
"I love you.." ucap Eza sambil mengecup mesra kening Andini yang berkeringat karena pelepasannya barusan.
"I love you too.."
"Mandi yuk, gerah banget. Setelah itu kita makan." tanpa menunggu jawaban dari Andini, lagi-lagi Eza langsung mengangkat tubuh Andini.
"Mas, aku bisa jalan sendiri."
"Gak papa. Aku suka gendong kamu. Apalagi dalam keadaan kayak gini." Eza tersenyum nakal.
Andini bisa menangkap pikiran mesum pria yang menggendongnya ini. Sudah pastilah, tidak cukup melakukan hanya sekali.
"Mentang-mentang gak ada orang lain di sini bisa jalan seenaknya gak pake baju ya. Mau lakuin juga gak tahu tempat."
"Itulah, enaknya hidup cuma berdua tuh gini. Pas lagi pengen dimana pun jadi tempat."
"Ih, omes banget."
Eza terkekeh sambil menurunkan Andini di dalam bathtub. Dia mengisi air hangat sampai setengah, setelah itu dia ikut masuk ke dalam bathtub. Tidak di belakang Andini seperti kemarin tapi dia kini berada di depannya dan saling berhadapan.
Sabun sudah tertuang, kedua badan itu kini sudah ditutupi oleh busa.
"Mas,"
"Hem."
"Aku mau berendam sendiri."
"No, aku udah terlanjur di sini." Eza menarik tubuh Andini hingga duduk di pangkuannya. "Mau merasakan sensasi baru bersama kamu." Eza mendekatkan dirinya. Mencium bibirnya dengan mesra. Saling memagut dan memadu cinta. Eza menelusuri punggung mulus Andini yang membuat sensasi panas kembali menjalar.
Andini semakin mengalungkan tangannya di leher Eza. Dia merasakan kedua tangan Eza sedikit mengangkat dirinya hingga sesuatu yang telah mengeras itu berhasil masuk kembali.
"Ehmm, mas..." Suara indah itu mulai muncul dari bibir Andini saat Eza mulai menggerakkan pinggulnya dari bawah.
"Nikmat kan sayang?" bisik Eza yang semakin membuat Andini kian melambung.
Gerak alami dari tubuh Andini kini mulai mendominasi. Dia yang mulai aktif bergerak di atas pangkuan Eza.
"Sayang, kamu udah mau sampai? Durasi ini gak akan lama. Rasanya benar-benar..." Napas Eza semakin berat. Dia dibuat kelimpungan dengan sensasi baru ini.
__ADS_1
"Bentar lagi Mas..."
Eza kini mendorong tubuh Andini agar bersandar. Dia mengambil alih gerakannya. Karena jika tidak, dia pasti akan mengeluarkannya di dalam.
Lagi, Eza telah membuat Andini melambung tinggi dan meledak di udara yang disusul dengan suara era ngan Eza setelah mencapai puncaknya.
Eza tersenyum menatap wajah Andini yang kelelahan. "Capek?"
"Capek lah Mas."
Eza mengusap rambut Andini lalu dia berdiri dan menuntunnya keluar dari bathtub. Lalu menyalakan shower untuk membilas tubuh mereka.
Setelah itu, mereka keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju.
"Kita makan yuk. Setelah itu kamu istirahat. Soalnya aku mau ke kantor ada meeting." kata Eza sambil melihat layar ponselnya dan sudah ada banyak pesan dari Papa dan Rendi.
"Iya. Mas lama di kantor?"
"Hmm, kenapa sayang? Barusan masih kurang?"
"Ih, Mas Eza. Kalau gak sampai malam, nanti aku masakin ya?"
"Kan nanti Mas. Kalau sekarang habis makan mau tidur dulu."
"Oke, terserah kamu sayang. Udah yuk makan."
...***...
Setelah sampai di kantor, Eza langsung menuju ruang meeting. Sudah ada Pak Handoko dan Rendi di sana.
"Maaf saya terlambat." kata Eza sambil duduk di hadapan Pak Satya dan assistennya.
Mereka melanjutkan meeting untuk membahas proyek besar selanjutnya. Sebenarnya pikiran Eza sedang tidak fokus. Bayangan-bayangan Andini terus melintas di otaknya. Entahlah, rasanya semakin hari dia semakin bucin dengan Andini.
"Bagaimana Eza?"
"Hem, iya Pa?"
"Eza fokus. Jangan kepikiran apartemen terus ya?"
__ADS_1
Eza hanya tersenyum malu.
"Wah, saya dengar kamu baru menikah ya? Selamat."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Sebenarnya saya berharap kamu jadi menantu Bapak tapi karena kamu punya pilihan lain ya tidak masalah. Proyek kita akan tetap berjalan."
Kemudian mereka kembali membahas proyek sampai hampir dua jam. Setelah meeting selesai, Pak Satya dan Pak Handoko keluar dari ruang meeting. Kini tinggal Eza yang sedang menyandarkan dirinya untuk melepas penat dan Rendi yang sedang mengemasi berkas-berkas.
"Hmm, yang habis bajak sawah kelihatan capek bener." cibir Rendi.
"Hah, lo suka bener kalau bilang."
"Udah berapa ronde hari ini?"
Eza hanya melirik Rendi. Assisten pribadinya ini memang tak sungkan-sungkan membahas masalah pribadi.
"Minum suplemen sana biar kuat ngimbangi tenaga anak SMA. Rasanya legit menggigit, pasti bos maunya nambah terus."
Eza melempar gulungan kertas ke arah Rendi walau dia elak.
"Tahu darimana lo rasanya? Dasar player."
"Gini-gini gue pernah pacaran sama anak SMA bos."
"Lo jangan rusak anak orang sembarangan. Kena karma baru tahu rasa lo."
"Gue petualang sejati bos yang otw tobat bentar lagi. Pengen juga cepat punya istri kayak bos. Biar ada yang nungguin di rumah."
Eza menepuk bahu Rendi. "Iya, lo bener. Gue pulang dulu ya. Lo lanjutin aja laporan lo, nanti kirim ke email biar gue cek." Eza berdiri lalu berjalan jenjang keluar dari ruang meeting.
Rendi hanya menggelengkan kepalanya. "Ngomongin soal istri yang nungguin di rumah jadi langsung pulang tuh si bos. Dasar bos bucin. Gini amat punya bos. Kapan gue punya istri."
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Ada yang mau daftar jadi istrinya Rendi?? ðŸ¤