
Hari itu, Andini menghubungi Om Roy, Tante Arin dan Arjuna. Mereka sempat terkejut dengan keputusan Andini untuk segera menikah. Tapi Eza menjelaskannya dengan sangat sopan tentang tujuan dan keinginannya yang sebenarnya. Hingga membuat mereka merestuinya dan akan datang ke acara pernikahan sebagai wali Andini.
"Restu udah, surat-surat udah..." Eza duduk di sebelah Andini sambil terus berbalas pesan dengan Rendi agar menyelesaikan semua persiapan pernikahannya.
"Orang tua Mas Eza?" tanya Andini yang membuat Eza seketika mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Semalam aku sudah bilang sama mereka."
"Apa orang tua Mas Eza akan merestui kita? Kalau tidak ya tidak apa-apa."
Eza tersenyum tipis. Baginya kedua orang tuanya adalah orang tua terbaik di dunia yang selalu mendukung semua keinginannya. Keinginan baik tentunya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Papa sama Mama itu baik. Tidak jahat seperti di film-film itu. Mereka udah setuju sama pernikahan kita. Untuk saat ini memang belum bisa balik ke Indonesia. Mereka hanya minta besok untuk video call waktu acara akad."
Andini membalas senyuman Eza. Entahlah, mengapa dia merasa tegang seperti ini. Dia tidak pernah membayangkan akan menikah secepat ini dengan seseorang yang mungkin belum sepenuhnya memiliki hatinya.
...***...
Setelah keluarga Andini datang, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba.
Acara akad nikah akan dilakukan di ruang serbaguna yang berada di lantai dasar dekat taman. Acara itu hanya dihadiri beberapa keluarga Andini dan Eza. Karena sesuai keinginan Andini, dia tidak mau ada pesta berlebihan dan selama masih sekolah status pernikahan mereka harus disembunyikan.
Semua berjalan dengan lancar hanya dengan satu kali mengucap kalimat ijab kabul mereka sudah sah menjadi suami istri.
Senyuman Eza terus mengembang di bibirnya. Akhirnya dia bisa menjadi bagian dari hidup Andini. Andini tidak perlu lagi hidup sendiri, seperti dirinya yang selalu kesepian dalam hidupnya walau dalam kondisi yang berbeda.
Semenjak tadi, dada Andini terus berdebar-debar. Apalagi saat Eza mencium keningnya lalu dia mencium punggung tangan Eza dengan takzim. Ini seperti mimpi. Dulu dia pernah berharap Irvan lah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Oke, tak perlu disesali. Justru inilah awal dari kebahagiaannya.
"Selamat ya sayang. Tante lega sekali akhirnya kamu ada yang jaga di sini. Eza benar-benar orang yang baik. Semoga kalian selalu bahagia ya." Tante Arin memeluk Andini sesaat sebelum mereka pulang.
Mereka semua kini sudah berada di dalam apartemen Eza setelah acara selesai.
"Makasih ya Tante, Om Roy."
Sejak awal bertemu dengan Eza, Om Roy langsung akrab dengannya. Om Roy memang adik kandung Ayah Andini jadi dialah yang menjadi wali Andini.
"Baik-baik ya kalian di sini. Jagain Andini ya. Soalnya dia itu sedikit keras kepala." kata Om Roy dengan tersenyum sambil menepuk bahu Eza.
"Siap, Om. Om menginap di sini dulu kan?"
"Iya, menginap di rumah Andini saja."
"Menginap di sini saja Om sekalian." tawar Eza.
"Tidak usah. Nanti kita mengganggu pengantin baru." Kelakar Om Roy.
"Oiya, maaf Om sekarang kerja dimana?"
"Saya kerja jadi tukang bangunan."
__ADS_1
"Saya punya banyak kenalan di Surabaya. Kalau Om butuh pekerjaan yang lebih bagus, bisa hubungi saya."
"Iya, nanti Om kabari lagi."
"Kak Dini, nanti kalau aku udah lulus SMP, aku sekolah di sini ya." kata Arjuna yang kini sedang duduk di dekat Andini.
"Iya. Nanti bisa tinggal sama kakak."
"Aku bisa tinggal sendiri. Nanti aku juga bisa bekerja sambil sekolah."
Mendengar perkataan Arjuna, Eza menggelengkan kepalanya. Ternyata kakak sama adik sifatnya hampir sama. "Juna, kamu sekarang udah jadi adik aku. Mau tinggal di sini gak perlu bekerja. Fokus sama sekolah kamu. Kamu mau sekolah setinggi apapun itu sudah menjadi tanggungan aku sekarang."
"Hmm, terima kasih Kak Eza. Tapi, aku lebih suka hidup mandiri. No pain no gain."
Eza tertawa mendengar penuturan Arjuna. "Oke, no pain no gain. Bagus.." Eza mengacungkan jempolnya.
"Sudah malam, kami balik dulu ya."
"Iya, hati-hati. Saya pesankan taxi online ya."
"Tidak usah nak Eza. Arjuna sudah order barusan."
"Ya sudah, hati-hati."
Mereka semua keluar dari apartemen Eza. Tinggallah Andini berdua dengan Eza. Andini merasa canggung apalagi kini dia mendapat tatapan dari Eza yang tidak seperti biasanya.
"Cantik."
Hanya satu kata tapi sudah mampu membuat dada Andini berdebar-debar.
Tidakkah merasa dia memang cantik. Riasan natural yang dipadu dengan gaun warna putih itu membuatnya seperti bidadari yang baru turun dari khayangan.
"Eh, ada Mama video call." Eza pindah ke samping Andini dan merangkulnya dengan mesra saat panggilan video itu sudah terhubung.
"Pengantin baru sudah mesra aja. Maaf ya Za, tadi hp Mama lowbath."
"Iya Ma. Tidak apa-apa. Tadi sudah aku kirim rekamannya."
"Cantiknya mantu Mama. Pantes si Eza kekeh mau ngajar di SMA Kusuma, jadi ini incarannya." Terlihat Mama Eza, Bu Sonya mencebikkan bibirnya. "Pilihannya yang gadis belia, anak Pak Satya mah lewat."
"Mama, udah gak usah ngomongin lagi anak Pak Satya yang kayak tante-tante itu."
Andini hanya mengerutkan dahinya.
"Andini sayang jangan cemburu ya. Anak Pak Satya itu, dulu memang mau dijodohkan sama Eza. Tapi tahu kan selera Eza itu yang kayak kamu. Kita sebagai orang tua harus selalu dukung kemauan anak biar selalu bahagia."
"Iya, tidak apa-apa, Ma."
__ADS_1
"Ingin cepat pulang ke Indonesia jadinya. Ingin langsung ketemu sama putri Mama yang ini."
"Papa dimana Ma?"
"Papa lagi ada kerjaan diluar. Besok saja ya biar Papa hubungi kamu langsung. Za, jangan terlalu macam-macam dulu loh. Biar Andini lulus sekolah. Tinggal beberapa bulan lagi kan?"
"Gak janji, Ma." jawab Eza yang dibalas lirikan oleh Andini.
"Iya, gak mungkin sih kamu gak macam-macam. Kamu kan cepat-cepat nikah karena udah kebelet. Udahlah terserah kamu gimana enaknya. Konsultasi ke dokter kalau mau nunda momongan sampai lulus sekolah."
Eza hanya tersenyum penuh arti sambil mengeratkan rengkuhannya.
"Udah ya. Kayaknya udah merah padam itu muka. Baik-baik sayang..."
Beberapa saat kemudian panggilan video terputus.
"Mas Eza gak serius kan soal itu?"
Jujur saja, otak Eza sudah menjarah kemana-mana. Tapi sesuai kesepakatan dia tidak akan melakukan apa-apa sebelum Andini siap.
Eza menggelengkan kepalanya. "Kamu tenang aja. Aku akan nunggu kamu sampai siap."
"Hmm, aku mau ke kamar mandi. Kamar aku dimana?"
Eza tersenyum sambil melepas rengkuhannya. Dia menunjuk dua pintu kamar yang tertutup. "Yang kanan kamar aku, yang kiri kamar kamu. Tapi kalau kamu mau tidur di kamar aku, pintu itu akan selalu terbuka buat kamu."
Pipi itu tak berhentinya bersemu merah. "Barang-barang aku ada di dalam kan?"
"Iya, barang-barang penting kamu termasuk buku-buku sekolah kan sudah dibawa. Yang lain kamu cek sendiri ya." Eza masih saja mengulum senyum.
Kini Andini berdiri dan melangkah pelan. "Aku ke kamar dulu ya."
"Oke. Kalau ada perlu apa-apa tinggal panggil aku."
Andini hanya balas tersenyum. Dia masuk ke dalam kamarnya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar yang cukup luas dengan lemari yang besar lengkap dengan meja rias dan meja belajar. Sudah ada laptop dengan tipe keluaran terbaru juga di atas meja belajarnya.
"Mas Eza sudah nyiapin ini semua." Tangannya kini beralih menuju lemari yang cukup besar. Di dalamnya sudah banyak pakaian baru untuk dia. "Baju-baju ini baru semua. Pantaslah kemarin aku gak boleh bawa banyak baju. Tas dan sepatu. Branded semua."
Andini menelan ludahnya berkali-kali. Dia membayangkan berapa nominal yang dihabiskan untuk membeli barang ini semua. "Harusnya gak perlu berlebihan seperti ini." Dia kini beralih pada meja rias dengan cermin yang cukup besar. Sudah lengkap dengan aneka make up.
Lalu dia berjalan menuju kamar mandi. Kamar mandi mewah, lengkap dengan bath up dan shower. Berbanding terbalik dengan kamar mandinya di rumah yang hanya menggunakan bak mandi.
Mata Andini kini tertuju pada beberapa botol yang berdiri di dekat bath up. Sabun, shampo, skin care dan beberapa perawatan lainnya dari merk ternama. Lalu tak jauh dari sana ada facial wash dan berbagai perawatan wajah lainnya di dekat cermin washtafel.
Ini semua seperti mimpi buat Andini.
...***...
__ADS_1