium bibir yang menjadi candu itu. Kali ini Andini bergerak aktif menyusuri indera pengecap suaminya.


Gairah Eza semakin berkobar. Dia sangat suka dengan keagresifan istrinya meski dibawah pengaruh hormon kehamilan.


"Mas, sekarang."

__ADS_1


"Yes, baby." Eza mulai melepas seluruh pakaian istrinya. Dengan perlahan Eza merebahkan tubuh Andini di atas ranjang. Dia merangkak ke atas tubuh istrinya dengan handuk yang sudah terlepas sedari tadi.


"Kalau sakit bilang ya. Aku akan pelan-pelan. Kamu nikmati aja ya sekarang jadi pemain pasif."


Andini menganggukkan kepalanya pelan. Dia gigit bibir bawahnya saat Eza telah memasukinya. Menghujamnya dengan lembut hingga terbuai oleh rasa yang sangat memabukkan. Dia nikmati setiap sensasi dari gerakan pelan yang tercipta.


Jari mereka saling terpaut. Sorot mata yang dipenuhi gelora itu saling menatap. Beberapa kalimat cinta terus Eza ucapkan sampai menuju kenikmatan bersama.


"Gak sakit kan sayang? Gak terasa apa-apa kan?" tanya Eza sekali lagi memastikan.


"Ada Mas rasanya."


"Rasa apa sayang? Kram?" Eza menjadi khawatir saat dia telah melepas miliknya.


"Rasanya enak."


Eza justru tertawa lalu dia merebahkan dirinya di sisi Andini. "Kamu bisa aja sih." Eza menarik tubuh Andini dalam pelukannya.


"Mas, keringatan gini? Gak mau mandi lagi? Tuh, udah senja."


"Kenapa?" Kalimat Andini sepertinya adalah salah satu kode. "Mau mandi bareng?"


Andini mengangguk pelan.


"Ya udah yuk!" Eza turun dari ranjang lalu dengan gerak halus dia? mengangkat tubuh istrinya.


"Hmm, Mas tapi nanti habis mandi beli sate madura ya?"


"Oke. Paket lengkap kan? Dimakan di tempat plus disuapin."


Andini mengangguk sambil tersenyum.


💞💞💞


Selamat hari raya Idul Fitri.


Mohon maaf lahir dan bathin ya..


Maafkan jika ada kesalahan kata-kata dari author..


Terima kasih yang sudah mendukung karya ini..


Kasih dukungan ke karya author lainnya yuk. Ada pasangan bucin yang gak kalah seru. lapaknya masih sepi kayak kuburan.


__ADS_1


__ADS_2