Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 94


__ADS_3

2 minggu kemudian...


Setelah Cinta tahu bahwa Marchel telah membunuh Ibunya dan berada di penjara, Bintang tidak berani lagi menyapa Cinta. Begitu juga dengan Cinta yang tidak berani mengobrol dengan Bintang karena Andika.


Bintang hanya melamun, melihat Cinta dari kejauhan. Hubungannya dengan Cinta seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Dan pelaku utama yang dia anggap penyebab dari semua ini adalah Andika.


Bintang menyimpan dendam kepada Andika, dia tidak akan membiarkan Andika begitu bahagia dengan Cinta.


'Seminggu yang lalu ada siswa pindahan lagi dari sekolah sebelah. Dia sangat cantik dan bahkan sangat di puja oleh para siswa laki-laki di sekolah ini. Dengar-dengar dia anak orang kaya, mungkin gue bisa manfaatin dia untuk menghancurkan hubungan Cinta dan Andika!' batin Bintang.


Tepat setelah memikirkannya, siswa pindahan yang bernama Dewi itu masuk ke kelas setelah selesai istirahat.


"Dewi!" seru Bintang memanggil Dewi.


Dewi menoleh ke arah Bintang, dia menghampiri Bintang yang tadi memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Dewi.


"Gue mau ajak lo kerja sama!" ucap Bintang.


"Kerja sama? Kerja sama apa?" tanya Dewi penasaran.


"Gue tahu lo suka sama Andika. Lo mau dapatin Andika kan?" ucap Bintang


"Terus?" tanya Dewi sepertu tertarik dengan kerja sama yang di ucapkan oleh Bintang.


"Jadi gue mau lo deketin Andika. Buat dia jatuh cinta sana lo, gue yakin dengan wajah lo cantik Andika gak mungkin bisa menolak untuk jatuh cinta sama lo," kata Bintang.


"Kelihatannya bagus. Tapi bagaimana jika Andika gak suka sama gue?" tanya Dewi.


"Kita masih punya Cinta. Li tahu kan Andika siswa populer di sekolah sama seperti lo. Mereka melihat ko sama Andika pasti akan merasa kalau lo sama Andika lebih serasi daripada Cinta. Dengan membuat Cinta tidak percaya diri, Cinta akan mundur secara perlahan dan melepaskan Andika!" kata Dewi.


"Itu artinya melempar satu batu dua burung kena sekaligus. Menarik juga!" ucap Dewi.


"Kalau gitu deal ya! Kerja sama ini saling menguntungkan kita. Gue juga pasti akan bantu lo untuk membuat Cinta mundur!" ucap Bintang.


"Oke kalau begitu!" sahut Dewi yang langsung meninggalkan Bintang.


Bintang tersenyum setelah rencananya berhasil. Dia tidak menyangka bahwa Dewi akan mudah untuk di ajak bekerja sama.

__ADS_1


'Dengan adanya Dewi, rencana gue mendapatkan Cinta pasti akan berhasil,' batin Bintang.


Bel masuk berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing. Begitupula dengan Andika dan Cinta, mereka masuk ke kelas dan duduk di meja masing-masing.


Saat Andika baru saja duduk di mejanya, dia di hampiri oleh Dewi yang sedang membawa buku.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Andika.


"Lo lupa ya? Kita kan satu kelompok di mata pelajaran ini!" ucap Dewi.


"Ya udah lo ke sini nya nanti saja, lagipula guru belum datang!" kata Andika.


"Ya udah deh!" ucap Dewi dan kembali ke mejanya.


'Cowok biasanya suka cewek yang penurut. Kalau begitu gue harus menuruti perkataannya dan tidak membuatnya marah. Gue gak percaya kalau gue gak bisa naklukin hati Andika, lagipula gue cantik dan juga kaya!' batin Dewi dengan penuh percaya diri.


Beberapa menit kemudian, guru yang mengajar di jelas Cinta masuk ke kelas. Guru tersebut mengingat tugas yang sempat dia berikan seminggu yang kaku dan menyuruh untuk para siswa duduk dengan teman satu kelompoknya.


Dia ingin mereka mempresentasikan hasik kerja mereka yang telah di berikan waktu selama satu minggu.


"Hai Andika, kita ketemu lagi!" ucap Dewi tersenyum manis ke arah Andika.


Andika bersikap cuek dan tidak peduli dengan sapaan Dewi. Meskipun begitu Dewi tetap happy aja, dia menarik sebuah kursi dan duduk di samping Andika. Sangat dekat sehingga Andika merasa sedikit risih.


"Cinta! Kamu berani melamun di kelas saya?" bentak guru tersebut yang membuat Cinta ketakutan.


Bagaimanapun juga Cinta jarang di bentak oleh seorang guru. Dia berulang kali meminta maaf, namun guru tersebut tidak menerimanya.


"Cin apa yang lo pikirin sih?" tanya Erna yang duduk di sebelahnya karena mereka satu kelompok.


"Kamu keluar dari kelas saya dan berdiri di depan kelas sampai pembelajaran berakhir!" perintah guru tersebut.


"Baik Bu!" sahut Cinta dan langsung pergi ke luar kelas menuruti perintah gurunya.


Dia melewati Andika dan Dewi yang duduk di depan, namun Cinta tidak menoleh ke arah mereka. Itu membuat hati Cinta sakit ketika melihat mereka.


'Jelas-jelas dia yang bilang tidak boleh bicara sama lawan jenis. Tapi dia sendiri yang mengingkari,' batin Cinta kesal.


Cinta tidak tahu bahwa Andika sudah berkali-kali menolak kehadiran Dewi, yang Cinta tahu hanya mereka tampak sangat akrab. Terlebih lagi Dewi siswa populer di kelas, berbeda dengan dirinya..

__ADS_1


'Duh Cinta kenapa ya? Kok bisa-bisanya dia melamun. Apa sebenarnya yang dia pikirin?' batin Andika yang tampak gelisah saat jam pelajaran.


Andika ingin sekali menghampiri Cinta, namun Dewi mencegahnya karena sebentar lagi mereka akan presentasi.


'Cinta pasti cemburu lihat gue dekatin pacarnya, Haha! Gak nyangka semudah ini untuk buat dia cemburu!' batin Dewi sambil tersenyum miring.


Setelah selesai jam pembelajaran, Cinta di perbolehkan untuk masuk ke kelas oleh guru tersebut. Cinta langsung menghampiri Erna untuk meminta catatan yang dia catat, setelah itu dia pergi ke mejanya untuk duduk.


Kakinya terasa pegal karena lama berdiri di depan pintu. Saat memijat pergelangan kakinya, Andika datang menghampirinya dan bertanya kenapa Cinta melamun.


"Gak apa-apa. Gue cuma melamun aja!" sahut Cinta yang masih kesal dengan Andika.


Tidak hanya dekat dengan cewek lain, bahkan Andika tidak tahu kesalahannya apa. Ini membuat Cinta sangat marah terhadapnya. Ingin rasanya Cinta memukul Andika karena sangat menyebalkan.


"Kamu kok jadi marahnya sama aku? Pakai gue, gue segala!" kata Andika yang masih belum menyadari kesalahannya.


"Lo pikir aja sendiri! Udah deh daripada lo ngajak ribut lebih baik lo balik ke tempat duduk. Sebentar lagi guru masuk kelas!" ucap Cinta dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Gue ke sini berniat baik, bertanya sama lo dan peduli sama lo. Tapi gini balasan lo hah? Malah marah-marah ke gue!" kata Andika yang ikut emosi karena tidak tahu kesalahannya apa.


"Pergi aja lo, gue gak butuh peduli lo!" kata Cinta.


"Udah deh pacar lo lagi marah, mending lo duduk aja sana!" kata Bintang menimpali pembicaraan mereka.


"Lo diam!" bentak Andika kepada Bintang dengan tatapan yang tajam.


"Lo gak berhak untuk melarang ria bicara. Yang di katakan Bintang benar, lebih baik Lo pergi dan jangan pedulikan gue lagi!" kata Cinta.


"Oke! Ini lo yang minta ya! Gue harap lo gak nyesel karena telah mendukung pria lain!" ucap Andika lalu pergi meninggalkan Cinta di mejanya.


'Ngapain gue nyesel? Lo bersikap seolah-olah gue yang salah. Lagipula kalau lo beneran peduli, sejak awal lo gak akan terlihat akrab sama lawan jenis!' batin Cinta.


Hatinya sangat sakit, terasa banyak beban di hatinya dan ingin berteriak untuk mengeluarkan beban tersebut. Kadangkala ingin menangis, namun Cinta tahu tempat. Ini bukan rumahnya, Cinta harus bisa menahannya dan berusaha bersikap cuek dengan keadaan saat ini.


Cinta menyingkirkan pikiran-pikiran tentang Andika, dia tidak mau kesalahan yang sama terulang lagi. Cinta fokus mendengarkan penjelasan guru yang sedang mengajar, dia tidak mengijinkan pikirannya tertuju pada Andika karena itu hanya membuatnya dalam masalah.


...***...


"Good Job! Lo berhasil membuat Cinta dan Andika bertengkar. Langkah selanjutnya lo tinggal berusaha mendapat pengakuan bahwa lo lebih pantas bersama Andika daripada Cinta. Dengan begitu semuanya akan lebih mudah," ucap Bintang sepulang sekolah bersama Dewi.

__ADS_1


"Tentu saja! Gue akan lakukan semaksimal mungkin!" kata Dewi penuh percaya diri.


'Sorry Cin, untuk mendapatkan hati lo, gue harus mengorbankan lo dulu. Gue tahu gue egois tapi Cinta susah untuk di tahan!' batin Bintang.


__ADS_2