
"Gak usah merasa paling tersakiti deh, gue maafin lo!" kata Erna menghempaskan rambut Cantika yang dia genggam tadi.
"Lain kali punya mulut dilatih untuk bicara sopan ya!" pesan Erna dengan nada tinggi kepada Cantika.
"Ishh! Andika lihat mereka nindas gue, lo diam aja?" rengek Cantika menghampiri Andika yang duduk di sebuah kursi dekat perkara tadi.
Cantika menggenggam lengan Andika berharap Andika membelanya.
"Apa urusannya sama gue?" sahut Andika cuek.
"Setidaknya lo bantu gue lah, kita kan pernah satu sekolah. Sama-sama murid baru masa iya gue di tindas lo diem aja?" protes Cantika meminta pembelaan dari Andika.
"Kalau lo bisa bawa diri lo sendiri dengan baik, lo gak akan di perlakukan seperti itu sama mereka!" ucap andika yang membuat Cantika kesal dengan jawaban Andika.
Harapan Cantika musnah begitu saja ketika melihat betapa cueknya Andika kepada dirinya itu.
"Genit amat sih lo jadi cewek, lihat tuh jadi malu sendiri kan, hahaha!" teriak Erna kepada Cantika.
Cinta yang melihat itu juga tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar tidak menyinggung Cantika.
"Apa sih lo? Ikut campur aja urusan gue!" sahut Cantika kesal lalu pergi meninggalkan kelas.
"Kasihan deh di cuekin!" sindir Erna kepada Cantika ketika Cantika melewati dirinya keluar kelas.
Namun Cantika tidak merespon, dia meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh ke arah Erna.
Cantika pergi ke taman sekolah berharap bisa menenangkan dirinya dari kejadian mengesalkan tadi.
"Ih! Bisa-bisanya sih Andika cuek banget sama gue. Padahal kan gue cantik, kaya, modis lagi, tapi dia malah suka sama Cinta, cewek dekil itu!" geram Cantika.
"Ih! Kesal banget gue. Kenapa gue bisa kalah sih sama si dekil itu!" Cantika menghardik Cinta berkali-kali berharap rasa kesalnya mulai berkurang.
Tetapi semakin memikirkan kejadian tadi, Cantika semakin kesal.
"Hai, lo anak baru ya?" tanya seorang pria menghampiri Cantika.
"Iya!" sahut Cantika tanpa menoleh ke arah Rian
"Kenalin nama gue Rian kelas 12, nama lo siapa?" tanya Rian sambil mengulurkan tangannya ke arah Cantika.
"Cantika!" sahut Cantika tanpa menghiraukan uluran tangan Rian.
"Lo ngapain duduk di sini sendirian? Lagi kesal ya?" tanya Rian basa basi sambil duduk di sebelah Cantika.
"Ada urusannya sama lo?" sahut Cantika jengkel.
__ADS_1
"Gak ada sih, cuma gue pingin tahu aja siapa tahu gue bisa gitu kan nenangin lo," sahut Rian.
"Gue lagi kesal sama teman sekelas gue, namanya Cinta!" kata Cantika yang masih tetap tidak menoleh ke arah Rian.
"Cinta yang biasanya jual jasa ngerjain tugas-tugas itu?" tanya Rian.
"Iya, lo kenal?" tanya Cantika sambil menoleh ke arah Rian.
"Ya kenal lah. Gue salah satu pelanggannya," sahut Rian.
"Owh!" sahut singkat Cantika.
Dia tidak ingin berurusan lagi sama orang yang mengenal musuhnya.
"Gue pergi dulu ya!" kata Cantika beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Rian sendirian di taman.
'Huh bukannya tenang tapi malah semakin kesal. Emang Cinta se-terkenal itu ya, sampai-sampai kakak kelas saja kenal dia,' kesalnya dalam hati.
...****************...
"Hai Cantik!" sapa Andika menghampiri Cinta yang sedang berdiri di pintu kelas bersama Erna.
"Sorry, gue bukan Cantika. Nama gue Cinta!" sahut Cantika judes.
"Mmm..Cin, gue ke kantin dulu ya, lapar!" kata Erna mencari alasan untuk pergi.
Namun Erna keburu pergi sebelum Cinta berbicara.
'Ish! Erna pasti sengaja!' keluh Cinta.
"Gue gak manggil Cantika kok, gue sedang muji lo cantik," jelas Andika meluruskan pikiran Cinta.
"Owh! ngapain lo muji-muji kayak gitu?" tanya Cinta yang terlihat tidak senang.
"Emang gak boleh gue puji lo cantik?" Andika balik bertanya.
"Gaklah!"
"Yaudah berarti gue bilang ganteng boleh dong?"
"Gak gitu juga, ish lo mah ngeselin!" kata Cinta kemudian dia pergi untuk duduk di dalam kelas.
Cinta baru sadar kalau kelas sudah sepi, yang tersisa hanya dia dan Andika.
"Eh lo jangan ngambek gitu dong, gue kan cuma bercanda!" kata Andika menangkap tangan Cinta dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Udah deh jangan ganggu gue, ngapain sih lo gangguin terus? Gak bosan apa gangguin gue terus?" kata Cinta mengeluhkan sikap Andika.
"Yaudah deh gue ngaku, gue sebenarnya suka sama lo!" ucap Andika terus terang kepada Cinta.
"Hah? Becanda lo?" ucap Cinta yang tidak percaya.
Namun melihat raut wajah Andika yang serius, Cinta menjadi sangat canggung yang tadinya biasa saja.
"Lo seriusan suka sama gue?" Cinta kembali bertanya.
"Emang lo pikir gue bakalan main-main sama ungkapan itu? seumur-umur gue baru kali ini mengungkapkan perasaan gue kepada wanita Cin, biasanya gue dulu pacaran karena yang cewek nembak duluan ke gue," jelas Andika dengan raut wajah yang serius.
"Sombong lo?" tanya Cinta bergurau.
"Bukan masalah sombong atau enggaknya. Tapi nunjukin kalau gue beneran serius sama lo," kata Andika.
"Tapi gue gak mau pacaran," kata Cinta menolak Andika dengan begitu enteng.
"Kita bisa berteman kan?" tanya Andika masih dengan ekspresi serius menatap Cinta.
Cinta mengangguk dan tersenyum, dia memilih untuk berteman daripada bermusuhan.
"Syukurlah gue masih bisa jadi teman lo. Tapi gue harap lo tahu kalau gue masih mencintai lo Cin sampai kapanpun," kata Andika.
"Oke!" sahut Cinta.
KRINGG...KRINGG...KRIING...
Bel pulang berbunyi, seluruh siswa berkumpul di lapangan untuk berbaris mendengar pengumuman kegiatan besok.
"Cin, tadi Andika ngomong apa sama lo di kelas? Kok kayaknya serius banget?" tanya Bintang yang berbaris di samping Cinta.
"Gak sih, dia cuma ngobrol biasa aja gak serius juga kok," sahut Cinta berbohong.
Dia gak mau mengatakan kalau Andika menyukainya, dia gak mau membuat Bintang sakit hati karena dirinya. Terlebih lagi Bintang dan keluarganya sudah sangat berjasa dalam kehidupannya.
"Masa sih? Kok gue lihat lo sama dia ngobrol serius?" tanya Bintang yang masih tidak percaya.
"Gak kok Tang, cuma ngobrol yang gak penting," kata Cinta yang masih berbohong.
"Oh gitu ya, syukurlah!" ucap Bintang tanpa dia sadari.
"Syukur kenapa? Emang apa yang lo takutkan?" tanya Cinta.
"Oh...Ah gak kok, gak apa-apa. Dengerin pengumuman besok aja," kata Bintang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
'Tapi sejak kapan Cinta sama Andika begitu akrab ya?' tanya Bintang kepada dirinya sendiri.
Namun Bintang tidak ingin terlalu memikirkannya, dia kembali fokus mendengar pengumuman untuk besok. Terlebih lagi besok dia ada lomba, dia sebelumnya sudah berpesan kepada Cinta agar mau menyemangatinya saat lomba berlangsung. Cinta juga sudah menyetujui permintaan dari orang yang dia anggap sebagai sahabatnya itu.