Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Dia, Hans


__ADS_3

Eza menghentikan mobilnya di depan rumah Andini. Dia segera keluar dan membukakan pintu untuk Andini.


"Hmm, maaf Pak. Saya bisa sendiri kok." kata Andini saat lagi-lagi dia merasa sungkan karena terus mendapat perhatian dari Eza.


"Gak papa." Eza tersenyum sambil memberi jalan pada Andini. Dia mengikuti Andini sampai depan pintunya.


Andini mengunci pintunya dengan tangan yang bergetar. Dia ragu untuk mengizinkan Pak Eza masuk ke dalam rumahnya. Dia masih perlu berwaspada, takut jika Pak Eza akan berbuat di luar batas.


Setelah pintu terbuka, Andini justru berdiri diambang pintu. "Hmm, Pak Eza mau bicara apa? Bisa bicara diluar saja. Soalnya..."


Perkataan Andini terhenti saat Eza berhasil menerobos tubuhnya.


"Pak, saya tidak enak kalau harus mengobrol di dalam. Nanti ada tetangga yang mengira kita mau macam-macam."


Eza hanya tersenyum miring. Dia justru menarik tangan Andini hingga dia berpindah dari ambang pintu lalu dengan cepat menutup pintu itu.


"Pak Eza jangan macam-macam. Aku bisa teriak." Dada Andini sudah berdebar tidak karuan. Apalagi saat Pak Eza mengungkung dirinya dengan kedua tangannya di balik pintu.


Kedua mata di balik kacamata itu terus menatap lekat mata Andini. Tersirat jelas ketakutan itu di mata Andini.


"Kamu gak ngenalin aku?"


Andini menggeleng kaku.


Sedetik kemudian Eza justru tertawa. Lalu menjauhkan dirinya dan duduk di atas kursi yang berada di ruang tamu Andini.


Andini mengerutkan dahinya. Jadi dia memang Hans. Dia menutup mulutnya saat melihat Eza melepas kacamatanya lalu mengacak rambutnya persis seperti style rambut Hans.


"Ini aku, Hans. Nama asli aku Eza Handoko."


Lutut Andini terasa melemas. Entahlah dia harus berekspresi seperti apa. Senang atau justru takut.


"Sekarang justru kamu kan yang gak ngenali aku."


"Maaf Pak, lebih baik sekarang Bapak keluar dari rumah saya." Setelah berhasil mengontrol detak jantungnya, dia kembali pada kenyataan. Eza adalah Hans. Itu berarti Eza mengenalnya hanya sebagai wanita pemuas saja. Mungkin saja tujuan utama Eza adalah ingin merasakannya di dunia nyata. Mengingat itu semua, membuat dadanya kembali bergemuruh.


"Kenapa? Aku gak ada niat buruk sama kamu."


"Tapi mengapa Pak Eza menyamar seperti ini? Saya tahu Pak, pekerjaan saya itu kotor. Tapi saya bukan wanita BO. Pak Eza harus tahu itu!"

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Kamu bisa gak mikirnya jangan terlalu jauh."


Andini kembali menghela napas panjang. Lalu berjalan menuju bufet kecil hanya untuk mengalihkan pandangannya dari Eza. "Saya sadar diri. Kita hanya saling mengenal di dunia maya itupun hanya untuk kepuasan semata. Perhatian Pak Eza selama beberapa hari ini pun pasti juga tidak lepas untuk mendapatkan kepuasan."


Eza hanya berdecak. Dia kini memandangi punggung gadis yang berdiri membelakanginya. "Jangan menarik kesimpulan sendiri sebelum kamu tahu yang sebenarnya."


"Tapi itu yang sebenarnya."


Eza berdiri, lalu berjalan mendekatinya. Dia menarik lengan Andini agar membalikkan badannya. "Aku memang gak ada niat buruk sama kamu. Aku sangat menyukai kamu, hingga aku berusaha mencari keberadaan kamu. Dan akhirnya aku berhasil menemukan kamu."


"Suka? Bukan suka Pak tapi nafsu."


Mendengar perkataan Andini yang berputar-putar soal itu-itu saja membuatnya kembali tertawa. "Kamu pikir, aku pria hidung belang. Kalau aku pria kayak gitu ngapain aku cari kepuasan secara virtual. Lucu."


Andini kini menundukkan pandangannya. Dia masih tidak berani jika harus beradu tatap dengan Eza.


"Oke, aku minta maaf udah bohong sama kamu dengan menyamar sebagai seorang guru di sekolah tapi yang jelas semua perhatian aku ke kamu tidak ada yang bohong."


"Kenapa Pak Eza perhatian sama saya? Saya bukan.."


Kalimat Andini harus terhenti karena kedua tangan Eza kini menangkup pipi Andini dan mendongakkannya agar kedua mata indah Andini mau menatapnya.


Kini justru Andini yang tertawa sumbang. "Tidak mungkin Pak Eza bisa jatuh cinta secara virtual. Jangan bawa saya terbang ke angkasa jika akhirnya akan terhempas kembali ke tanah. Dan satu hal lagi, saya tidak pantas dicintai sama orang seperti Pak Eza. Saya hanya gadis jelek dan miskin. Tidak seperti Pak Eza. Bapak bisa cari gadis lain yang lebih-lebih dari saya."


Eza sengaja membiarkan seluruh kosa kata Andini keluar daripada memotongnya. Rasanya dia semakin tertarik saja dengan Andini. "Diluar sana tidak ada gadis seperti kamu yang menolak pria seperti aku."


Andini melepas kedua tangan Eza yang sedari tadi singgah di pipinya saat mulai berani memberi usapan-usapan lembut. Dia kini berjalan lalu duduk di kursi yang diikuti oleh Eza.


Keadaan hening beberapa saat. Eza terus menatap Andini yang seringkali hanya menundukkan kepalanya. "Oke, mungkin ini memang terlalu cepat buat kamu. Yang jelas aku gak ada niat buruk sama kamu."


Andini hanya terdiam sambil memberanikan diri menatap kedua mata Eza. Dia memang tampan dengan raut wajah yang menggambarkan seseorang yang tidak mudah ditaklukkan.


"Kamu belum makan kan? Aku order makanan ya?" Pak Eza mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi ijo.


"Tidak perlu Pak. Saya bisa beli di warung sebelah."


"Gak papa. Jangan tolak pemberian dari aku."


"Ya udahlah, satu porsi saja jangan kayak mau kasih makan orang se RT."

__ADS_1


"Sekelurahan pun aku beliin kok buat kamu."


"Pak, jangan terlalu berlebihan. Saya tidak bisa balas lebih."


"Gak papa. Aku gak minta balasan. Kalau nantinya kamu beri hati dan cinta kamu itu baru bonus." Senyuman manis itu lagi-lagi mengembang.


Andini hanya terdiam, tersipu malu. Seumur hidup memang baru kali ini ada seseorang yang memberi perhatian lebih untuknya dengan sikap dan kata-kata yang begitu manis.


"Hmm, tapi aku tahu diam-diam kamu menaruh hati kan sama Irvan."


Andini melebarkan matanya. Eza bahkan tahu tentang perasaannya.


"Gak papa, Irvan itu hanya saingan kecil."


Tingkat kepercayaan diri Eza memang tinggi. Andini hanya terdiam, tidak berani membenarkan atau membantah tentang perasaannya pada Irvan.


Beberapa saat kemudian ada sebuah panggilan masuk di ponsel Eza. Dia sempat berdecak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. "Ada apa, Ren?" Ada satu helaan panjang mendengar penjelasan di ujung sana. "Ya sudah, gue ke kantor sekarang."


Andini bernapas lega. Tanpa harus mengusirnya, Eza sudah akan pergi dari rumahnya. "Aku balik dulu ya. Besok kita lanjut obrolan yang masih tertunda." Eza berdiri lalu berjalan menuju pintu. Dia menghentikan langkahnya saat dirasa Andini tidak mengikutinya untuk sekedar mengantarnya ke depan pintu lalu say good bye. Tidak apalah untuk saat ini.


Tiba-tiba hati Andini tergerak. Dia berjalan cepat menuju pintu lalu segera membuka pintu lebar-lebar.


"Makasih. Balik dulu ya." Satu usapan lembut berhasil mendarat di puncak kepala Andini. Hanya sesaat karena Andini langsung menghindar.


Eza masih saja tersenyum lalu melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobilnya segera melaju meninggalkan rumahnya.


Saat Andini akan menutup pintu, ada sebuah ojek online berhenti di depan rumahnya.


"Atas nama Eza?"


"Iya, Mas." Andini segera menghampiri ojek online itu dan menerima dua kantong lumayan besar yang berisi makanan dan lengkap dengan minumannya dari restoran cepat saji yang cukup mahal. "Eh, tunggu Mas. Ini teman saya sudah pulang jadi yang satu buat mas saja ya."


"Beneran ini mbak?"


"Iya Mas."


"Wah, terima kasih ya. Anak saya pasti senang sekali."


"Iya Pak. Sama-sama."

__ADS_1


Tukang ojek itu berlalu dengan senyum mengembangnya. Indahnya berbagi. Seulas senyum juga mengembang dibibir Andini.


__ADS_2