Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Sebenarnya Siapa?


__ADS_3

Andini kini mengikuti Pak Eza di belakangnya sambil meremas tangannya sendiri karena sedang ketakutan membayangkan hukuman apa yang akan diberikan Pak Eza. Pelajaran Matematika memang tidak dia sukai tapi tidak seharusnya kan dia sampai ketiduran di kelas. Ini sangat buruk. Bahkan dia hanyalah seorang siswi biasa yang seharusnya sangat patuh dan taat jika berada di sekolah.


Andini kini berbelok ke ruang guru tapi justru Pak Eza memanggilnya. "Kenapa kamu mau masuk ke sana? Ikut saya."


"Eh..." Andini mengernyitkan dahinya. Bukankah katanya ikut ke ruangannya. Ruangan guru kan maksudnya atau Pak Eza mengajaknya ke ruang BP. Jadi masalah bisa semakin besar kalau sampai bertemu dengan guru kesiswaan. Andini menurut saja. Dia kini kembali mengikuti langkah Pak Eza.


Pak Eza menghentikan langkahnya di depan pintu yang tertutup. "Masuk!" suruh Pak Eza setelah membuka pintu itu.


Andini semakin bingung. Ruangan itu biasanya digunakan untuk rapat pemilik yayasan sekolah dan para donatur lainnya. Mengapa dia disuruh masuk ke tempat itu?


Andini melangkahkan kakinya ragu. Pikiran buruk tiba-tiba singgah di kepalanya. Jangan-jangan Pak Eza mau mesum?? Hah, sekarang kan banyak kasus kayak gitu. No, no. Kenapa tiba-tiba gue mikir buruk gini sih. Aduuhh, gue jadi takut...


Pak Eza yang berdiri di dekat pintu menatap Andini yang masih saja berjalan pelan.


"Cepat duduk sana. Jangan sampai hukuman kamu saya tambah."


"I-iya Pak." Andini segera melangkah dan duduk di salah satu kursi di dekat meja panjang untuk meeting.


Pak Eza menutup pintu lalu duduk tak jauh dari Andini.


Andini hanya menundukkan pandangannya karena dia sangat takut. Takut jika Pak Eza akan melakukan hal diluar batas wajar seperti kebanyakan kasus yang pernah dia dengar.


"Siapa nama kamu?" tanya Pak Eza.


"Andini, Pak." jawab Andini yang masih saja menundukkan kepalanya.


"An-di-ni..." Ucap Pak Eza seperti sedang mengeja. Dia tersenyum simpul menatap Andini yang sedang ketakutan. Ck, sangat berbeda.


Sampai beberapa menit Pak Eza masih terus menatap Andini lalu secara perlahan tangannya terulur menuju gagang kacamata Andini dan melepasnya.


Andini terkejut, seketika dia menatap Pak Eza yang sedang tersenyum padanya. Senyumannya sangat manis. Tapi dipikiran Andini itu adalah senyuman menyeringai yang lengkap dengan pikiran kotornya.


"Maaf, jika sudah tidak ada keperluan saya permisi ke kelas." Andini akan mengambil kacamatanya tapi dengan cepat Pak Eza menjauhkan tangannya.


"Tunggu dulu."


Deg!! Detak jantung Andini semakin tak beraturan. "Kalau Bapak mau beri hukuman, iya saya siap menerimanya. Tapi Bapak jangan macam-macam."


"Ck, lucu..." gumam Pak Eza sambil mengulum senyumnya lalu kembali memakaikan kacamata Andini.

__ADS_1


Andini langsung menyambar gagang kacamatanya agar tangan Pak Eza menyingkir dari wajahnya.


"Ya sudah, kamu kembali ke kelas. Jangan ketiduran lagi. Belajar yang rajin biar pintar."


Andini semakin bersengut. Memangnya dia tidak pintar? Ya, emang sih. Dia mendapat beasiswa di sekolah itu juga bukan karena prestasi akademik ataupun non akademik tapi karena dia anak yatim piatu.


"Iya, Pak." jawab Andini yang masih menundukkan pandangannya. "Saya permisi." Lalu dia keluar dari ruangan itu meninggalkan Pak Eza yang masih saja tersenyum.


...***...


Siapa ya Pak Eza itu sebenarnya. Masak iya sih, Pak Eza itu Hans. Suara dan wajahnya benar-benar mirip. Tapi mana mungkin...


Andini menopang kepalanya di atas meja. Pikirannya sibuk membandingkan antara Hans dan Pak Eza.


"Lo gak beli apa-apa?" tanya Rara yang sudah membawa semangkok baksonya.


Andini menggelengkan kepalanya.


"Mau bakso? Gue beliin ya?" tawar Rara. Dia memang seringkali ingin menraktirnya tapi Andini selalu menolaknya.


"Gak usah. Makasih. Gue gak lapar kok." Andini kini meminum air mineralnya untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering.


"Aku gak pesan mbak. Rara kamu yang beliin?"


"Nggak. Kan aku kalau mau beliin kamu tanya dulu takutnya kamu marah."


Semangkok bakso sudah diletakkan di atas meja tanpa lagi menunggu persetujuan dari Andini.


"Tapi mbak aku gak pesen..."


"Udah, itu buat mbak Andini kok." Mbak Santi berlalu tanpa lagi mendengar Andini.


Andini hanya menatap semangkok bakso itu.


"Rezeki jangan ditolak. Makan aja." kata Rara dengan mulut yang penuh.


Akhirnya Andini mendekatkan semangkok bakso itu lalu mengambil sambal, saus, dan kecap dengan perpaduan yang pas dan mulai melahap bakso itu sambil sesekali masih mengobrol dengan Rara.


Dari kejauhan, ada seseorang yang menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Pak Eza?" sapaan itu sedikit membuatnya terkejut.


Pak Eza kini menatap seseorang yang berdiri tak jauh darinya. "Bu Isti."


"Pak Eza mau makan di kantin juga?"


Pak Eza menggelengkan kepalanya sambil membalikkan badannya. "Tidak. Saya cuma mau lihat-lihat saja." Dia berjalan perlahan dan berniat kembali ke kantor yang ternyata diikuti oleh Bu Isti.


"Pak Eza mengapa mau mengajar matematika di sini? Bukankah Pak Eza itu..."


Pak Eza hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pertanda kalau Bu Isti tidak boleh melanjutkan pertanyaannya.


"Maaf, Pak."


Setelah sampai di ruang guru, Pak Eza duduk dan masih melanjutkan obrolannya dengan Bu Isti. "Saya cuma mau tahu keadaan sekolah ini." jawab Pak Eza sekenanya. "Hmm, Bu Isti apa murid di sini sering melakukan perundungan terhadap temannya sendiri."


"Iya, terkadang mereka memang berlebihan. Saya sampai kasihan terutama sama Andini. Dia memang anak yatim piatu dan kurang mampu. Selalu dapat perlakuan tidak adil dari temannya."


"Mengapa tidak ada sanksi dari sekolah agar perundungan itu tidak terjadi lagi." Pak Eza semakin mengulik informasi.


"Iya. Kami sebenarnya serba salah. Yang melakukan perundungan itu seringkali dilakukan oleh putri dari Pak Heru yang bernama Clarissa itu."


Pak Heru? Ini pasti Pak Heru salah satu donatur tetap di sekolah ini.


"Pak Heru tahu tingkah laku putrinya di sini?"


"Saya kurang paham, Pak. Yang jelas kami semua tidak berani bertindak lebih."


"Ya sudah. Mulai sekarang biar saya yang tangani masalah ini. Saya tidak mau terjadi perundungan lagi di sekolah ini."


Bu Isti sedikit mengerutkan dahinya, alasan apa yang membuat Pak Eza begitu antusias mengatasi masalah ini?


"Tapi kalau Pak Heru menghentikan dana donasinya bagaimana?"


"Saya kenal Pak Heru. Beliau tidak mungkin berpikir serendah itu. Kalau memang nantinya Pak Heru memilih untuk mundur, ya saya bisa cari donatur lain."


Bu Isti mengangguk patuh. Lalu kembali duduk ke mejanya.


Sedangkan Pak Eza justru memikirkan sesuatu sambil mengetuk-ngetuk mejanya dengan bulpoin.

__ADS_1


Andini? Ck, justru kamu kan yang tidak mengenali aku...


__ADS_2