Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Terlalu Cepat


__ADS_3

Hari-hari dilalui Andini sebagai seorang mahasiswa yang kuliah pulang kuliah pulang saja. Meski demikian, Arka masih sering kali dengan sengaja menunggu di dekat kelas Andini hanya untuk bertegur sapa. Inginnya sih mengajak Andini mengobrol tapi Andini selalu menghindar.


"An, mau pulang?"


"Iya kak." jawab Andini. Meskipun sebenarnya malas tapi dia masih bisa tersenyum tipis dan menghentikan langkahnya sesaat sambil menunggu Rara yang masih berada dalam kelas.


"Kamu gak suka ikut kegiatan? Banyak organisasi di kampus ini, kalau kamu ikut pasti seru. Atau kamu mau ikut BEM?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Aku mau fokus kuliah saja, Kak."


"Oo, ya sudah tidak apa-apa."


Andini hanya mengangguk lalu dia segera meraih tangan Rara. "Aku duluan.." Andini segera melangkahkan kakinya pergi bersama Rara.


Arka hanya menghela napas panjang. "Sulit banget dekati dia."


Andini masih saja melangkah cepat bersama Rara.


"Din, gue liat tiap hari Kak Arka nungguin lo di dekat kelas."


"Gak tahu tuh. Kurang kerjaan banget."


"Eh, Din gue mau cerita sama lo. Duduk di taman depan aja yuk biar keliatan kalau lo udah di jemput."


"Cerita apa? Soal Kak Rendi?" Mereka berjalan menuju taman depan kampus lalu duduk berdampingan si sebuah kursi taman.


"Iya Din. Pak Eza ada cerita sama lo?"


"Nggak ada sih. Emang kenapa?"

__ADS_1


"Kak Rendi mau melamar ke rumah sama orang tuanya. Gue bingung, Din. Masak iya sih Kak Rendi sampai seserius itu?"


Andini tersenyum. Dia kini memegang tangan Rara untuk memberinya keyakinan. "Lo suka gak sama Kak Rendi?"


Rara menggeleng ragu. "Gue gak tahu."


"Lo pikirkan baik-baik ya. Kesempatan gak datang dua kali. Dulu waktu sama Mas Eza, awalnya gue juga ragu. Gue juga gak ada perasaan sama Mas Eza. Tapi semakin hari rasa itu semakin ada karena Mas Eza itu perhatian banget. Yah, lo tahu kan dua orang itu, antara Mas Eza dan Kak Rendi beda tipislah."


Rara menggaruk tengkuk lehernya sesaat. "Tapi gak secepat ini, Din. Gue merasa belum siap aja."


"Ya, lo pikirkan baik-baik ya. Pasti lo gak salah pilih."


Rara terdiam. Kesempatan memang tidak datang dua kali. Wajah tampan Rendi itu sudah jelaslah akan menjadi dambaan setiap wanita. Soal tanggung jawab, sudah tidak diragukan lagi. Buktinya Eza selalu melimpahkan semua pekerjaannya pada Rendi sebagai orang kepercayaan nomor satu.


...***...


"Mas Eza pulang jam berapa ya hari ini? Sekarang aja udah jam 6." Andini mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya yang tiba-tiba dia rindukan di malam minggu itu. Baru beberapa kali nada sambung, Eza sudah mengangkat panggilan Andini.


"Mas Eza pulang jam berapa?"


"Jam 8. Masih ada meeting lagi di acara makan malam. Kamu makan duluan aja ya. Jangan nungguin aku."


"Ya udah. Mas hati-hati ya. Aku tunggu di rumah. Kangen."


Terdengar tawa kecil diujung sana. "Iya sayang. I love you."


"I love you too." kemudian Andini memutuskan panggilannya. Setelah itu dia keluar kamar lalu makan malam bersama mertuanya yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Setelah mengobrol sesaat sambil menonton tv, Andini kembali ke kamar.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Andini tersenyum kecil, dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah itu dia mengambil gaun tidur warna merah yang sempat dia beli sebelum ke Bali tapi nyatanya tidak sempat dia pakai. Gaun satin pendek di atas lutut dengan bagian dada yang cukup rendah meski dipadu dengan setelan kimono.

__ADS_1


Andini menatap dirinya dicermin. Merapikan rambutnya lalu menyapu bibirnya dengan lipbalm rasa strawberry. Setelah itu dia semprot parfum ke tubuhnya. Aroma yang sangat menggoda.


Beberapa saat kemudian Eza telah pulang dan masuk ke dalam kamar. Andini bisa menangkap bayangan suaminya lewat pantulan cermin.


Melihat tampilan Andini sekarang, Eza langsung berjalan mendekat setelah meletakkan tas dan jasnya. "Cantik banget sih." Eza membungkukkan dirinya dan mendekap tubuh istrinya itu yang sangat terlihat menggoda. "Harumnya." Eza mengendus dalam tengkuk leher Andini.


"Mas Eza mandi dulu."


"Terus habis mandi mau apa?"


"Emang mau apa?" Andini justru balik bertanya menggoda suaminya itu.


Eza menempelkan dagunya di pundak Andini. "Kamu udah selesai satu masa periode?"


Andini menganggukkan kepalanya.


"Kok gak bilang sih sayang? Tahu gitu biar Rendi aja yang meeting tadi." Tangan Eza sudah singgah dimana-mana. Bahkan napasnya sudah semakin berat saat tahu Andini sudah tidak memakai apa-apa di balik gaun tidurnya.


"Hmm," walau sudah terlena tapi Andini menahan tangan Eza. "Mandi dulu Mas."


"Oke," Eza menegakkan dirinya. "Wait a moment." Satu kecupan mendarat di pipi Andini lalu Eza segera masuk ke dalam kamar mandi.


Andini tersenyum kecil. Dia kembali memandang dirinya di depan cermin. Belum juga 5 menit, pintu kamar mandi sudah kembali terbuka. "Loh, Mas cepat banget mandinya...."


💞💞💞


.


.

__ADS_1


.


Cepat dong... Pesawatnya sudah siap terbang ke angkasa.. 🤭🤭


__ADS_2