Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
CHAPTER 27


__ADS_3

Seminggu kemudian, sekolah Cinta merayakan ulang tahun sekolahnya dengan berbagai lomba.


Lomba pertama yang dimulai pada tanggal 27 April 2019 tepatnya hari senin yaitu lomba memasak yang akan diikuti oleh seluruh siswa dalam satu kelas masing-masing. Setelah ini juga akan di adakan lomba baca puisi.


Teman sekelas Cinta termasuk Cinta sendiri semua sibuk menyiapkan lomba yang akan segera di mulai. Setiap orang mendapat bagiannya untuk membawa bahan makanan. Riana yang sebagai ketua kelas mengecek setiap bahan atau alat dari teman-temannya.


"Oke, semua sudah membawa bahan dan alat sesuai pembagiannya. Semoga nanti kita bisa bekerjasama dengan baik ya. Dan lo Riski, gue harap lo gak bikin rusuh," kata Riana yang was-was Riski membuat onar saat acara lomba berlangsung.


"Apaan sih lu, curiga terus sama gue," kesal Riski.


"Pokoknya nanti usahakan kita harus kompak ya!" kata Riana penuh semangat.


"Cih, lebay banget, padahal cuma lomba di sekolah saja untuk apa sesemangat ini," ujar Cantika yang merasa tidak senang.


"Walaupun cuma di sekolah kita juga harus semangat mengikutinya. Namanya juga perlombaan pasti ingin menang kan meski hadiah yang akan di dapat tidak seberapa. Tetapi setidaknya kita belajar kerjasama dan kekompakan disini!" sahut Cinta panjang lebar.


Perkataan Cinta tentu saja sangat menyinggung perasaan Cantika. Namun, karena ada Andika, Cantika berusaha untuk bersabar. Cantika tahu Andika menyukai Cinta, dia tidak mau terlihat jelek di depan Andika.


Kring...


Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa di perintahkan untuk berbaris di lapangan untuk mendengarkan beberapa pengumuman sebelum acara lomba di mulai.


"Kita akan mengadakan lomba memasak di masing-masing kelas. Waktu lomba memasak 1 jam, setelah selesai memasak perwakilan dari kelas membawa ke meja juri yang ada di lapangan ini. Dan yang lainnya silahkan menghidangkan makanan sisanya untuk kalian makan bersama nanti!. Sampai di sini sudah paham?" tanya seorang guru yang bukan mengajar di kelas Cinta.


"Paham!" sahut serempak para siswa.


"Baik lomba akan di mulai dari jam 08.00-09.00, kalian sudah bisa bersiap-siap sekarang!" kata guru tersebut.


Para siswa pun mulai bubar menuju ke kelas mereka masing-masing untuk menyiapkan bahan masakan mereka.

__ADS_1


Di sini mereka tidak perlu lagi menggunakan kompor, api atau segala macam karena bahan yang perlu menggunakan api seperti itu sudah di masak dari rumah mereka masing-masing. Apalagi masalah bumbu, mereka juga harus bisa memasaknya dari rumah saja. Sehingga saat di sekolah, mereka hanya mencampurkannya dengan bahan-bahannya saja.


Namun berbeda dengan kelas Cinta, sebelum lomba di mulai beberapa hari lagi, Riana bertekad untuk meminjam kompor yang ada di sekolah. Kebetulan kelas lain tidak ada yang memakainya, akhirnya pihak sekolah mau meminjamkannya.


Jam sudah menunjukkan 08.00, seluruh kelas nampak sibuk untuk memulai perlombaan tersebut. Seluruh kelas terdengar sangat bising karena teriakan-teriakan siswa-siswa.


Tak kalah sibuknya dengan kelas Cinta, terlihat mereka sangat kompak untuk mengerjakan bagian yang mereka dapatkan. Cinta bertugas untuk menggoreng ayam yang sudah di baluri tepung. Sedangkan Riana mendapat bagian untuk menggeprek ayam yang sudah di goreng oleh Cinta.


Untuk bumbu, Riana memerintahkan Cantika untuk menguleknya. Sengaja tidak di ulek dari rumah, agar sambalnya terasa fresh dan tentunya menggugah selera.


Riana melihat sekilas ke arah Cantika, tampaknya Cantika tidak pernah memasak di rumahnya. Ini terlihat saat dia menhanluskan bumbu dengan memukul-mukul cobek dengan batu pengulekannya hingga bumbu yang lainnya melompat-lompat keluar.


Melihat hal seperti itu, Riana dengan cepat menghampirinya, "duh! Gak kayak gitu caranya. Masa ulek bumbu sambal saja kamu gak bisa sih! Nih lihat aku kasih tahu caranya!" Riana merampas batu pengulekan dari tangan Cantika dan memberikan contoh cara mengulek bumbu-bumbu tersebut hingga halus.


"Gitu caranya, coba lanjutin!"


"Kalau masak tuh jangan cemberut, nanti rasa masakannya gak enak!" kata Riana menasehati Cantika.


"Apa hubungannya coba ekspresi wajah sama rasa masakan!" tukas Cantika.


"Kata orang-orang terdahulu memang seperti itu, karena kita dalam kondisi marah dan gak ikhlas makanya masakannya jadi tidak enak," kata Riana menjelaskan.


"Yaudah deh gue senyum nih," kata Cantika menunjukkan senyum lebarnya.


Cinta dan Erna yang sedari tadi menguping pembicaraan Riana dan Cantika tertawa kecil.


"Lagi bikin apa tuh cantik?" tiba-tiba Andika menghampiri Cinta yang masih sibuk menggoreng ayam.


"Hei cantik, sibuk ya?" tanya Andika sekali lagi.

__ADS_1


Namun tetap saja Cinta tidak merespon pertanyaan Andika tersebut.


"Lo gak lihat Cinta lagi sibuk goreng ayam? Kalau mau basa basi aja mending lo pergi deh, gak ada waktu buat meladeni basa basi lo," sahut Erna dengan nada tak suka.


"Lo siapa ngatur-ngatur gue?" ucap Andika memandang remeh Erna.


"Yang di bilang Erna bilang, lebih baik lo pergi atau bantuin yang lain deh. Tuh lihat Riski, sama teman-temannya pada sibuk potong dan bersihin sayuran," usir Cinta.


"Tuh dengar gak lo?" imbuh Erna yang merasa sedikit menang dari Andika.


"Tapi kan tugas yang di berikan ke gue udah selesai. Ngapain gue bantu mereka," sahut Andika.


"Ya apa salahnya sih saling membantu, kita ini team ya kalau mau cepat selesai lebih baik saling membantu," kata Cinta.


"Yaudah deh, tapi ini karena kamu ya makanya aku mau bantu mereka," ucap Andika manis.


"Terserah lo!" sahut Cinta yang merasa kesal.


Meski mendapat jawaban yang seperti itu, namun Andika tetap senang bisa berbicara dengan Cinta. Andika pergi meninggalkan Cinta menuju dimana Riski dan teman-temannya sedang mencuci bersih sayuran yang akan di jadikan lalapan untuk ayam geprek mereka nanti.


45 menit berlalu, masakan di kelas Cinta sudah siap untuk di hidangkan di atas piring. Riana bertugas untuk menata hidangannya agar terlihat cantik di atas piring. Sedangkan Riski yang sedari tadi bertugas mencicipi hidangan untuk tes rasa.


"Riski udah sudah cukup ya icip-icipnya. Kalau di terusin nanti yang lain gak kebagian," kata Riana.


"Habisnya enak sih, hehe".


Akhirnya sesi penilaian juri pun di mulai, perwakilan kelas membawa hidangan mereka masing-masing ke meja juri yang ada di lapangan. Namun, mereka tidak perlu menunggu Juri untuk selesai makan karena ini satu team jadi hanya nilai skor yang akan di berikan. Nantinya akan ada sebuah surat yang akan di berikan persatu kelas untuk hasil penilaiannya.


"Udah nih, kita tinggal menunggu penilaian dari juri saja," kata Cinta setelah membawa hidangannya ke meja juri bersama Riana.

__ADS_1


__ADS_2