
"Lepaskan!!!" Andini berusaha melepaskan diri saat tangannya dicekal oleh dua orang pria berbadan gempal. "Apa yang kalian mau?!" Kedua orang itu memaksa Andini masuk ke dalam rumah yang kosong dan terletak cukup jauh dari kota.
Mereka semua tertawa. Ternyata di dalam sudah ada tiga orang dengan seringai yang tak kalah mengerikannya dari dua orang yang tiba-tiba membekap dan menculiknya saat dia berada di pinggir jalan menunggu mobil.
"Wah, cantik juga ternyata. Sexy lagi." salah seorang menyentuh pipi Andini yang langsung dia elak.
"Siapa kalian? Aku gak ada masalah sama kalian!!" Andini masih tidak bisa bergerak. Masih ada satu orang yang mencekal tangannya dengan kuat.
"Kamu memang gak ada masalah sama kita. Tapi bos kita."
"Siapa?" Andini masih berusaha memberontak dengan tenaganya yang kecil itu.
"Yang jelas, kamu harus lepasin Eza. Kalau kamu tidak mau, kamu harus siap jadi santapan kita semua."
Gelak tawa terdengar sangat keras yang membuat kepala Andini terasa berdenyut. Dia benar-benar ketakutan saat itu. Apakah ini akhir dari hidupnya. Dia tidak mungkin memilih untuk melepaskan Eza demi hidupnya sendiri.
"Bagaimana??" tanya seorang dengan wajah yang paling mengerikan itu. Dia semakin mendekat. "Atau kamu mau bersenang-senang dulu dengan kita. Sangat cantik, sayang jika terlewatkan."
"Lepaskan!! Aku gak mau!!!" Andini berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya.
"Percuma, mau kamu berontak sekuat apapun atau teriak sekeras apapun, gak ada yang akan nolong kamu di sini."
Tawa jahat semakin nyaring terdengar. Bahkan salah satu dari mereka sudah berani menyentuh tubuh Andini.
"Jangan!!!"
Bbrruuaakkk!!!
Satu dobrakan yang cukup keras berhasil membuka pintu itu.
Andini bernapas lega saat dia kini bisa melihat sosok yang selalu menolongnya itu. Eza selalu datang tepat waktu saat Andini dalam bahaya.
"Lepaskan istri aku!!"
"Waw, berani datang sendiri ke sini.."
__ADS_1
Eza menatap tajam kelima penculik itu yang sedang bergerombol di dekat Andini. "Gak akan aku biarkan kalian menyentuh istri aku sedikit pun!!" Eza sudah bersiap untuk melawan mereka. Lima lawan satu, tidak menggetarkan langkah Eza sama sekali.
"Besar juga nyali lo." Dua orang di antara mereka mulai maju untuk melawan Eza.
Beladiri Eza memang bagus. Dia berhasil menghindari setiap serangan dari penculik itu. Setiap ada sedikit celah dia langsung memukul dan menendang mereka membabi buta.
Kini dua orang lagi maju. Eza terus melawan mereka sampai dia berhasil melepas Andini. Eza beralih menyergap penculik yang sedari tadi mencekal tangan Andini.
"Siapa yang menyuruh kalian?!!" tanya Eza dengan keras sambil mengunci gerakannya. "Jawab!!" satu pukulan melayang dengan sangat keras di perutnya. Jangan berani macam-macam jika Eza telah marah.
"Kita disuruh..." orang itu menghentikan perkataannya.
Mata Andini kini membulat saat melihat salah satu penculik itu mengambil balok kayu dan dengan gerak cepat akan memukul punggung Eza.
"Mas Eza awas!!!" Dengan cepat juga Andini melindungi Eza hingga punggungnya yang terkena pukulan itu cukup keras.
"Andini!!!" Eza melepaskan penculik itu. Tangannya kini beralih menahan tubuh Andini yang telah jatuh ke lantai. "Andini." Eza merengkuh tubuh Andini. Wajah Andini semakin pias sambil meringis kesakitan.
Rasa sakit di punggungnya tiba-tiba berubah bercampur dengan rasa sakit yang ada di perutnya. Teramat sakit. Andini memegang perut bagian bawahnya. Nyeri itu seperti kram datang bulan tapi dengan level tinggi.
Andini hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan tangan yang masih memegangi perutnya.
"Mau lari kemana kalian!! Kalian sudah dikepung!!!" Suara Rendi menggema. Dia datang bersama polisi dan tim keamanan perusahaan Eza.
Semua penculik itu berhasil ditangkap.
Eza kini mengangkat tubuh Andini tapi darah justru mengalir dari bawah hingga menembus roknya. "Astaga, Andini kamu..." Eza semakin panik.
"Andini kenapa bos?" tanya Rendi yang mendengar pekikan dari Eza.
"Andini pendarahan, Ren. Sekarang kamu pastikan mereka semua masuk penjara dan tangkap bos mereka!!"
Perintah Eza sambil melangkah cepat keluar dari tempat itu. "Sayang bertahan ya..."
Andini hanya menutup matanya sambil merintih kesakitan.
__ADS_1
Eza membuka pintu depan dan segera mendudukkan Andini lalu memasangkan seatbelt. Setelah itu dia segera masuk ke dalam kursi pengemudi.
Dia mengusap rambut Andini sesaat.
"Mas, ini kenapa sakit Mas? Aku takut.."
"Kamu tenang ya, gak akan terjadi apa-apa. Kamu bicara terus, kamu harus tetap sadar."
Wajah Andini semakin pucat, dia semakin meringkuk dengan mata yang terpejam walau bibirnya masih terus merintih.
Eza mulai melajukan mobilnya dengan kencang menembus jalanan yang cukup sepi. "Rumah sakitnya lumayan jauh dari sini." Eza mengumpat kesal, setidaknya butuh waktu sampai 30 menit atau bahkan bisa lebih untuk sampai di rumah sakit.
"Andini.. Kamu ngomong ya sayang jangan sampai kamu pingsan."
Tangan kiri Eza kini memegang tangan Andini yang sudah terasa dingin itu.
"Badan aku lemes banget Mas."
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai."
"Maafin aku ya Mas." Suara Andini semakin pelan. "Aku gak bisa jaga calon anak kita."
Hati Eza semakin bergemuruh. Jantung itu bagai diremat-remat. Air mata itu sudah berada di pelupuk matanya dan bersiap untuk lolos. "Kamu bicara apa... Andini... Sayang..." sudah tidak ada respon lagi dari Andini.
Eza semakin menambah laju mobilnya, dia harus segera sampai di rumah sakit.
💞💞💞
🤧🤧🤧
#curhatan
Sekian lama menjadi author, belum ada satu karya pun yang fantastik atau mungkin nongol di top. Tolong tinggalkan komentar, apakah karya author ini jelek atau cerita memang tidak menarik? Atau tulisan yang masih acak-acakan? Bisa tolong beri masukan yang membangun. Biar bisa diperbaiki.
ya, untungnya author ini tipikal kebal ya. Tetep nulis dan namatin cerita meskipun.... 😔
__ADS_1