
Liburan yang seharusnya dihabiskan dengan jalan-jalan ke beberapa tempat pariwisata tapi nyatanya, Andini justru semakin malas gerak dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di resort.
Dalam sehari mungkin hanya dua jam mereka jalan-jalan setelah itu kembali ke resort. Acara berenang yang indah pun tidak jadi terlaksana.
"Sayang, besok jadi gak ke Kuta dulu?" tanya Eza sambil memposisikan dirinya di sebelah Andini setelah melakukan pelepasan yang nikmat malam itu.
Mata Andini sudah terpejam meski masih merespon pertanyaan Eza. "Jadi dong Mas. Aku kan ingin ke pantai."
"Ya udah, besok pagi kita langsung ke sana ya. Kita bermalam di hotel semalam setelah itu kita pulang. Kelihatannya kamu udah capek diajak liburan."
Andini mengeratkan pelukannya dan semakin menenggelamkan dirinya di dada Eza. "Gak tahu Mas. Rasanya mau ngapa-ngapain mager banget. Enak tidur sambil meluk Mas Eza gini."
Eza tersenyum kecil. Selama hampir satu tahun menikahi Andini, baru kali ini istrinya begitu manja. Minta digantikan baju, minta disuapin, bahkan tidurpun tidak mau ditinggal sendiri walau sedetik pun. Mungkin karena mereka sedang berbulan madu jadi saatnya memanjakan istri.
...***...
Keesokan harinya setelah sampai di Kuta, mereka menuju kamar hotel terlebih dahulu untuk makan dan beristirahat. Baru setelah sore hari mereka berjalan-jalan di pantai Kuta.
Andini tersenyum, menatap deburan ombak yang saling berkejaran yang dihiasi langit jingga sore itu.
__ADS_1
Mereka duduk di atas pasir, walau banyak bule berlalu lalang di sana dengan pakaian yang sangat minim tak membuyarkan pandangan Eza pada istrinya yang sedang tersenyum merekah.
Mereka berdiam diri di sana menunggu matahari tenggelam.
"Yakin besok mau pulang?" tanya Eza yang kini sudah bersandar di bahu Andini.
"Iya, Mas. Udah lihat pantai jadi besok kita pulang."
"Yah, kembali ke pekerjaan yang super sibuk lagi." Eza semakin mengendus leher Andini. Rupanya tak hanya Andini yang semakin menempel, Eza pun juga.
"Mas," Andini sedikit menjauh karena Eza semakin menciumi leher Andini. "Ini di pantai Mas. Banyak orang."
Eza akhirnya menegakkan duduknya. "Bule semua, sayang. Tuh lihat di sekitar kamu. Ada yang ciuman gak?"
Andini tersenyum sambil kembali meluruskan pandangannya pada mentari yang semakin tenggelam. Sangat indah. Akhirnya dia bisa menikmati pemandangan ini dengan orang yang tercinta.
"I love you."
Satu kalimat cinta berhasil membuat Andini menoleh. Tangan Eza kini menahan tengkuk leher Andini lalu mendekatkan dirinya.
__ADS_1
Ciuman yang begitu indah dengan angin sore pantai yang menerpa tubuh mereka. Menyelami segenap perasaan yang tidak hanya cukup diungkapkan dengan kata-kata. Menjelajah semakin dalam dan semakin terasa manis.
Eza melepaskannya dengan satu senyuman. Dia sandarkan kepalanya di dahi Andini. Mata mereka saling bersirobok seolah saling mengungkapkan bahwa mereka ingin bersama selamanya sampai menua bersama.
Hari semakin gelap, setelah mereka makan malam di restoran, mereka segera kembali ke hotel untuk istirahat karena besok pagi mereka akan kembali pulang.
Pagi hari itu setelah semua barang-barang masuk ke dalam koper, mereka pergi meninggalkan hotel. Oleh-oleh pun hanya mereka beli seadanya, karena Andini sedang malas diajak berkeliling mencari oleh-oleh.
Tapi Andini justru tidak pernah menyangka saat ada seseorang yang memberi satu album besar yang telah lengkap dengan CD-R kepada Eza sebelum mereka naik ke dalam mobil.
Setelah masuk ke dalam mobil sewaan, Andini segera membuka album itu. Begitu banyak foto romantis dirinya dengan Eza.
"Mas, kenapa gak bilang pakai jasa foto?"
"Lebih bagus candid sayang. Tuh, lihat bagus-bagus kan jadinya lebih natural."
"Iya," tangannya berhenti di dua foto yang dia anggap paling sweat yaitu ciuman di saat matahari tenggelam dan saat Eza menempelkan keningnya. "Mas, foto yang ini digedein yah, buat hiasan di kamar."
"Iya, gampang bisa diatur. Udah selesai lihatnya, dimasukin ya, bentar lagi sampai di bandara."
__ADS_1
Andini kembali memasukkan album itu pada tas.
See you later Bali...