Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Kamu Harus Bisa Lawan Dia


__ADS_3

Baru saja Andini menghentikan perkataannya, Clarissa dan kedua temannya sudah menangkap basah mereka berdua.


"Pak Eza, Andini? Kalian berangkat bareng ke sekolah?" tanya Nova yang memang tidak bisa menjaga bicaranya ketika melihat sesuatu yang mengejutkan.


Andini tak menjawab dia justru melangkah cepat.


"Saya berangkat naik angkot. Kenapa ada masalah?"


"Tidak Pak." jawab Clarissa lalu menarik kedua sahabatnya agar segera menjauh dari Pak Eza.


"Lo ngapain tanya gitu sih sama Pak Eza?"


"Iya, lagi-lagi rem gue rusak. Habis gue curiga sama Pak Eza."


"Ya sama. Udahlah kita bahas Pak Eza ntar aja. Kita lihat si cupu kenapa dia balik lagi ke wujud asli." Mereka bertiga berjalan mengejar Andini. Tapi tiba-tiba terhenti saat melihat Irvan telah lebih dulu mendekatinya.


"Andini!" panggilan itu membuat Andini memelankan langkahnya.


"Iya?"


"Lo kemarin kemana? Gue cariin tapi gak ketemu."


"Oo, gue pulang." jawab Andini singkat.


Sedangkan Irvan masih terus menatap Andini sambil mengernyitkan dahinya. Ya, mungkin dalam hatinya berkata kenapa Andini kembali ke wujud aslinya? Atau mungkin Andini kembali jelek lagi sekarang.


"Gue ngerti, Clarissa memang keterlaluan sama lo. Jangan dimasukkan hati. Lo berhak kok berpenampilan seperti mereka."


Andini hanya terdiam. Harusnya dia senang diperhatikan oleh seseorang yang diam-diam dia sukai. Tapi entah perasaan itu sekarang menguap kemana.


Andini hanya terdiam sambil berjalan menuju kelas.


"Loh, Cinderella kenapa bisa kembali jadi upik abu. Sihirnya udah habis ya."


"Pangeran, tolong bawa ke istana biar jadi Cinderella. Jangan biarin jadi upik abu kayak gini."


Mereka tertawa riuh. Para teman lelaki yang selalu bersantai di depan kelas sebelum bel sekolah berbunyi.


Andini hanya menundukkan pandangannya. Dia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai dalam kelas. Sedangkan Irvan malah gabung bersama mereka.


Dari kejauhan, Clarissa tersenyum miring. Sepertinya dia tengah merencanakan sesuatu.


...***...


Andini menghela napas panjang saat bel pulang sekolah telah berbunyi. Dia mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.


Saat dia melangkahkan kakinya keluar dari kelas diurutan terakhir, tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Andini." Terlihat Eva, murid dari kelas sebelah menghampirinya dengan tergesa. "Lo dipanggil Bu Isti ditunggu di ruang teater."


"Ada apa?"


"Gak tahu. Katanya lo tunggu aja di atas panggung. Mungkin mau bahas soal drama." Setelah itu Eva berlalu.

__ADS_1


Bahas soal drama? Tapi kenapa gue aja.


Meski ragu, Andini membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang teater. Dia membuka pintu ruangan itu. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa.


Andini melangkah masuk ke dalam dengan ragu. Baru beberapa langkah, dia mengurungkan niatnya dan akan kembali keluar. Tapi kini tangannya dicekal oleh seseorang dengan kuat dan menariknya mundur hingga pintu teater berhasil ditutup.


"Mau apa kalian?"


Clarissa tersenyum devil. "Kenapa dandan cupu lagi? Gak ada uang buat melanjutkan perawatan. Kasian."


Andini berusaha melepas tangannya.


"Gue peringatin sekali lagi. Jauhi Irvan!!"


"Gue gak pernah dekati Irvan."


"Jadi lo pikir Irvan yang deketin lo! Cih, percaya diri lo terlalu tinggi."


Emosi Andini seolah semakin dipancing. Andini mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari Nova dan Sasa. Dia semakin berontak lalu menginjak dengan keras kaki Nova dan Sasa hingga membuat tangannya berhasil terlepas. Dia kini membuka pintu dan segera keluar dari ruang taater.


"Heh!! Kurang ajar lo!" Mereka segera mengejar Andini.


Andini semakin mempercepat langkah kakinya. Dia memilih jalan pintas menuju gerbang sekolah. Melewati tangga yang berada di samping teater.


"Andini!!" Clarissa berhasil menarik tangan Andini hingga terjadi tarik menarik.


"Lepasin!" tapi sayang saat dia berhasil menarik tangannya, kaki kirinya terpeleset hingga membuatnya terjatuh dari tangga.


"Aw, kaki gue sakit banget." Andini berusaha bangun tapi kaki kirinya sangat sakit, bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali. Dia hanya bisa duduk dengan tumpuan tangannya. "Gimana ini? Gak mungkin ada orang yang lewat sini." Andini terus berusaha berdiri tapi dia tetap tidak bisa menahan rasa sakit itu.


"Andini." Suara itu kini begitu dekat di telinga Andini.


"Pak Eza." Ada perasaan lega di hati Andini saat melihat kadatangannya. Seseorang yang seolah punya alarm tersendiri saat Andini sedang berada dalam kesusahan.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Eza dengan panik dan sudah berjongkok di samping Andini.


"Kaki saya sakit sekali."


"Yang ini?" tanya Eza sambil memegang kaki kirinya.


Andini menganggukkan kepalanya. Dia hanya diam saja saat Eza melepas sepatu dan kaos kakinya.


"Udah merah dan mulai bengkak, sepertinya pergelangan kaki kamu keseleo. Kita ke rumah sakit saja." Eza segera mengambil ponsel yang ada di sakunya dan segera menghubungi Rendi. "Hallo Ren, cepat lo bawa mobil gue ke sekolah. Sekarang!!" Setelah mematikan panggilannya Eza memasukkan kembali ponselnya lalu mengangkat tubuh Andini.


"Eh, Pak. Maaf. Saya jalan saja."


"Gimana mau jalan kalau kaki kamu sakit."


Andini hanya menurutinya. Dia kini justru melingkarkan tangannya di leher Eza.


"Kita tunggu di sini sampai mobil datang." Eza menurunkan Andini di kursi dekat pos satpam.

__ADS_1


Andini melihat sekitar, takut jika ada teman yang melihatnya.


"Untung Pak Budi tadi ngasih tahu aku kalau kamu jatuh di dekat tangga samping teater. Kalau seandainya di tempat itu gak ada cctv bisa-bisa gak ada yang nolong kamu."


Mendengar penuturan Eza, Andini hanya menganggukkan kepalanya.


"Makanya simpan nomor aku di hp kamu, biar kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Tanpa meminta izin, Eza mengambil ponsel Andini yang berada di dalam tas.


"Pak." Andini akan mengambil lagi ponselnya tapi Eza menjauhkan dari Andini hingga tidak bisa dia jangkau. Dengan cepat Eza memasukkan nomornya dalam kontak Andini dan segera mengirim pesan pada nomornya agar dia juga bisa menyimpan nomor pribadi Andini.


"Udah. Nih, aku balikin. Aku kan cuma punya nomor Angel." Eza kembali memasukkan ponsel Andini ke dalam tasnya.


Andini hanya terdiam.


"Sabar ya. Jalan yang dilewati memang biasanya macet. Jadi agak lama. Masih sakit?"


Andini mengangguk. "Masih bisa aku tahan."


Eza kini melepas kacamata Andini lalu karet yang mengikat rambut Andini. "Kenapa sih kamu gampang putus asa gini?"


Andini sedikit menghindar saat Eza menjurai rambutnya dengan tangan.


Tapi Eza tetap melakukannya untuk menata rambut Andini. "Kamu itu cantik. Lebih cantik daripada Clarissa dan teman-teman kamu lainnya. Kamu harus percaya diri. Kamu harus bisa lawan mereka. Kalau bukan diri kamu sendiri yang merubah, siapa lagi."


"Tapi saya gak punya kekuatan untuk melawan mereka."


"Kamu bisa! Yakin. Aku akan terus bantu kamu. Makanya kamu mau ya jadi istri aku, biar kamu bisa menjadi pemilik dari sekolah ini."


Andini melebarkan matanya. "Jadi Pak Eza pemilik sekolah ini! Pantaslah dengan mudahnya bisa menyamar jadi guru. Tapi maaf Pak, saya tidak suka menggunakan kekuasaan untuk melawan."


"Ada kalanya kamu harus menggunakan kekuasaan untuk melawan. Kamu harus mengerti itu. Aku udah mengumpulkan semua bukti pembullyan yang dilakukan oleh Clarissa. Kalau kamu ingin Clarissa keluar dari sekolah ini. Tak! Tinggal lempar saja dia."


Andini menggelengkan kepalanya. "Biarkan."


"Kalau kamu mau membiarkan dia di sini. Oke. You have to fight her. Kamu harus bisa lawan dia."


Beberapa saat kemudian mobil Eza sudah masuk ke dalam gerbang sekolah. Eza segera menggendong Andini mendekati mobil. "Bukain Ren!!"


"Oiya bos!!" Rendi segera keluar untuk membuka pintu belakang.


Eza membantu Andini masuk ke dalam. "Segera ke rumah sakit, Ren."


"Waduh bos, udah bos apain sampai gak bisa jalan gitu." bisik Rendi yang dibalas tatapan tajam oleh Eza.


Rendi masih tertawa sambil masuk ke kursi pengemudi. Beberapa saat kemudian mobil melaju meninggalkan sekolah.


"Adek namanya siapa? Kenalkan aku Rendi. Panggil aja Kak Rendi."


Satu jitakan kini di dapat Rendi dari Eza. "Lo pikir mau ngospek. Udah fokus aja ke depan!!"


Rendi masih saja terkekeh. Sebagai asissten pribadinya, memang baru kali ini dia melihat seorang Eza bucin seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2