
"Jalan Pak!" perintah Cantika kepada Rusmadi yang masih gugup dan masih menebak sesuatu yang akan terjadi.
"Baik Non! sahut Rusmadi yang langsung mengemudikan mobilnya.
Beberapa saat suasana didalam mobil menjadi hening. Rusmadi bahkan tidak berani untuk bertanya mengapa Cantika memilih duduk di sampingnya daripada seperti biasanya. Sesekali Rusmadi mencuri pandangan ke arah Cantika yang sedang melamun dengan pandangan lurus.
"Kamu tidak bertanya kenapa saya tiba-tiba ingi duduk di depan?" tanya Cantika kepada Rusmadi.
"Saya tidak berani bertanya Non, saya takut salah. Tapi jika Non ingin menjelaskan, saya pasti akan mendengarkan!" ucap Rusmadi gugup.
"Saya hamil, apa pendapatmu?" tanya Cantika dengan tatapan yang masih ke depan.
Rusmadi terkejut mendengar perihal itu, dia tidak menyangka sekali bermain malah langsung jadi. Dia terdiam, pertanyaan Cantika sangat sulit di jawab dia takut menyinggung Cantika. Terlebih lagi antika pernah mengatakan bahwa dia akan menggugurkannya jika dia hamil. Rusmadi menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Cantika.
"Non sebenarnya saya tidak tega untuk mengugurkan kandungan itu, jika Non mau saya akan bertanggungjawab. Saya pasti akan berusaha keras untuk membuat Non bahagia," kata Rusmadi tanpa menolehkan pandangannya ke arah Cantika.
"Gak Pak! Saya gak mau menikah dengan Bapak. Bapak lebih tua dari saya, saya juga masih sekolah! Saya akan menggugurkan kandungan yang ada di perut saya ini," jelas Cantika.
Rusmadi seketika menghentikan mobilnya, dia tidak berani mengemudikan mobilnya dalam keadaan gelisah seperti ini.
"Tapi Non, anak dalam kandungan Non tidak salah apa-apa. Selain itu juga beresiko tidak dapat hamil lagi," kata Rusmadi.
Cantika terdiam memikirkan kembali perkataan Rusmadi yang ada benarnya juga. Tetapi hatinya masih tidak rela menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua dari dia. Cantika juga ingin bersama dengan Andika, laki-laki yang dia cintai.
"Oke! saya tidak akan menggugurkan kandungan ini. Tapi saya tidak mau menikah dengan kamu!" ucap Cantika.
"Lalu? Non akan menikah dengan siapa?" tanya Rusmadi.
"Andika!" sahut Cantika dengan tatapan liciknya.
"Kamu harus bantu saya untuk memancing Andika datang ke rumah dan bikin dia meminum obat tidur. Setelah itu serahkan rencana selanjutnya kepada saya!" jelas Cantika.
"Baik Non, demi anak ini saya rela!" kata Rusmadi.
'Demi anak ini aku hanya bisa mengorbankan seseorang yang ingin Non Cantika nikahi,' batin Rusmadi.
Rusmadi kembali menyetir setelah menyetujui keputusan yang di buat oleh Cantika. Meskipun ada rasa aku rela, namun dia merasa tidak pantas untuk berdampingan dengan Cantika. Ada banyak perbedaan antara dirinya dengan Cantika.
__ADS_1
...****...
"Lo habis darimana Riana? tumben telat masuk kelas?" tanya Erna yang melihat Riana masuk setelah beberapa menit bel masuk berbunyi.
"Habis antar Cantika ke UKS katanya sakit perut menjelang datang bulan. Dan pada akhirnya dia memilih untuk pulang," ucap Riana.
"Oh, bisa juga dia sakit," ujar Erna
"Erna, gue boleh nanya sesuatu ga?"
"Nanya apa Ri?" tanya Erna.
"Tadi lo sempat bilang ahwa Cantika bawa testpack kan? nah saat itu lo lihat gak garis testpack nya gimana?" tanya Riana.
"Enggak sih, tapi gue yakin sih itu belum pernah di pakai soalnya masih di bungkus!" ucap Erna.
"Oh gitu ya, makasih ya gue mau duduk dulu!"ucap Riana buru-buru kembali ke mejanya.
"Eh tunggu dulu! Lo ngapain bertanya kayak gitu? lo curiga Cantika beli testpack untuk dirinya sendiri?" tanya Erna.
"Oh iya benar juga sih. Ah aku gak urus lah, toh juga kalau dia hamil kita gak rugi di buatnya," ucap Erna yang tampak acuh tak acuh.
Di meja belakang terlihat Cinta yang sedang membaca sebuah buku cerita yang sempat dia pinjam di perpustakaan. Sedang asik membaca buku, BIntang datang menghampirinya.
"Lo lagi baca apa?" tanya Bintang yang melihat Cita dengan serius membaca buku tersebut.
"Ini lagi baa cerita," sahut Cinta tanpa memalingkan wajahnya dari bukunya.
"Lo suka baca cerita?" tanya Bintang.
"Ya suka lah makanya gue pinjam," ucap Cinta.
"Lo sebenarnya bisa loh baca cerita di handphone yang gue beliin kemarin," ucap Bintang.
"Gak ah. Gue lebih suka baca cerita di buku daripada di handphone selain membosankan juga bikin mata sakit karena menatap layar terlalu lama," ucap Cinta.
"Oh gitu ya!"
__ADS_1
Setelah selesai bercakap-cakap Andika datang menghampiri Cinta.
"Cinta ikut gue!" ucap Andika menarik tangan Cinta hingga bukunya terjatuh ke mejanya.
"Mau kemana sih, kalau mau ngomong di sini aja gak usah tarik-tarik gue!" ucap Cinta kesal kepada Andika.
Namun Andika tidak memperhatikan teriakan Cinta, dia terus menyeret Cinta ke laur kelas dan mengajaknya ke tempat yang kosong tanpa seseorang pun.
"Lo apa-apaan sih Dik, ngapain lo ajak gue ke sini?" tanya Cantika dengan marah dan menghempaskan tangannya hingga terlepas dari genggaman Andika.
Andika menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Cinta, dia menatap Cinta yang gak bisa di artikan oleh Cinta tentang tatapan tersebut.
"Lo ngapain lihat gue seperti itu? ada yang salahkah sama diri gue?" tanya Cinta yang mulai bingung dan juga takut.
"Lo kenapa begitu dekat sama Bintang? dan malah menjauh sama gue?" tanya Andika yang cemburuan.
"Gue biasa aja kok! gue juga gak menjauh dari lo!"sahut Cinta santai.
Andika menggenggam kedua bahu Cita dengan kedua tangannya, dan kembali menatap Cinta dengan tatapan yang menyeramkan.
"Tapi lo mau menerima bantuan dari Bintang, bahkan lo menerima pemberian hadiah dari Bintang. Sedangkan saat gue ingin membantu lo malah menolak!" ucap Andika kesal.
"Maksud lo tentang handphone yang di berikan oleh Bintang ke gue? Itu pemberian Mamanya, gue gak mau mamanya dia sedih cuma karena gue tolak hadiahnya. Gak ada hubungannya sama Bintang," jelas Cinta.
"Heh! lo lugu banget sih jadi cewek. Padahal bisa aja Bintang cuma mengakali lo bilang dari Mamanya kan?" ucap Andika.
"udahlah Andika jangan berfikiran yang bukan-bukan, gue yakin itu memang dari Mamanya kok," sahut Cinta.
Andika masih belum melepaskan genggaman di bahunya Cinta.
"Kalau beralasan Mama bisa membuat lo menerima bantuannya, lalu kenapa sat mama gue ingin lo tinggal di rumah gue lo tolak?" tanya Anika emosi.
"Kan gue udah bilang alasannya. Gue ga mau ninggalin satu-satunya peninggalan Ibu gue. Lagian lo kenapa sih? lo bukan siapa-sapa gue kenapa lo ngatur hidup gue?" ucap Cinta yang penuh dengan emosi.
"Gue tahu hubungan kita sudah berakhir, tapi gue masih Cinta sama lo!" ucap Andika tanpa ragu-ragu.
Mendengar hal itu Cinta merasa sangat kesal, bagaimana mungkin kata-kata itu keluar dari mulut pria yang sudah pernah menghinanya dan juga almarhum ibunya. Dia melepaskan genggaman tangan Andika yang ada di bahunya.
__ADS_1