
"Sayang, maafkan aku." Eza duduk di dekat brangkar lalu mengenggam tangan Andini. "Maafkan aku..."
Andini tak juga melihat Eza, dia tetap membuang pandangannya dengan tangis yang semakin terisak.
"Sayang, maafkan aku. Aku yang salah. Aku gak bisa jagain kamu." Eza semakin mengenggam tangan Andini. Dia ciumi tangan Andini tapi tetap saja tidak ada respon dari istrinya itu. "Harusnya kamu biarkan aku saja yang terluka. Kamu gak perlu melindungi aku."
Seketika Andini menoleh Eza. Dia tatap Eza dengan mata sembabnya. "Mas Eza nyalahin aku?!"
"Bukan, bukan gitu maksud aku."
"Mas tahu, mereka ancam aku agar lepasin Mas Eza. Tapi aku lebih pilih mati di tangan mereka dari pada harus melepas Mas Eza."
Mendengar kalimat Andini, Eza hanya bisa menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang telah mengering sedari tadi.
"Apa Mas Eza suka sama Stefi sampai tadi..." Andini menghentikan perkataannya. Hatinya kembali sesak mengingat kejadian itu. "Mas Eza mau aja dipeluk sama dia. Apa selama ini Mas Eza selingkuh di belakang aku?"
"Astaga sayang. Aku gak mungkin ngelakuin itu. Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Apa yang kamu lihat tadi gak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku udah usir dia dari tadi tapi dia gak mau pergi. Kamu tahu dia itu agresif, dia itu nekad. Bahkan dia sampai berani nyulik kamu."
"Apa aku harus percaya sama Mas Eza?"
"Aku gak pernah bohong sama kamu."
"Aku tadi udah bayangin, pasti Mas Eza seneng banget tahu kalau aku hamil. Tapi ternyata justru aku yang terkejut lihat Mas Eza pelukan sama cewek lain. Sakit Mas rasanya."
__ADS_1
"Iya, aku tahu sayang. Aku gak pernah ada hubungan apa-apa sama Stefi. Percaya sama aku, aku mohon..."
Andini terdiam sesaat. Isak tangisnya masih saja terdengar.
"Kamu tenang ya. Stefi udah aku tuntut. Dia pasti akan mendekam di penjara dan semua kontrak kerja sama dengan keluarga Stefi sudah aku batalkan. Gak akan ada Stefi lagi dalam hidup kita."
Andini menundukkan pandangannya. Lalu dia mengusap perutnya yang pernah disinggahi benih cintanya walau hanya beberapa minggu saja.
"Baru tadi pagi aku tahu kalau aku hamil dan sekarang aku udah kehilangan dia."
Tangan Eza kini menghapus air mata Andini yang masih saja mengalir. "Aku tahu, aku juga ngerasain apa yang kamu rasakan." Tangan Eza kini mengambil dua buah testpack yang tadi dia masukkan dalam kantong celananya. "Ini, tadi waktu lihat ini aku udah seneng banget. Tapi mau gimana lagi sayang, ini udah takdir. Nanti kita pasti akan dapat gantinya."
Andini melihat kembali dua benda itu. Iya, hanya itu yang kini menjadi kenangan.
"Kamu jangan sedih lagi ya." Eza mengusap kembali sisa-sisa air mata Andini dengan jempolnya.
Eza hanya mengangguk lalu dia membungkukkan badannya dan setengah memeluk Andini dengan wajah yang menempel pada tengkuk lehernya.
"Aku gak mau kehilangan kamu. Aku sayang banget sama kamu." Eza melepas pelukannya saat mendengar rintihan kesakitan dari Andini. "Maaf sayang. Sakit?"
"Iya, punggung aku sakit banget Mas."
"Kamu belum makan?" Eza melihat makanan di atas nakas yang masih utuh. "Aku suapin ya."
__ADS_1
"Iya Mas." Andini ingin duduk tapi dia tidak sanggup menahan rasa sakit itu.
"Jangan gerak dulu. Biar brangkarnya yang aku ubah posisinya. Bentar." Eza mengatur posisi sandaran pada brangkar hingga membuat Andini setengah duduk.
Setelah itu Eza mengambil makanan yang berada di atas nakas dan mulai menyuapi Andini.
"Mas Eza udah makan?" tanya Andini.
"Belum. Nanti aja gampang. Yang penting kamu dulu. Biar bisa minum obat, biar reda rasa sakitnya." Eza mulai menyuapi Andini dengan telaten. Satu suap, dua suap. Tiba-tiba Eza teringat lagi dengan manjanya Andini beberapa hari ini yang sering minta dia suapi bahkan di warung sate pinggir jalan juga. Ternyata itu keinginan dari calon anaknya yang berada di perut Andini. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan.
Setelah ini, aku pasti akan terus perhatikan setiap perubahan yang kamu alami. Cukup satu kali ini saja aku kecolongan.
Setelah makanannya habis, Eza segera memberikan air mineral lalu obat agar segera diminum.
Setelah selesai meminum obat, Eza mengembalikan posisi brangkar hingga terbaring.
"Kamu tidur ya..." Eza mulai mengusap lembut puncak kepala istrinya.
Andini memejamkan matanya walau belum tertidur. Dia justru merasakan sakit di sekujur tubuhnya hingga sebuah rintihan lolos dari bibirnya.
"Kenapa sayang? Sakit? Aku panggilin Dokter ya."
"Gak usah Mas. Dari tadi emang sakit gini. Aku udah bilang sama Dokter, katanya setelah minum obat sakitnya akan berangsur hilang."
__ADS_1
Eza mengecup singkat kening Andini. Dia sangat menyayangi istrinya sampai nanti dan menua bersama.
Setelah terdengar napas teratur dari Andini, Eza tersenyum lega. Akhirnya Andini bisa tertidur. Dia terus menatap wajah yang masih terlihat pucat itu dengan mata yang sangat sembab dan berharap semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi.