Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
CHAPTER 13


__ADS_3

Bintang memapah Cinta keluar rumah menuju ke motornya.


"Kita mau kemana Bintang?" tanya Cinta.


"Udah lo tunggu di sini dulu, gue mau urus masalah lo dulu!" sahut Bintang dengan raut wajah yang penuh emosi.


Bintang menerobos masuk ke dalam rumah dan mencari kamar Cinta.


"Kamu mau kemana? Kamu mau maling ya?" teriak Laras sambil mengikuti langkah Bintang ke dalam kamar Cinta.


Bintang tidak menanggapi perkataan Laras, dia merapikan buku-buku yang Cinta miliki dan menaruhnya ke dalam tas hingga tidak tersisa lalu keluar rumah tanpa mempedulikan Laras.


"Hei kamu mau kemana?" bentak Laras yang membuat Bintang menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"Saya akan membawa anak tante ke rumah saya. Sementara Tante intropeksi dulu di sini," ucap Bintang lalu kembali melangkahkan kakinya.


Laras pun terdiam mendengar perkataan Bintang, dia tidak tahu harus berbuat apa jika tidak ada Cinta.


"Tang, lo ngapain sih?" tanya Cinta bingung ketika Bintang menghampirinya.


"Gue mau lo tinggal dirumah gue sementara, gue gak mau lo kenapa-napa!" ucap Bintang sambil menatap Cinta.


Kemudian Bintang menaiki motornya dan menyalakannya, dia melihat Cinta yang terdiam seperti patung.


"Naik!" ucap Bintang.


"Tapi Tang, gue gak mau ninggalin Ibu gue," ucap Cinta.


"Lo jangan egois deh Cinta. Badan lo udah penuh luka, nanti lo kembali ke rumah bisa-bisa besok gue gak bisa ngenalin lo lagi!" ucap Bintang.


"Tapi dengan gue kabur dari rumah juga gak menyelesaikan masalah Tang," ucap Cinta sambil menangis.


Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia kabur dari rumah dan kembali lagi.


"Gue akan bantu Lo untuk menyelesaikan masalah ini, oke?" ucap Bintang berusaha mengambil kepercayaan Cinta.


Cinta pun akhirnya menuruti perkataan Bintang.


'Lagipula ini hanya sementara, semoga saja Ibu tidak marah!' batin Cinta.

__ADS_1


Bintang melajukan motor vario putihnya untuk pulang ke rumahnya.


"Tang, gimana dengan orang tua lo?" tanya Cinta saat sudah di perjalanan.


"Tenang aja, nanti biar gue yang ngomong. Mereka pasti ngerti kok!" ucap Bintang.


Cinta pun terdiam karena sudah mendapatkan jawaban.


'Seharusnya gue senang meninggalkan rumah neraka itu, tetapi karena masalahnya belum selesai buat gue tambah gelisah. Gimana ini? Mau sampai kapan nanti akan menyusahkan orang tua Bintang?' batin Cinta yang masih merasa gelisah.


Namun Cinta juga tidak mempunyai pilihan lain, dia hanya mencoba untuk menghindari Ibunya sementara waktu. Cinta masih berharap Ibunya akan berubah setelah di tinggal oleh Cinta.


"Cinta, kita sudah sampai nih!" ucap Bintang memarkirkan motornya.


"Ini rumah Lo Tang?" tanya Cinta yang pertama kali datang ke rumah Cinta.


Cinta tidak menyangka rumah Bintang akan semewah dan seluas ini.


"Iya, kenapa Cin?" tanya Bintang.


"Luas banget, gue jadi sungkan masuknya. Perbandingannya sama rumah Gue jauh banget Tang," ucap Cinta yang merasa ragu.


Bintang menggandeng tangan Cinta untuk masuk ke rumahnya.


"Kok sepi Tang?" tanya Cinta.


"Iya orang tua gue masih kerja. Mungkin jam 9 baru pulang, ini baru jam berapa ya?" Bintang menoleh ke arah jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 19.30 WIB.


"Lo istirahat aja dulu di kamar gue, nanti gue obati luka lo!" ucap Bintang sambil membawa Cinta ke kamarnya.


Cinta duduk diatas ranjang Bintang yang dirasa empuk itu, dia melihat di sekeliling kamar Bintang saat Bintang sedang mengambil kotak obat.


"Sini tangan Lo!" ucap Bintang yang tiba-tiba sudah duduk disamping Cinta.


Cinta dengan malu-malu mengulurkan tangannya kepada Bintang. Bintang melihat banyak luka lebam di tangan Cinta, dan bahkan memiliki bekas luka di lengan Cinta.


Selama ini Bintang tidak begitu memperhatikan Cinta, apalagi soal bekas luka tersebut yang diperkirakan sudah sangat lama.


"Cinta, kenapa lo gak pernah cerita sih sama teman-teman lo?" tanya Bintang sambil mengoleskan obat ke luka Cinta secara perlahan-lahan.

__ADS_1


"Gue gak mau ini tersebar Tang, gue harap lo juga bisa merahasiakan ini ya," ucap Cinta.


"Yaudah deh Cin, gue akan bantu rahasiakan semua hal ini. Tapi kalau lo ada masalah jangan sungkan buat cerita ke gue, siapa tahu gue bisa bantu!"


"Iya Tang, makasih ya!" ucap Cinta diikuti dengan senyuman yang manis.


"Cinta, lo boleh anggap gue sahabat kalau lo gak punya perasaan apa-apa sama gue. Gue gak maksa lo buat nerima gue dan gue juga gak mau lo nerima gue hanya karena lo kasihan sama gue!" ucap Cinta.


"Iya Bintang, gue tahu kok. Memang lebih baik kita gak pacaran Tang, apalagi kondisi gue sekarang lo juga udah tahu kayak gimana. Ini salah satu alasan gue gak mau dekat sama siapapun itu Tang, gue kurang percaya diri!" ucap Cinta mencurahkan semua isi hatinya yang dia pendam selama ini.


"Gue gak mempermasalahkan itu Cin," ucap Bintang dengan lembut.


"Gue tahu lo gak mempermasalahkan ini tapi gue yang malu Bintang. Gue lebih baik fokus untuk mencari uang dulu Tang, bahkan untuk makan sehari-hari saja gue masih susah Tang!" ucap Cinta menceritakan semuanya kepada Bintang.


Tanpa sengaja, Bintang menyadari kalau ucapan Cinta ini mengartikan bahwa Cinta menolak dirinya. Tapi Bintang tidak mempermasalahkan hal itu, setidaknya dia masih bisa menjadi sahabat Cinta yang bisa menemani Cinta kembali menjalani hidupnya yang pahit.


"Kalau boleh tahu emang ayah lo kemana Cin? Kenapa lo yang harus menanggung semua beban ini?" tanya Bintang.


"Gue gak punya ayah Tang!" ucap cinta.


Bintang terkejut mendengar penjelasan Cinta, dia tidak menyangka selama ini cinta tulang punggung keluarga. Bahkan sudah menafkahi Ibunya, tetapi Ibunya malah bersikap kejam kepada Cinta.


"Sejak gue lahir gue juga gak punya seorang ayah Tang, bahkan ibu gue sendiri gak tahu siapa ayah gue," ucap Cinta sambil menangis.


"Kenapa bisa gitu?" tanya Cinta.


"Ibu gue p*lacur Tang!" sahut Cinta.


Cinta menutup mulut dengan kedua tangannya, dia sungguh terkejut setelah mendengar cerita pilu Cinta.


"Kenapa lo gak tinggalin aja Ibu lo Cin?" tanya Bintang ragu.


"Mau gimana juga itu Ibu gue Tang, gue masih menunggu dia bisa mengubah sikapnya," ucap Cinta.


"Tapi selama ini Ibu lo memperlakukan lo tidak seperti anaknya sendiri Cin, lo masih berharap apa sama Ibu lo?" tanya Bintang dengan nada yang sedikit tinggi.


Cinta terdiam, dia tahu penantiannya akan sia-sia dan harapannya itu tidak mungkin akan terjadi.


"Ma..maaf Cin, gue gak bermaksud menghakimi lo!" ucap Bintang setelah tersadar dari nada bicaranya yang tinggi.

__ADS_1


"Gak apa-apa Tang, yang lo bilang itu benar. Gue selalu berharap kalo Ibu gue bisa sayang sama gue seperti ibu-ibu pada umumnya, namun bertahun-tahun gue menunggu tapi tidak ada perubahan apapun," ucap Cinta sambil menghapus air matanya yang terus menerus menetes.


__ADS_2