
Pagi itu di kantor, Eza menguap beberapa kali sambil menatap layar laptopnya. Semalam tidurnya tidak nyenyak karena menjaga Andini yang terus mengeluh sakit pinggang. Rasanya dia ingin menemani istrinya di rumah sepanjang hari. Sekarang jika dia tinggal kerja, siapa yang akan mengusap pinggang istrinya atau membantunya ke kamar mandi? Eza sudah tidak fokus lagi bekerja untuk saat ini dan terus memikirkannya.
"Rendi masuk apa gak? Udah hampir jam 10 masih gak ada tanda-tanda. Haduh, aku kepikiran yang di rumah terus."
Beberapa saat kemudian Rendi masuk ke dalam ruangan Eza. Dia kini duduk di depan Eza dengan wajah yang masih terlihat pucat.
"Akhirnya lo masuk juga. Sakit apa lo sampai pucat gitu. Makanya jangan terlalu sering lakuin, ingat waktu."
Rendi sedikit tersenyum. "Iya, udah ketularan bucin kayak bos. Gue juga gak tahu tumben banget kena asam lambung. Udah berobat tapi masih aja perut gak enak gini."
Eza tak menimpalinya, dia kini justru menguap lagi sambil meregangkan otot-ototnya.
"Bos keliatan lelah banget. Kurang tidur?"
"Biasa Ren, jadi suami siaga. Hampir tiap malam Andini udah gak bisa nyenyak tidurnya. Badannya udah mulai pegal semua. Makanya lo cepat sehat, bentar lagi gue mau fokus buat lahiran anak gue."
"Aduh bos. Maunya ya sehat. Tapi gimana lagi nih badan loyo gini. Mual terus. Ini aja gue gak bawa mobil takut pusing di jalan."
"Udah kayak orang ngidam aja lo." tiba-tiba saja Eza menghentikan pekerjaannya dan menatap Rendi. "Jangan-jangan lo hamil."
"Gue hamil?"
"Maksudnya istri lo."
"Ah, masak sih. Rara gak ngerasain apa-apa. Dan gue juga udah periksa kata dokter asam lambung."
"Ya mungkin aja. Coba cek."
Rendi berpikir sejenak. "Emang ada istrinya hamil tapi suaminya yang ngidam?"
"Ya mungkin karena saking bucinnya lo."
Beberapa saat kemudian ada sebuah ketukan pintu yang menjeda obrolan kedua bapak itu.
Setelah dipersilahkan masuk, Tio masuk dengan membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani Eza.
"Tio, kebetulan kamu ke sini. Kamu beli kopi di depan ya?" Eza meraih berkas yang ada di tangan Tio.
"Tidak buat di pantry saja, Pak."
"Wah, penolakan secara halus ini," kata Rendi yang kini menyandarkan dirinya.
Tio hanya menggaruk rambutnya. Bukannya dia tidak mau tapi pekerjaannya masih banyak.
"Ya sudah kamu suruh Astri saja."
"Gue titip rujak manis sekalian ya. Bilang ke Astri, pokoknya harus dapat. Kalau di depan gak ada suruh pesan grab food, go food, atau shopee food."
__ADS_1
Eza dan Tio kini menatap Rendi. "Fix lo lagi ngidam."
Rendi masih saja tidak percaya. Bisa ya seperti itu?
"Mending nanti lo cek aja dulu bener gaknya," kata Eza sambil melihat berkas-berkas yang ada di tangannya.
Senyum Rendi mengembang. "Semoga aja bener ya bos."
"Tio, kamu hari ini tolong lembur ya. Aku sama Rendi mau pulang cepat." Eza menutup berkas-berkas itu setelah dia tanda tangani.
"Tuh, Tio mumpung lo masih muda dan belum nikah yang giat kerjanya. Nanti kalau lo udah nikah pikiran sama tenaga lo terbagi dua. Udah gak betah di kantor lama-lama."
Tio hanya tersenyum menanggapi dua bos yang sekarang terlihat lesu itu.
"Ya sudah kamu kembali ke ruangan ya." Eza mengembalikan berkas-berkas yang sudah selesai dia tanda tangani.
"Jangan lupa pesanannya," kata Rendi saat Tio akan keluar dari ruangan itu.
Eza kembali menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya. Dia kini memejamkan matanya sesaat agar mengantuknya bisa sedikit hilang.
Sedangkan Rendi justru menyandarkan kepalanya di meja. Badannya terasa lemas tak bertenaga.
Setelah 30 menit lebih, pesanan mereka akhirnya datang. Astri masuk ke dalam ruangan Eza karena sedari tadi ketukan pintunya tidak terdengar. Dia tersenyum melihat dua bosnya yang tertidur.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Eza akhirnya terbangun.
"Maaf Pak. Ini pesanannya. Ini rujak manis untuk Pak Eza dan kopi untuk Pak Rendi."
Rendi kini langsung terbangun dan segera mengambil rujak manis itu.
"Maaf, saya kira Pak Eza yang ngidam karena istrinya lagi hamil."
"Tuh Rendi yang ngidam," kata Eza yang mulai meneguk pelan kopi yang masih panas itu.
"Selamat ya Pak Rendi."
Rendi yang sudah melahap rujak itu menggelengkan kepalanya. "Masih belum cek. Eh, emang bener ya ada istrinya hamil yang ngidam suaminya?" tanya Rendi pada Astri, dia harus mencari info yang lebih akurat daripada nanti menyalahkan praduga.
"Ada, Pak. Kakak saya dulu juga seperti itu. Yang ngerasain ngidam suaminya. Jadi istrinya gak ngerasain apa-apa."
"Bagus Ren. Jadi Rara gak perlu ngerasain mual, pusing dan segala macamnya. Lo aja sebagai cowok yang ngerasain sampai kayak gini apalagi cewek. Gue aja kasihan lihat Andini dulu yang sering mual dan gak mau makan. Kalau bisa sih gue yang ngerasain."
"Iya, betul banget bos. Biar gue ngerasain sakit kayak gini yang penting Rara sehat."
"Bucin banget lo sekarang."
Astri hanya tersenyum mendengar obrolan kedua bapak itu yang sangat sayang dengan istrinya.
__ADS_1
"Astri, hari ini tidak ada rapat kan? Saya sama Rendi mau pulang cepat. Nanti kalau ada hal penting langsung hubungi saya ya."
"Iya Pak. Saya permisi dulu."
Eza terus melihat sahabatnya yang masih makan dengan lahapnya. Ternyata yang dulunya seorang player sekarang menjadi seorang yang penyayang istri.
"Bos, nanti antar gue ke apotik ya. Gue gak bawa mobil."
"Iya."
Saat istirahat siang, kedua orang ini akhirnya memutuskan untuk pulang.
Eza menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam apotik karena Eza sekalian mau membeli susu untuk Andini.
"Mbak," kata Rendi di depan petugas apotik. "Beli testpack nya tiga."
Petugas yang masih muda dan cantik itu menatap Rendi sesaat lalu tersenyum. "Mau merk apa Pak? Ada banyak merk."
"Yang paling akurat saja."
Petugas itu mengambil tiga testpack dengan merk yang berbeda. "Ini Pak. Saya kasih merk yang berbeda saja ya Pak agar terdeteksi semakin akurat dan ada perbandingannya."
"Iya Mbak."
"Kehamilan anak pertama Pak?"
"Iya," jawab Rendi sambil mengeluarkan dompetnya.
"Apa ada lagi Pak?"
"Sama susu untuk ibu hamil mbak. Prenagen semua rasa," kata Eza yang berada di sebelah Rendi.
"Prenagen emesis, Pak?"
"Bukan, yang mommy."
"O, saya kira istrinya sama. Eh, maksudnya mau belikan untuk bapak ini."
Kedua bapak itu hanya menggelengkan kepala. Lalu tangan Eza mengambil manisan mangga kering yang ada di atas etalase. "Ini tinggal satu?"
"Iya tinggal satu."
Tiba-tiba saja Rendi mengambil jar itu dari tangan Eza. "Manisan mangga? Buat gue bos."
"Ini kesukaannya Andini." Mereka saling berebut beberapa saat.
"Ya udah buat lo." Eza akhirnya mengalah daripada mengundang perhatian manusia yang ada dalam apotek itu. "Mbak jadikan satu ya pembayarannya."
__ADS_1
"Lo yang bayar!!" kata Eza sebelum membalikkan badannya dan pergi.
"Nah, loh, malah anak buahnya yang suruh bayar." Rendi menggaruk kepalanya. Gara-gara manisan mangga dia juga harus membayar belanjaan bosnya.