Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
I Love You Ever Lasting


__ADS_3

"Rayn, masih mau main ya? Tuh Adek udah bobok."


Malam itu Rayn masih asyik berceloteh dan bermain air liurnya di pangkuan Andini. Tak terasa sudah tiga bulan usia si kembar. Mereka sudah bisa tertawa jika di ajak berbicara, sudah mulai belajar tengkurap, dan satu hobi barunya yaitu memasukkan tangan ke dalam mulutnya sambil memainkan air liur.


"Sayang, Rayn belum tidur?" tanya Eza setelah membersihkan dirinya di kamar mandi.


"Belum Mas. Masih mau main. Liat nih, masih ketawa-tawa gemes."


Eza meraih Rayn lalu menciumi pipi gimbul itu sampai dia tertawa geli. "Mumpung adek bobok mau manja-manja dulu ya sama Bunda sama Ayah. Biasanya kalau adek bangun Rayn yang ngalah." Eza kembali menciumi pipi bulat seperti bakpau itu. "Anak pintar."


Andini selalu bahagia melihat interaksi keduanya.


"Mas aku mau rangkum materi dulu ya." Andini kini berjalan dan duduk di meja belajar.


"Kalau capek kamu tidur aja sayang," kata Eza yang kini mulai menimang Rayn.


"Masih jam 8 Mas. Mungkin cuma 30 menit. Aku juga mau kebut materi yang ketinggalan."


"Ya sudah. Setelah lulus kamu jadi buka usaha apa? Toko roti? Atau masakan?"


Andini menghentikan gerakannya beberapa saat. Dia nampak berpikir. "Toko roti sih kayaknya Mas. Aku mau bekerja sama dengan Rara."


"Nanti buka pabrik roti ya sekalian."


Andini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Suaminya itu memang sangat fantastik. "Dikenalkan dulu ke pasaran Mas, baru kalau permintaan konsumen bertambah pesat nanti bisa buka pabrik."


"Oke, gampang itu. Kamu kan jadi istri hemat banget. Bisalah tabungan belanja buat buka pabrik roti."


Andini semakin terkekeh. Dia sendiri tidak tahu berapa saldo di ATM hitamnya itu karena Eza lebih sering memberinya uang cash sekarang.


"Sssttt, Rayn udah tidur." Eza menurunkan Rayn secara perlahan di samping Ryan. Lalu menyelimuti mereka berdua. Dia kini berjalan mendekati Andini dan duduk di sampingnya. Tangannya kini memeluk melingkari perut Andini.


"Mau dibantu?"


Andini melirik suaminya sesaat lalu melanjutkan tulisannya. "Memang Mas Eza bisa materi boga?"


Eza tertawa kecil. "Aku bisanya itung-itungan. Tapi aku gak bisa hitung cinta aku ke kamu soalnya cintaku itu tak terhingga buat kamu."


"Ih, gombalnya kambuh."

__ADS_1


"Mumpung anak-anaknya tidur." Eza kini menenggelamkan bibirnya di leher Andini yang selalu membuat candu baginya.


Sepertinya Andini harus segera menyelesaikan tugasnya. Hangat napas Eza di lehernya mengirim sebuah signal tersendiri di tubuhnya.


"Hmm, Mas..."


"Hem?" Eza melepas usapannya di leher istrinya. Lalu dia melihat gerak cepat tangan Andini menutup buku-bukunya.


"Mas, tumben tahan sampai tiga bulan?"


Eza tersenyum kecil lalu semakin meraih tubuh itu dalan pelukannya. "Sebenarnya ya gak tahan sayang, tapi aku gak mau buat kamu capek setelah sakit. Aku masih trauma banget lihat kamu hampir gagal napas kayak gitu. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku, Rayn, dan Ryan membutuhkanmu."


Andini tersenyum lalu menenggelamkan dirinya di dada bidang Eza. "Mas kalau mau gak papa. Gak usah di tahan."


Eza kini mengusap rambut Andini dengan lembut. "Ya sudah, besok ke klinik ya buat konsultasi kb yang cocok buat kamu. Kita besarkan Rayn dan Ryan dulu."


Andini menganggukkan kepalanya.


"Tapi sekarang gak papa pemanasan dulu."


Mendengar kalimat Eza, Andini tersenyum. Rupanya suami nakalnya telah kembali seperti semula.


Eza meraih tubuh istrinya dan memangkunya. Dia menelusuri leher jenjang yang manis itu. Menjejaki dan menyesapnya untuk membuat mahakarya yang telah lama tidak tercipta.


Tangannya mulai membuka daster berkancing depan itu. Dia melewati kedua benda yang menjadi hak milik kedua putranya selama dua tahun. Tangannya kini singgah di bawah perut. Membelai sesuatu yang sudah tiga bulan lebih tidak dia belai.


Andini hanya memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya merasakan jari suaminya yang bermain aktif di bawah sana.


"Sudah basah," ucap Eza dengan erotis di dekat telinganya. "Mau main dikeluarkan diluar atau pakai pengaman?"


Andini membuka matanya lalu menatap suaminya. "Memang Mas Eza punya?"


"Sudah aku siapkan sebulan yang lalu sebenarnya, tapi nunggu waktu yang tepat aja dan baru sekarang."


"Terserah Mas Eza saja."


Eza mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir itu. Memagutnya dalam. Menyesap dan menggigit kecil yang membuat Andini bagai di atas awan.


"Pakai pengaman aja ya. Takut telat angkat."

__ADS_1


Eza menggendong Andini lalu dia rebahkan di atas sofa. Dia ambil alat pengaman itu dan diletakkannya di dekat sofa. Dia ingin bermain dulu di atas tubuh Andini sebelum benar-benar menyatukan dirinya.


Hawa panas begitu terasa memenuhi kamar itu. Kedua wajah itu sudah dipenuhi dengan gairah.


"Sekarang aja Mas. Keburu mereka bangun."


"Keburu bangun atau udah gak tahan?"


"Dua-dua nya." jawab Andini malu-malu.


Eza memasang pengaman terlebih dahulu lalu dengan perlahan dan lembut dia menyatukan dirinya. Sangat mendebarkan seolah ini adalah pertama kalinya.


Andini mengalungkan tangannya di leher Eza. Dia terus gigit bibir bawahnya agar suara kenikmatan itu tidak lolos dari bibirnya.


Dia semakin mencengkeram punggung Eza saat Eza semakin menambah tempo gerakannya. Dengan suara tertahan, dia mencapai puncak pelepasan yang pertama.


Eza masih menikmati permainannya tanpa melihat waktu.


Beberapa saat kemudian terdengar suara Ryan menangis kecil.


"Mas, Ryan bangun."


Eza menghela napas panjang lalu melepas dirinya. Lagi enak-enaknya justru dilepas.


"Padahal kurang sedikit lagi." Dia kini menuntaskan sendiri sambil melihat Andini yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyamanya.


Andini hanya tertawa sambil memberi ASI pada Ryan. "Mas sih kelamaan. Sampai satu jam lebih."


Setelah berhasil menuntaskan sendiri, Eza ke kamar mandi lalu memakai bajunya. Dia kini duduk di sebelah Andini dan mencium pipinya.


"I love you ever lasting..."


.


.


..._SELESAI_...


💞💞💞

__ADS_1


Thank you yang sudah mengikuti cerita ini.. 😘


__ADS_2