
Sesampainya di rumah, Andika langsung masuk ke kamar karena di rumahnya tidak ada orang. Dia masih bingung kenapa Cinta marah padanya dan bahkan dia membela Bintang.
'Kenapa sih dia harus membela pria yang paling gue benci. Lagipula dia lupa apa gimana? Bintang adalah anak dari pembvnuh itu, kenapa dia memilih membelanya?' batin Andika penuh tanda tanya.
Tiba-tiba Andika mendapat sebuah pesan dari Erna yang merupakan sahabat Cinta melalui aplikasi hijau.
[Dik lo keterlaluan banget sih! Jelas-jelas lo yang salah tapi kenapa lo yang marah-marah sama Cinta?] isi pesan dari Erna.
"Bahkan Erna jga menyalahkan gue, sebenarnya salah gue dimana? Gue gak ganggu Cinta saat jam pelajaran dan juga gue cuma fokus dalam pelajaran!" ucap Andika pada dirinya sendiri.
Daripada bertanya-tanya, Andika memutuskan untuk bertanya sendiri kepada Erna.
[Salah gue apa?] tanya Andika melalui Chat kepada Erna.
Beberapa detik kemudian ada sebuah telepon masuk dari Erna, Andika segera menjawab telepon tersebut.
"Hey Dik! Lo bod0h apa gimana sih? jelas-jelas lo bikin Cinta cemburu. Lo dekat-dekat sama Dewi, sedangkan Cinta gak boleh dekat-dekat sama Bintang. Apa menurut lo itu adil buat Cinta? Di tambah lagi lo marah-marah sama Cinta, bayangin gimana sakitnya dia!" ucap Erna yang langsung menyemprot Andika dengan kata-kata pedasnya karena saking kesalnya.
"Ih jadi Cinta cemburu sama gue?" tanya Andika skali lagi.
"Menurut lo? emang ada cewek yang baik-baik aja ketika pacarnya di deketin cewek lain. Dan bahkan pacarnya menerima dengan baik cewek itu!" kata Erna menyindir Andika.
"Tapi gue sama sekali gak memperlakukan dia dengan baik!" kata Andika.
"Meskipun seperti itu lo punya hutang penjelasan kepada Cinta. Lebih baik lo datang ke rumah cinta dan minta maaf sama dia sekarang juga!" ucap Erna.
"Iya deh! Makasih ya penjelasannya!" kata Andika lalu menutup telepon.
Andika segera mengganti pakaian sekolahnya yang belum sempat dia ganti. Setelah berganti pakaian dia bergegas untuk pergi ke rumah Cinta.
'Ternyata Cinta cemburu? Gue sudah salah paham dan bahkan membentaknya. Cinta pasti maraj banget sama gue, lebih baik gue belikan dia sesuatu untuk mereda rasa marahnya deh!' batin Andika.
Andika pergi ke supermarket terlebih dahulu sebelum ke rumah Cinta. Dia membeli cokelat untuk mengembalikan mood pacar tersayangnya.
TOK! TOK! TOK!
Andika mengetuk pintu rumahnya Cinta setelah sampai di rumahnya. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Oh iya, Cinta kan kerja! Ngapain gue ke sini!" ujar Andika setelah mengingat sesuatu.
Andika bergegas pergi ke rumah makan Pak Santoso. Sesampainya di sana dia melihat Cinta yang sedang mengantar makanan kepada pelanggannya.
'Sepertinya Cinta sangat sibuk, lebih baik aku tidak mengganggunya dulu daripada dia semakin marah sama aku!' batin Andika.
Andika pun memutar balik sepeda motornya dan kembali ke rumahnya. Dia memutuskan untuk menemui Cinta saat Cinta pulang dari tempatnya bekerja.
'Cinta wanita pekerja keras. Meskipun dia merasa kesal tapi dia tetap bersikap ramah saka pelanggannya. Dia tidak mencampuradukkan masalah pribadinya ke tempatnya bekerja. Seharusnya aku tidak memarahinya tadi, sekarang pasti Cinta sangat terbebani,' batin Andika yang merasa bersalah kepada Cinta.
Cinta sangat sibuk melayani pelanggan, kakinya terasa pegal karena berjalan ke sana kemari. Tetapi dia sangat senang karena semakin ramai rumah makannya maka keuntungan yang di dapat oleh Pak santoso semakin besar.
Dia menikmati rasa lelah yang di rasakan nya. Di saat Cinta sedang melayani para pelanggan, seorang wanita yang tampak tidak asing datang ke rumah makan tersebut dan membuat pesanan.
Kebetulan saat itu Pak Santoso juga bertugas di depan melayani pelanggan, pria di samping wanita itu menghampiri Pak Santoso.
"Pak bisa tidak makanannya di bungkus soalnya istri saya sedang hamil dan lagi ngidam. Dan juga istri saya lebih nyaman makan di rumah!" ucap suami dari wanita tersebut.
__ADS_1
Cinta tanpa sengaja menoleh ke arah wanita tersebut dan sedikit terkejut.
'Cantika!' batin Cinta.
Saat itu juga Cantika memandang ke arah Cinta, dia pun sama terkejutnya melihat Cinta bekerja di sana. Cinta menghampiri Cantika yang sedang berdiri di sana.
"Cantika, sedang apa kamu di sini?" tanya Cinta sopan.
"Pesan makanan! Lo kerja di sini?" tanya Cantika.
"Iya gue kerja part time!" sahut Cinta.
"Duduk dulu Cantika, gak baik kalau lo berdiri lama-lama!" kata Cinta yang tampak perhatian.
"Iya, makasih! Tapu kayaknya sebentar lagi makanan yang gue pesan sudah siap, jadi gak usah deh!" kata Cantika tersenyum palsu.
"Yuk Non, kita pulang!" ajak Rusmadi setelah menerima pesanannya.
"Gue pulang dulu ya Cin!" ucap Cantika.
"Iya hati-hati ya!" kata Cinta tersenyum.
'Ternyata Cinta bekerja di sini, lihat saja apa yang bisa gue lakuin untuk menghancurkan karir lo di sini!' batin Cantika yang masih menyimpan dendam kepada Cinta.
"Itu tadi teman kamu Cinta?" tanya Pak Santoso yang sedikit memperhatikan Cinta sedang mengobrol sama Cantika.
"Iya Pak! Dia teman sekolah saya, beberapa hari yang lalu dia hamil dan menikah. Yang tadi itu suaminya dia," kata Cinta.
"Kasihan ya! Masih muda padahal tapi katena salah pergaulan menjerumuskannya ke hal tersebut. Kamu jangan sampai mengikuti jejaknya ya Cinta, perjuangin dulu cita-citamu kalau sudah siap baru menikah. Jangan buru-buru menikah apalagi kamu belum tahu sifat asli pacarmu!" kata Pak Santoso menasehati Cinta.
"Iya Pak, makasih nasehatnya!" kata Cinta.
" Ya sudah kalau begitu saya lanjut cuci piring dulu ya Pak mumpung belum ada pelanggan yang datang!" ucap Cinta.
"Iya Cinta!" sahut Pak Santoso.
Tak di sangka waktu cepat berlalu, Cinta dan Pak Santoso menutup rumah makannya setelah semua pelanggan telah pergi. Pak Santoso memberikan sisa makanan yang tidak terjual agar tidak terbuang sia-sia. Lumayan untuk pengiritan bagi Cinta, jadi Cinta tidak perlu membeli makanan di luar lagi.
Setelah selesai menutup tokonya, Andika datang menjemput Cinta.
'Kenapa Andika ke sini? Bukannya tadi dia marah-marah?' batin Cinta.
Cinta pura-pura tidak mengenal Andika, dia mengabaikannya karena dia masih marah. Pak Santoso yang menyadari hal tersebut menarik tangan Cinta dan berbisik.
"Kamu marahan ya sama teman kamu?" tanya Pak Santoso.
"Iya Pak!" sahut Cinta.
Cinta sudah menganggap Pak Santoso sebagai orang tuanya, jadi dia tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari Pak santoso lagi.
"Jangan marah terlalu lama Cinta. Bagaimanapun juga dia masih peduli sama kamu sampai rela menjemputmu malam-malam," ucap Pak Santoso masih dengan suara pelannya.
"Iya Pak terimakasih nasehatnya," kata Cinta.
"Ya sudah Bapak pulang dulu ya. Kamu juga pulanglah sama teman kamu!" kata Pak Santoso.
__ADS_1
Berkat nasehat Pak Santoso, Amarah cinta akhirnya mereda. Dia menyapa Andika dan menghampirinya.
"Kamu gak marah sama aku Cinta?" tanya Andika senang.
"Enggak! Ngapain marah!" ucap Cinta.
"Syukurlah! kalau gitu yuk pulang! aku ada hadiah buat kamu!" kata Andika.
"Hadiah apa tuh?" tanya Cinta penasaran.
"Ada deh, sampai rumah aku kasih!" kata Andika.
Mereka pun pulang ke rumah Cinta, Cinta tak sabar melihat hadiah yang ingin di berikan oleh Andika.
Sesampainya di rumah, Cinta bergegas untuk turun dan meminta hadiah yang di janjikan oleh Andika.
Andika mengeluarkan hadiahnya dari jok motornya dan memberikannya kepada Cinta.
"Apa nih?" tanya Cinta sambil menerima sebuah tas yang diberikan oleh Andika.
"Buka aja!" sahut Andika.
Cinta pun membuka tas tersebut dan terkejut setelah melihat kalung yang sangat indah dan juga sebuah jam tangan.
"Bahkan ada cokelat juga?" tanya Cinta ketika melihat cokelat di dalam tas tersebut.
"Gimana? kamu senang gak?" tanya Andika.
"Senang, tapi kamu gak perlu seperti ini untuk bujuk aku dan ini pasti sangat mahal!" kata Cinta yang merasa tidak enak hati.
"Gak mahal kok! sini aku pakaikan kalungnya," kata Andika.
Cinta memberikan kalung tersebut kepada Andika, dia berbalik membelakangi Andika agar memudahkan Andika untuk memakaikan kalungnya. Tak lupa Cinta juga mengangkat rambutnya ke atas.
Setelah Andika selesai memasang kalungnya, Cinta kembali berbalik menghadap ke Andika. Terlihat sangat indab jalung tersebut di kenakan oleh Cinta.
"Gak salah gue beliin ini buat kamu. Cantik banget pacarku!" ujar Andika.
"Apaan sih Dik!" kata Cinta malu-malu kucing.
"Cin, aku minta maaf ya karena udah marah-marah sama kamu. Aku gak tahu kmu cemburu, untung Erna kasih tahu aku. Tapi aku memang tidak peduli sama Dewi kok, aku juga udah bersikap cuek sama dia. Lagipula kamu kan tahu sendiri pemilihan kelompok di tentukan oleh guru jadi gue juga ga bisa nolak!" kata Andika.
"Iya aku juga salah Dik gak seharusnya aku langsung marah-marah tanpa memberitahu kamu alasannya. Maafin aku juga ya," kata Cinta.
"Iya kita sama-sma salah Cin, kedepannya kita harus lebih terbuka. Kalau ada masalah lebih baik ungkapkan saja, karena aku merasa ada banyak orang yang iri dengan hubungan kita. Kamu harus percaya kalau aku ga macam-macam di belakang kamu," kata Andika.
"Iya Dik aku akan percaya sama kamu asal kamu percaya sama aku!"
"Ya udah aku pulang dulu ya. kamu pasti capek, aku gak mau ganggu istirahat kamu!" ucap Andika.
"Iya deh hati-hati ya!" kata Cinta.
"Iya sayangku, Cup!" Andika mengecup kening Cinta secara tiba-tiba membuat Cinta salah tingkah.
"Sampai ketemu besok!" ucap Andika.
__ADS_1
"Iya!" sahut Cinta.
Setelah Andika pergi Cinta masuk ke rumahnya, jantungnya berdebar-debar setelah di cium oleh Andika.