
Bintang yang sudah selesai mengobati luka Cinta sejak tadi, merapikan kotak obatnya dan menyampingkannya. Lalu mendekati Cinta, tangannya mulai merangkul cinta dan menyandarkan kepala cinta ke bahunya.
"Cin, gak apa-apa kalau lo mau nangis. Sekarang ini gue sahabat lo jadi gak usah sungkan!" ucap Bintang.
"Bila perlu lo peluk gue dengan erat untuk melampiaskan semuanya!" imbuhnya.
Namun Cinta menolak, dia masih punya malu untuk bersikap seperti itu di depan Bintang. Cinta menghapus air matanya, dia tidak ingin menjadi orang yang lemah.
"Makasih Tang, tapi gue gak mau kayak gini terus, terpuruk dalam kesedihan!" ucap Cinta sambil mengeluarkan senyum manisnya.
Waktu berjalan sangat cepat, kini Cinta sudah tertidur lelap di kamar Bintang. Sedangkan Bintang masih asik menonton televisi di ruang tamu.
"Halo anak mama!" ucap Ibunya Bintang yang bernama Nadia dari pintu masuk rumah.
Dia dengan cepat menghampiri putranya yang sedang menonton tv di ruang tamu dan memberikan ciuman kasih sayang.
Bintang memang anak satu-satunya dari pasangan suami istri Nadia dan Marchel. Maka dari itu kedua orang tuanya sangat memanjakan dan menyayangi Bintang.
"Eh Mama sama Papa udah pulang! Oh ya karena kalian sudah pulang, aku mau ngomong sesuatu sama kalian, lebih tepatnya minta izin sih!" ucap Bintang yang membuat orang tuanya saling pandang.
Nadia dengan segera mendekat ke Bintang, dia penasaran apakah anaknya akan pergi ke suatu tempat atau kenapa?.
"Mau minta izin ngapain Bintang?" tanya Nadia.
"Bintang bawa teman ke rumah tapi cewek dan sekarang dia tidur di kamar Bintang. Dia...,"
"Apa? Kamu seorang wanita ke rumah? Apa wanita itu hamil atau bagaimana?" tanya Nadia memotong pembicaraan Bintang.
"Bu...bukan Ma, dengerin dulu penjelasan aku," ucap Bintang menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Dengerin dulu anak kita bicara Ma, belum apa-apa Mama udah heboh!" ucap Marchel menenangkan istrinya.
"Jadi Bintang bawa teman kan ke rumah, dia lagi tidur. Tadi pas Bintang antar ke rumahnya dia tiba-tiba di pukuli sama Ibunya karena pulang telat, dan...," Bintang pun menceritakan keadaan Cinta dirumahnya.
"Oh seperti itu, kasihan sekali anak itu ya mempunyai Ibu yang seperti itu," ucap Nadia dengan raut wajah yang ikut sedih.
"Ya maka dari itu Ma, Bintang juga kasihan sama Cinta makanya Bintang ajak ke sini aja. Boleh gak Ma dia tinggal disini beberapa hari aja?" tanya Bintang.
"Boleh kok sayang, Mama juga kasihan sama dia. Kalau Papa gimana?" Nadia menanyakan pendapat suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Kalau menurut Papa, teman kamu ini siapa tadi namanya? Cinta ya?. Dia kan masih dibawah umur, jadi kalau Ibunya melapor polisi bahwa anaknya hilang maka kamu akan kena kasus! Papa sih boleh-bolehin saja kalau kamu bantu teman kamu, asal dia sudah mendapat izin dari Ibunya," ucap Marchel.
__ADS_1
"Teman kamu Cinta udah di izinin belum untuk tinggal di sini?" tanya Nadia pada anaknya.
"Ya belum sih Ma. Mau gimana lagi tadi Bintang emosi, makanya langsung Bintang ajak ke sini," ucap Bintang.
"Tapi biar nanti kalau polisi datang, Bintang yang urus semuanya. Lagipula Bintang gak salah kok, Bintang cuma ingin bantu teman Bintang," ucap Bintang dengan rasa penuh tanggungjawab.
"Baiklah sayang. Kamu juga semakin hari semakin bertambah dewasa saja, Mama yakin kamu bisa mengatasi ini. Kami pasti akan membantu kamu kok Bintang," ucap Nadia sambil mengelus rambut anaknya.
"Makasih ya Ma, Pa!" ucap Bintang menatap kedua orang tuanya.
"Nanti kamu tidur dimana? Kamar kamu kan di pakai sama Cinta?" tanya Nadia.
"Aku tidur di sofa aja Ma," ucap Bintang.
"Di sini?" tanya Nadia memastikan.
Bintang menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Jangan! Nanti kamu kedinginan loh di sini," ucap Nadia yang merasa khawatir sama anaknya.
"Terus dimana Ma? Kan gak ada kamar lagi selain di sini," ucap Bintang.
"Iya ada sih sebenarnya, cuma gak pernah di bersihin!" ucap Nadia.
"Sebentar deh Mama bersihin dulu ya, nanti kamu tidur di sana saja," ucap Nadia.
"Iya deh Ma, makasih ya Ma. Sayang Mama!" ucap Bintang.
"Sama Papa gak sayang?" tanya Marchel yang merasa iri dengan kedekatan Ibu dan anak.
"Sayang juga lah Pa!" sahut Bintang.
Marchel pun tersenyum mendengar jawaban anaknya.
Bintang dan Marchel melanjutkan menonton tv diruang tamu, sedangkan Nadia pergi untuk membersihkan kamar yang sudah lama tidak terpakai.
"Teman kamu sudah makan?" tanya Marchel kepada Bintang.
"Belum Pa, tadi habis dari rumahnya langsung ke sini lagi. Terus dia keburu tidur," ucap Bintang.
"Gimana sih kamu, baru datang harusnya sudah di tawari makanan atau snack kan ada banyak di kulkas," ucap Marchel.
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi Pa, tadi Bintang emosi dan juga panik. Sampai sini Bintang obati luka memarnya dulu, kasihan dia kesakitan," ucap Bintang.
"Perhatian sekali kamu sama temanmu. Kamu suka ya sama dia?" tanya Marchel yang membuat wajah anaknya memerah.
"Eng...enggak kok Pa, Papa sok tahu," kata Bintang salah tingkah.
"Iya Papa juga hanya menebaknya saja. Tapi kamu malah salah tingkah seperti itu, bikin Papa curiga saja!" kata Marchel menggoda anaknya.
"Iya deh iya, memang gak bisa Bintang bohongi Papa. Bintang emang suka sama Cinta, tapi Cinta nolak Bintang, katanya dia mau fokus sekolah dulu dan cari uang!" ucap Bintang.
"Kamu dukung saja, jangan sampai memaksanya. Kamu sendiri juga tahu kan kehidupan dia seperti apa," kata Marchel menasehati anaknya.
"Iya Pa, aku tahu apa yang harus aku lakukan!" ucap Bintang.
Marchel tersenyum setelah mendengar perkataannya.
'Bintang sudah tumbuh dewasa, seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi!' batin Marchel.
...****************...
Di rumah Cinta...
"Aduh perut aku lapar, mana cuma ada nasi aja lagi!" ucap Laras yang sedari tadi tidak dapat makan.
Dia mencari sesuatu di dapur yang bisa dia jadikan lauk. Namun, dia hanya menemukan bumbu di dapur seperti cabai, bawang merah dan bawang putih.
"Apa aku buat nasi goreng aja kali ya? Tapi gimana caranya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Laras pun kembali ke kamarnya untuk mengambil HP jadulnya yang masih bisa di gunakan untuk internetan.
"Aduh! Kouta juga habis lagi, gimana aku bisa makan hari ini," ucap Laras sambil menepuk jidatnya.
"Ah coba aja, seingatku aku pernah lihat Si Cinta masak nasi goreng!" ucap Laras.
Laras pun mulai memotong-motong bumbu-bumbu nasi goreng. Setelah selesai memotongnya dia menggoreng bumbu dan menuangkan nasinya ke wajan.
Dalam beberapa menit, akhirnya nasi goreng Laras sudah siap di makan. Laras pun dengan hati yang tidak sabaran pergi menuju meja makan.
"Uekk!" Laras melepehkan nasi yang sudah ada didalam mulutnya.
"Asin banget! Perasaan tadi cuma kasih garam sedikit!" ujarnya merasakan nasi goreng yang asin itu.
__ADS_1
"Tamatlah sudah, nasi juga sekarang gak ada. Jadi mau gak mau harus makan ini dulu!" ucap Laras dengan wajah sedih.