
Sore itu, Eza dan Andini sedang berjalan di dalam supermarket sambil mendorong troli. "Mau praktek buat masakan apa?" tanya Eza sambil melihat Andini yang sedang membaca kertas list nya.
"Masakan western, Mas. Sebentar ya, udah aku catat apa aja yang mau dibeli." Satu per satu Andini mulai mencari bahan-bahan masakan yang diperlukan. Dia masukkan ke dalam troli. Mereka berkeliling beberapa kali di dalam supermarket sampai kakinya terasa pegal.
"Udah?" tanya Eza. "Kalau capek, aku yang cari ya bahannya. Kamu duduk aja."
"Udah kok Mas." Kini pandangan matanya tertuju pada sederet buah yang tertata rapi dan terlihat sangat segar. "Aku mau beli buah, Mas."
Eza menurutinya sambil mendorong troli mendekati jajaran buah.
Pandangan Andini kini berhenti pada buah mangga. Andini mengambilnya lalu mencium baunya. "Mas ini asam gak ya?"
Eza hanya menatap Andini. Dia bukan tukang buah, mana dia tahu buah itu asam atau tidak. Tapi di depan istrinya dia harus terlihat pintar bukan. "Pilih yang kulitnya kekuningan pasti manis. Atau yang jenis mangga manalagi."
"Aku mau yang asam Mas."
Eza menatap Andini tak percaya. "Sayang, kamu kan punya riwayat asam lambung. Jangan makan yang asam-asam ya."
"Ih, Mas aku mau yang asam." Lagi-lagi Andini memanyunkan bibirnya.
Eza semakin menatapnya curiga. Okelah, sepertinya dia harus menurutinya. "Ya udah, pilih yang kulitnya masih hijau saja pasti itu masih mentah." Eza membantu memilih mangga lalu memasukkannya ke dalam troli.
Seketika senyum merekah di bibir Andini. "Makasih, Mas. Nanti kupasin ya terus suapin." pintanya seperti anak kecil.
Eza tersenyum bahagia. Sepertinya dugaannya kali ini benar. "Iya, apa sih yang gak buat kamu. Kamu sekarang mau apa lagi?"
"Udah Mas. Kita pulang aja ya. Aku udah capek."
"Oke."
__ADS_1
Mereka segera menuju kasir. Setelah membayar semua barang belanjaan, mereka keluar dari supermarket dan menuju mobil.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah melaju meninggalkan tempat parkir supermarket.
Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Eza sesekali melirik Andini yang terkantuk-kantuk sambil tersenyum. Dia kini kembali memikirkan sesuatu. Jika memang dugaannya benar, dia pasti akan sangat bahagia.
Setelah menghentikan mobilnya di depan rumah, Eza membangunkan Andini pelan yang memang telah tertidur saat perjalanan.
"Sayang, udah sampai. Aku gendong aja ya kalau kamu capek?"
Andini mengerjapkan matanya. Dia kini melihat Eza yang tersenyum menatapnya. "Gak usah Mas. Aku bisa kok." Mereka kini turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah dengan barang belanjaan di tangan Eza.
Andini langsung berlenggang masuk ke dalam kamar, sedangkan Eza menaruh barang-barang terlebih dahulu di dapur..
"Habis darimana, Za?" tanya Bu Sonya.
"Dari supermarket, Ma. Beli bahan buat Andini praktek. Bi Sum, tolong taruh di kulkas ya, tapi sendirikan. Kecuali buah mangga ini." suruh Eza pada Bi Sum. Lalu dia mengambil buah mangga dan meletakkannya di atas meja dapur.
"Maunya Andini yang ini, Ma."
"Loh, Andini lagi ngidam Za?" tanya Bu Sonya dengan wajah berbinarnya.
"Sepertinya, Ma. Tapi dia belum mengerti. Besok biar aku ajak periksa. Mama jangan bilang dulu ya. Takutnya kalau ternyata prediksinya salah nanti Andini malah kecewa."
"Iya beres. Mama do'ain kali ini kalian berhasil ya," Bu Sonya sangat antusias.
"Iya, Ma. Amin." Eza mengambil pisau lalu mulai mengupas mangga sesuai keinginan Andini.
"Sini aja Mama yang ngupasin. Emang kamu bisa megang pisau?" cibir Bu Sonya.
__ADS_1
"Mama, aku kan biasa hidup mandiri di apartemen. Lagian ini juga maunya Andini, nanti kalau Mama yang ngupasin rasanya beda."
Bu Sonya justru tertawa cekikikan. Melihat putranya yang sangat menyayangi istrinya membuat rasa bangga tersendiri di hatinya.
Setelah selesai, Eza membawa piring yang sudah terisi penuh dengan irisan mangga ke dalam kamar.
"Mas Eza habis ngapain?" tanya Andini yang memang sedang menunggu suaminya.
"Ngupasin mangga buat kamu."
"Mana?" seketika Andini duduk dengan semangat.
"Nih, aku suapin ya." Eza mulai menyuapi Andini dengan telaten. Sepertinya rasa mangga itu memang asam tapi Andini justru memakannya dengan lahap sampai habis. "Benar-benar doyan. Tapi habis ini makan nasi ya?"
Andini menggelengkan kepalanya. "Udah kenyang Mas, aku mau tidur dulu. Ngantuk."
"Satu jam lagi, kamu makan dulu ya."
Andini justru mengambil botol minumnya yang berada di atas nakas lalu meminumnya. Setelah selesai dia kembali menolak ajakan Eza. "Gak, Mas. Dari tadi pagi gak enak makan nasi."
"Terus kamu mau makan apa?"
"Aku mau tidur aja Mas. Lelah rasanya." Andini mulai merebahkan dirinya dan menarik selimut menutupi kakinya.
"Ya udah. Nanti kalau lapar, makan ya. Aku ambilkan, kalau perlu aku suapi."
Andini menganggukkan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya.
Eza terus tersenyum sambil mengusap puncak kepala Andini. Dia kali ini benar-benar berharap sesuatu yang baik terjadi.
__ADS_1
Semoga saja ya sayang...