
"Eza, pokoknya kamu pulang harus bawa cucu." kata Bu Sonya yang mengantar keberangkatan Eza dan Andini di bandara.
"Mama, Eza di sana gak lebih dari satu minggu. Kalau setahun baru nanti bisa bawa cucu pulang."
"Eh, gak boleh lama-lama. Ingat kerjaan banyak."
"Iya Pa, iya."
Bu Sonya lalu memeluk Andini dan mencium kedua pipinya. "Selamat bersenang-senang ya sayang."
"Iya, Ma."
Eza menggandeng tangan Andini dengan sebelah tangannya menggeret koper. Andini melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Setelah menitipkan koper untuk di simpan di bagasi, mereka segera berjalan menuju pintu masuk pesawat karena beberapa saat lagi pesawat akan take off.
Mereka duduk di kelas bisnis. Perjalanan itu hanya memakan sekitar satu jam dari Malang menuju Denpasar Bali. Tidak lama kan? Masih lama menonton bioskop.
Andini bersandar di bahu Eza. Ini pengalaman pertamanya naik pesawat yang membuat dadanya berdebar-debar sedari tadi. Ditambah kepalanya mulai pusing.
"Kenapa sayang?" tanya Eza sambil mengusap rambut Andini dengan lembut.
"Agak pusing, Mas."
"Cuma satu jam kok. Kamu minum dulu biar gak pusing. Ini juga ada makanan."
Andini menegakkan tubuhnya lalu meminum air mineral yang berada dalam botol.
Eza tertawa kecil menatap Andini, "Nanti lama-lama kamu juga biasa naik pesawat."
Setelah selesai Andini kembali merebahkan kepalanya di bahu Eza.
"Sebentar lagi sudah sampai kok sayang. Nanti setelah sampai di bandara Ngurah Rai kita langsung ke ubud. Kita menginap di resort. Kamu pasti suka pemandangannya. Resortnya berada di dekat hutan tropis." Eza berbicara panjang lebar ternyata Andini sudah tertidur.
"Ya ampun sayang, jadi dari tadi aku ngomong sendiri." Eza mengecup puncak kepala Andini. Dia semakin merengkuh tubuh istrinya agar merasa nyaman.
Satu jam lebih lima menit, pesawat telah mendarat di bandara Ngurah Rai.
"Sayang, udah sampai." Eza mengusap pipi Andini agar dia terbangun.
Andini mengerjapkan matanya, lalu dia menegakkan duduknya.
"Ayo, sayang." Eza menggandeng tangan Andini dan mengajaknya keluar dari pesawat setelah mendapat aba-aba dari pramugari.
Andini berjalan dengan malas di sebelah Eza. Rasanya dia masih sangat mengantuk.
"Nanti kamu bisa tidur lagi di mobil."
__ADS_1
"Iya Mas." jawab Andini.
Mereka berjalan menuju ke tempat pengambilan koper dan sedikit mengantri karena masih on proses.
Setelah mendapatkan kopernya mereka segera keluar dari bandara. Eza sudah menyewa mobil jadi dia tidak bingung lagi mencari kendaraan. Tinggal membaca nama yang dipegang di kertas kotak oleh sopir di dekat mobil yang terparkir.
"Pak Eza?" tanya sopir itu saat melihat Eza dan Andini berjalan mendekat.
"Iya, Pak."
Sopir itu segera membuka bagasi mobil lalu membantu memasukkan koper ke dalam. Setelah itu membuka pintu belakang untuk mereka berdua.
Setelah sopir masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil mulai melaju meninggalkan tempat parkir bandara.
Andini kembali menyandarkan kepalanya di bahu Eza dengan tangan kokoh Eza yang merengkuh dirinya. Ingin dia memejamkan matanya kembali tapi pemandangan diluar jendela begitu menarik perhatiannya.
Dia kini menegakkan kepalanya lalu menatap keluar jendela. Kota yang cukup ramai, dengan gaya rumah berasitektur hindu. Banyak pura di dalamnya yang lengkap dengan sesaji untuk menyembah Dewa mereka. Dengan payung kuning atau putih ditambah dengan janur-janur yang melengkung, sarat dengan kesakralan penduduk setempat.
Selama ini Andini hanya bisa melihatnya di layar televisi, ternyata semua lebih indah jika disaksikan secara langsung. Apalagi saat melihat ada dua orang wanita yang sedang berjalan dengan memakai kebaya cantik dengan rambut terikat dan menyampir di bahu yang berhiaskan bunga. Di dahi sudah ada bija yang menempel yaitu beras kuning setelah selesai sembahyang yang ditempelkan pada dahi.
"Cantik ya, Mas." kata Andini sambil tersenyum lalu kembali ke dalam rengkuhan Eza.
"Iya, tapi masih cantikan kamu." Satu kecupan mendarat di puncak kepala istrinya.
"Ih, Mas Eza tiap hari ngegombal terus."
Setelah memasuki daerah ubud, Andini kini disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Banyak pepohonan hijau. Udara dingin juga mulai terasa.
"Mas, kita gak ke pantai?"
"Nanti ya. Kita menginap dulu di Ubud 3 hari setelah itu pindah ke Kuta sekalian pulang."
"Memang jauh ya Mas sama Kuta?" tanya Andini yang memang tidak mengerti sama sekali tempat-tempat di sana.
"Ya, lumayan sayang. Di sini kita menikmati pemandangan alam dulu. Resortnya bagus banget pasti kamu betah. Nanti juga aku ajak kamu ke terasiring Tegalallang."
"Terasiring yang terkenal di tv itu ya Mas?"
"Iya, atau kamu mau ke monkey forest park juga? Tuh barusan kita lewati."
"Gak ah Mas. Di Malang kan ada, wendit itu."
Eza justru tertawa, persamaan yang sangat luar biasa. "Oke. Oke. Tuh bentar lagi kita sampai."
"Mas Eza hafal banget, sudah berapa kali ke Bali?"
"Sudah beberapa kali. Seringnya liburan sama keluarga. Pernah juga sama teman kuliah dulu terus rekan kerja juga."
__ADS_1
Andini kini mendongak menatap Eza. "Kalau sama pacar, pernah?"
"Nih, sekarang sama istri aku." Eza tersenyum. Rasanya bibir Eza sudah sangat ingin singgah di bibir Andini yang tumben banyak tanya padanya.
Beberapa saat kemudian mobil sudah berhenti di parkir resort aksari. Mereka turun dari mobil yang langsung di sambut petugas untuk membantu mereka membawa masuk koper.
"Selamat datang di resort kami..." Ada dua orang yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
Eza yang memang sudah memesan tempat dan segala macamnya di jauh hari, tentu sangat mempermudah dirinya di hari itu.
Sedangkan Andini tak henti-hentinya takjub menatap resort itu.
(Aksari Resort)
Ini seperti mimpi. Dia merasa kini hidup di negeri dongeng.
Mereka kini sudah berada dalam kamar. Andini masih saja terkagum-kagum. Satu ranjang king size yang menghadap ke roof top dengan pemandangan yang sangat indah dan berhiaskan kelopak bunga mawar merah berbentuk love di tengah ranjang.
Setelah Eza masuk dan menutup pintu, Dia melihat Andini berjalan ke roof top, dimana ada kursi anyam dan sofa untuk menikmati pemandangan dari atas sana. Nampak Andini sedang menghirup udara segar dan memejamkan matanya.
"Indah kan?" kini Eza sudah menyelipkan kedua tangannya dan melingkar di perut Andini.
Andini hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kita nikmati ya liburan di sini. Kalau kamu masih kurang aku bisa tambah sampai satu bulan."
Andini justru tersenyum renyah. "Semalam aja berapa juta Mas, mau sampai sebulan? Mungkin harganya setara sama beli tanah di Malang."
"Buat kamu apa sih yang enggak." Eza membalik tubuh Andini agar menghadap ke arahnya. "I love you..."
"I love you too..."
Eza mendekatkan dirinya. Menyatukan bibir yang sedari tadi ingin singgah. Menyusuri nikmatnya madu yang selalu membuat candu. Saling berbalas, semakin lama semakin menuntut. Gambaran dari perasaan yang meletup-letup.
"Adegan dilanjut nanti malam saja ya. Kita makan dulu terus istirahat."
Andini tersenyum sambil mengangguk. Jujur saja, saat ini dia ingin sekali segera merebahkan dirinya setelah perjalanan panjang yang dia lalui, walau dipersingkat dengan pesawat tapi badannya terasa sangat lelah.
💞💞💞
.
.
.
__ADS_1
Jujurly, author belum pernah ke ubud. Dulu pernah di Bali dua bulan, mentok ke pantai-pantai di sanur, kuta, sama nusa dua aja. 🤧 jadi pengen ke sana nyusul Andini pengen honeymoon lagi.