Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 97


__ADS_3

Di rumah makan Pak Santoso, terlihat Pak Santoso sedang menunggu seseorang dengan rut wajah yang sangat khawatir.


"Cinta kenapa belum datang ya? Dia bilang dia akan telat 1 jam. Tapi ini sudah 2 jam dari biasanya dia belum datang. Teleponnya juga tidak aktif, apa lagi ada urusan ya?" tanya Pak Santoso pada dirinya sendiri.


Dia mencoba kembali menghubungi telepon Cinta namun tetap tidak aktif. Karema merasa tidak tenang dan pelanggan juga sepi, akhirnya Pak santoso memutuskan untuk datang ke rumah Cinta.


Pak santoso segera menutup rumah makannya, lalu menyalakan sepeda motornya dan pergi ke rumah Cinta.


Sesampainya di rumah Cinta, Pak Santoso parkir di luar pagar rumah Cinta. Dia bergegas ke depan pintu rumah Cinta dan mengetuk pintu.


TOK! TOK! TOK!


Berulang kali Pak Santoso mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban dari Cinta. Pak Santoso memutuskan untuk menunggu di atas motornya.


10 menit kemudian, Andika lewat di rumah Cinta dan melihat Pak Santoso sedang duduk di atas motornya. Andika pun menghentikan sepeda kotornya fi samping Pak Santoso dan menyapanya.


"Bapak kenapa di rumah Cinta?" tanya Andika.


"Kamu baru pulang daru sekolah ya? Cinta dimana? Kenapa dia tidak pulang sama kamu?" tanya Pak santoso yang sangat mengkhawatirkan Cinta.


Andika tampak bingung dan belum menyadari bahwa Cinta telah menghilang.


"Bukannya Cinta pulang duluan ya? Saya kira dia buru-buru pulang karena mau bekerja!" ucap Andika.


"Cinta tidak datang. Dia sempat mengirim pesan bahwa dia akan telat 1 jam, tapi saya tunggu selama 2 jam Cinta belum juga datang!" kata Pak Santoso.


"Bapak sudah telepon belum?" tanya Andika.


"Handphonenya tidak aktif. Saya berulang kali meneleponnya! Kamu yakin Cinta pulang duluan?" tanya Pak Santoso memastikan.


"Yakin, tadi dia sempat kirim pesan juga ke saya!" kata Andika sambil merogoh sakunya dan mengambil handphone laku menunjukkan isi chat nya Cinta.


"Lalu kemana perginya Cinta?" tanya Pak Santoso.


"Saya juga tidak tahu Pak! Kalau di sekolah tidak mungkin karena di sekolah sudah sepi saat saya akan pulang!" kata Andika yang juga menunjukkan raut wajah khawatir.


"Kira-kira kemana tempat biasanya Cinta pergi?" tanya Pak santoso berusaha mencari petunjuk.


"Dia tidak pernah pergi kemana-mana Pak! Setelah pulang sekolah dia langsung ke rumahnya!" ujar Andika.


"Apa mungkin Cinta di culik? Jika iya siapa pelakunya?"


"Tidak mungkin Pak, sudah lewat 2 jam sejak Cinta mengirim pesan kepada Bapak. Jika dia di culik, penculiknya pasti sudah menghubungi kita untuk meminta uang tebusan," kata Andika.


Pak Santoso dan Andika berfikir keras untuk menemukan Cinta. Dia ingin melapor polisi juga belum bisa. Tapi jika dia hanya diam seperti ini tidak ada hasil yang dia dapatkan. Andika akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolahnya untuk mengecek kembali bahwa Cinta beneran sudah pulang.


"Pak saya kembali ke sekolah untuk cek Cinta. Bapak tunggu saja di rumah makan siapa tahu Cinta pergi ke sana!" kata Andika.


Pak Santoso pun menyetujui perkataan Andika, dia kembali ke rumah makannya menunggu Cinta sekaligus menunggu kabar dari Andika.


'Cinta gue harap ini tidak seperti kasus Ibu lo!' batin Andika penuh kekhawatiran.


Andika mempercepat kecepatan sepeda motornya, satu-satunya tempat yang dia curigai adalah sekolah.


'Meskipun seluruh siswa sudah pulang namun beberapa guru pasti masih ada di sekolah. Gue harus bergegas sebelum mereka pergi dan gerbang sekolah di tutup!' batin Andika.


Beberapa saat kemudian, Andika sampai di gerbang sekolahnya dia langsung parkir di sana dan mencari seorang guru di ruang guru untuk melapor menghilangnya Cinta.


"Pak Yoga!" teriak Andika kepada Pak Yoga yang hendak keluar dari ruang guru.


Pak Yoga yang merupakan guru matematika tersebut menoleh ke sumber suara.


"Pak Yoga! Tolong bantu saya Pak Yoga!"ucap Andika dengan nafas yang terengah-engah.


"Ada apa Andika? Kamu tenang dulu, atur nafas dulu!" ucap Pak Yoga.


"Cinta Pak Yoga! Cinta hilang. Dia gak ada di rumahnya," kata Andika.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang pergi kemana gitu? Kamu yakin Cinta tidak pergi kemana-mana setelah pulang sekolah?" tanya Pak Yoga.


"Tidan Pak! Cinta pasti akan langsung pulang setelah pulang dari sekolah. Tadi dia juga menghubungi saya kalau dia mau pulang. Tapi sekarang handphonenya mati!" kata Andika.


"Ya sudah kalau begitu kita coba cek di CCTV ya, kemana saja dia pergi!" kata Pak Yoga.


Pak Yoga mengajak Andika untuk masuk ke ruangan pengecekan CCTV. Mereka mencoba memundurkan waktu saat pulang dari sekolah.


"Pak coba yang di taman Pak. Soalnya saya sempat menyuruhnya untuk menunggu di taman, tapi dia bilang untuk pulang duluan setelah beberapa menitnya!" kata Andika.


Pak yoga oun mengikuti perkataan Andika. Terlihat saat itu Cinta duduk di taman dengan memainkan ponselnya untuk beberapa menit. Dan terlihat wanita yang menghampirinya tadi.


"Siapa siswa itu? Kenapa setelah dia berbicara Cinta pergi meninggalkan taman?" tanya Andika pada Pak Yoga.


"Bapak juga tidak tahu. Tapi sepertinya Cinta akan pergi ke ruang kelas 12C, tapi sayangnya CCTV di sana mati. Coba kita cari ke sana saja yuk!" ajak Pak Yoga.


Andika dan Pak Yoga pun datang ke jelas tersebut. Namun mereka tidak menemukan siapa-siapa setelah sampai di sana.


'Kenapa ada kunci di pintu gudang ini?' batin andika yang tanpa sengaja melihat kunci yang masih menggantung di pintu gudang dari kejauhan.


"Pak kunci gudang biasanya tersimpan dimana?" tanya Andika kepada Pak Yoga.


"Biasanya di simpan di ruangan khusus jadi satu sama kunci seluruh kelas. Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Pak Yoga.


"Sesuai dugaan ku!" Andika segera pergi ke gudang tersebut dan membuka pintu.


Dia menemukan Cinta yang sudah tidak sadarkan diri kembali dengan keringat yang bercucuran du badannya karena sangat panas. Andika mengangkat tubuh Cinta keluar dari gudang.


"Pak Yoga tolong!" teriak Andika kepada Pak Yoga.


"Cinta kenapa?" tanya Oak Yoga yang melihat Andika sudah menggendong Cinta.


"Cinta tidak sadarkan diri Pak. Tolong antar ke rumah sakit Pak!" kata Andika.


"Baik, Baik. Kita pakai mobil Bapak saja!" sahut Pak Yoga lalu bergegas ke parkiran.


Andika memasukkan Cinta ke dalam mobil setelah mobil siap, setelah itu mereka berangkat ke rumah sakit.


...***...


Setelah sampai di rumah sakit, Cinta di rawat oleh dokter dan di katakan bahwa Cinta hanya pingsan biasa.


"Syukurlah kamu gak kenapa-kenapa Cin!" ucap Andika.


"Pak Yoga, kalau masih sibuk Bapak bisa pergi. Biar saya saja yang jaga di sini!" ucap Andika beralih ke Pak Yoga.


"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu ya, kalau ada apa-apa telepon Bapak," kata Pak Yoga.


"Terimakasih Pak Yoga!" ucap Andika.


Setelah Pak Yoga pergi, Andika duduk di kursi tepat du samping Cinta. Dia menggenggam jari-jari Cinta yang kasar karena pekerjaannya.


'Syukurlah aku bisa menemukan kamu Cin, kalau enggak aku gak tahu apakah aku bisa tenang tidur malam ini,' batin Andika.


Beberapa saat Cinta sudah siuman, Andika merasa sangat senang melihat Cinta sudah siuman.


"Cin kamu gak apa-apa? Apa ada yang sakit? Gimana perasaan kamu?" tanya Andika bertubi-tubi.


Tiba-tiba Cinta memeluknya dengan erat dan menangis namun tidak berkata sepatah kata pun kepada Andika.


"Cin kamu kenapa? Kamu jangan menangis. Apa ada yang sakit?" tanya Andika yang khawatir dengan keadaan Cinta.


"Aku takut Dik, di sana gelap!" ujar Cinta sambil melepas pelukannya.


"Udah Cin, sekarang kamu jangan takut lagi. Aku ada di sini, di samping kamu!" kata Andika menenangkan Cinta.


"Siapa yang melakukan ini sama kamu Cin?" tanya Andika.

__ADS_1


"Aku gak tahu. Aku cuma ingat seseorang suruh aku ke ruang kelas 12C katanya kamu nunggu di sana. Tapi saat aku ke sana ada orang yang mendekap ku dari belakang!" kata Cinta.


"Kamu tenang saja ya, siapapun itu aku pasti akan memberi mereka pelajaran. Dan satu hal lagi, aku tidak akan mungkin menyuruh siapapun untuk memanggilmu datang kepadaku. Jika aku perlu sesuatu aku akan datang sendiri dan jika kamu perlu aku, aku yang akan menemui mu. Jadi lain kali jangan pernah percaya lagi ya," ucap Andika.


"Iya Dik, makasih Andika!" kata Cinta memeluk Andika kembali.


"Kamu jangan takut lagi ya Cinta. Maaf aku gak bisa melindungi kamu tepat waktu," ujar Andika.


"Ini bukan kesalahanmu!"


Setelah Cinta merasa badannya kembali seperti biasa, dia izin untuk pulang kepada dokter yang merawatnya. Dan dokter pun mengijinkannya karena memang tidak ada yang serius dengan Cinta.


"Kamu tinggal di rumah aku aja ya Cin!" kata Andika kepada Cinta saat berjalan keluar rumah sakit.


"Gak Dik! Aku tidur di rumah aja!" sahut Cinta menolak permintaan Andika.


"Kali ini aja Cin. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa lagi. Lagipula aku sudah berjanji sama Mama untuk mengajak kamu menginap di rumah," kata Andika membujuk Cinta.


"Baiklah! Tapu cuma satu hari saja ya!" kata Cinta memastikan.


"Iya Cin, satu hari aja!" sahut Andika.


Setelah Cinta setuju untuk menginap di rumah Andika, setelah pulang dari rumah sakit mereka langsung pergi ke rumah Andika. Kebetulan besok adalah hari libur jadi tidak perlu membawa buku atau keperluan sekolah lainnya.


"Kok sepi ya?" tanya Andika pada Cinta ketika sudah sampai di rumah.


Andika segera menelepon Naya, karena jam sudah menunjukkan jam 7 malam tidak biasanya rumahnya menjadi sepi.


"Ma, dimana? Kok sepi? Cinta udah setuju nih menginap di rumah!" ucap Andika.


"Aduh Mama minta maaf ya sayang. Mama harus lembur hari ini kemungkinan pulang malam. Papa emang gak ada di rumah ya Dik?" tanya Naya.


"Gak ada Ma, coba aku telepon Papa deh!" kata Andika.


Andika pun menelepon Papanya setelah mematikan telepon dari Naya.


"Pa, dimana? Cinta mau nginap di rumah!" kata Andika tanpa basa basi.


"Sebentar lagi Papa pulang. Kamu mau nitip apa?" tanya David.


"Aku pesan pizza ya Pa!" ucap Andika.


"Oke, di tunggu ya! Oh ya Cinta mau pesan apa dia? Biar sekalian Papa bawain!" ucap David.


"Cinta, kamu mau pesan apa katanya?" tanya Andika kepada Cinta.


Cinta memberikan kode dengan gelengan kepala yang artinya dia tidak memesan apapun.


"Beliin aja ayam crispy ya Pa!" sahut Andika.


'Aku gak pesan Dik!' bisik Cinta.


"Ya udah Pa aku matiin ya!" ucap Andika tampa menghiraukan bisikan Cinta.


"Dik, aku gak pesan apa-apa loh!" ujar Cinta yang merasa tidak enak.


"Gak apa-apa! Lagipula kamu pasti belum cobain kan ayam crispy!" sahut Andika.


"Ya udah kalau gitu kita nonton tv aja dulu!" kata Andika mengajak Cinta duduk di sofa.


"Ih ya Dik, handphone aku hilang. Kamu ada nemu gak di gudang atau di ruang kelas 12C?" tanya Cinta.


"Gak ada Cin! Udah nanti gue beliin yang baru. Lagipula itu pemberian dari cowok lain," kata Andika.


"Bukan gitu, tapi di sana ada nomor Pak Santoso. Aku belum kabari Pak Santoso!" ujar Cinta.


"Oh ya ngomong-ngomong masalah Pak santoso, beliau datang ke rumah kamu tadi. Dan kayaknya khawatir, biar aku kirim pesan dulu agar Pak Santoso tidak khawatir lagi!" kata Andika.

__ADS_1


"Sampaikan juga kata maaf ku!" kata Cinta.


"Siap Nona!" ujar Andika.


__ADS_2