
Sesampainya di tempat yang sudah di tentukan untuk dijadikan tongkrongan oleh Bintang dan teman-temannya.
Riski memberikan sebuah kode kepada Agus dan melirik ke arah Bintang. Mereka melihat Bintang sedang melamun seperti sedang memikirkan sesuatu dan mereka tahu apa penyebabnya.
"Udahlah Tang, jangan di paksa lagi. Kalau Cinta tidak menyukai lo, lo cari yang baru saja!" ucap Agus.
"Iya benar tuh Tang. Ngapain juga lo mikirin dia, Cinta aja gak pernah kan mikirin perasaan lo?" ucap Riski.
"Susah Ris,Gus! Cinta adalah cinta pertama gue. Gue gak bisa berpaling hati lagi selain dia," ucap Bintang yang tidak mau menyerah dengan cintanya.
"Hmm!" Agus menarik menghembuskan nafas melalui mulutnya.
"Gimana ya caranya agar Cinta tertarik sama gue?" tanya Bintang pada teman-temannya.
Agus dan Riski memikirkan solusi untuk masalahnya temannya ini.
"Gue punya ide!" seru Riski di tengah-tengah keheningan.
"Ide apa?" tanya Bintang langsung menoleh ke arah Riski.
"Lo ubah aja penampilan lo saat sekolah!" ucap Riski.
"Maksudnya mau di ubah kayak gimana?" tanya Bintang bingung.
"Ya lo bisa ubah gaya rambut lo biar lebih keren, dan badan lo yang sedikit gemuk ini perlu olahraga agar menjadi sedikit kurus!" jelas Riski.
Bintang terdiam sejenak, dia ragu dengan saran yang Riski berikan.
"Atau gak gini aja, lo kan tahu Cinta suka belajar. Coba aja lo belajar sama kayak dia, pasti dia suka sama lo!" saran Agus.
"Tapi gue takut gak fokus, lagipula gue bisa belajar apa. Baru baca sebentar saja beberapa jam sudah lupa," keluh Bintang.
"Lo mau ngejar Cinta dengan serius kan?" tanya Agus.
"Iyalah!"
"Ya udah lo harus serius belajar! Lagipula kalau belajar juga gak merugikann lo kan, pintar juga lo yang bawa nantinya," ucap Agus memberikan nasehat kepada Bintang.
"Benar juga yang lo bilang ya," ucap Bintang setelah memikirkan ide temannya.
"Iyalah, gue gitu loh!" ucap Agus menyombongkan dirinya.
"Kok tumben lo pinter? Biasanya ya gitu, hahaha!" kata Riski mengejek Agus.
"Gue emang pintar kali, emangnya lo ot*k udang huu!" balas Agus menyoraki Riski.
__ADS_1
"Thanks ya kalian udah selalu ada saat gue punya masalah," ucap Bintang.
"Jangan senang dulu, gue punya satu syarat!" ucap Agus yang membuat Bintang kembali menatapnya dengan tatapan bingung.
"Lo kalau gak bisa menarik perhatiannya Cinta setelah lo pinter, ubah penampilan. Lebih baik lo berhenti ngejar cintanya, gue gak mau lihat lo kayak gini lagi!" ucap Agus.
"Tapi gue takut gak bisa tepati janji ini, gue cinta banget sama dia," ujar Bintang.
"Buka mata lo! Lo sudah berusaha semaksimal mungkin dan dia gak tertarik sama lo, untuk apa lo perjuangin?" ucap Agus dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
"Benar yang di katakan Agus Tang, lo harus berhenti ngejar dia. Jangan sampai lo berkorban lebih banyak lagi dan akhirnya menjadi sia-sia saja," ucap Riski.
"Nanti gue pikir-pikir lagi deh!" kata Bintang.
...****************...
Sedangkan di rumah Cinta...
"Makasih ya Andika! Gue masuk dulu," ucap Cinta dengan tergesa-gesa.
"Eh masa langsung masuk aja," ucap Andika menarik tangan Cinta yang hendak pergi meninggalkannya.
"Nanti Ibu gue tahu kalau gue pulang sama cowok!" ucap Cinta dengan nada yang pelan.
"Kenapa emang? Lagipula kita tetangga, Ibu lo pasti senang kalau lo diantar sama gue jadinya dia gak perlu khawatir sama keselamatan lo," ujar Andika.
"Gue beban ya buat lo?" tanya Andika yang langsung mengubah ekspresinya menjadi sedih.
"Bukan itu maksud gue! Plis Andika gue paling takut sama Ibu gue," kata Cinta yang terus memohon kepada Andika.
Sedangkan dari kejauhan, Laras yang sedang berjalan kaki menuju ke rumahnya melihat Cinta bersama Andika sedang berdiri di depan pintu. Laras mempercepat langkah kakinya sebelum Andika pergi.
"Cinta, sedang apa kamu di sini. Dan siapa pria ini?" tanya Laras mengejutkan Cinta dan Andika.
"Ini...Ini teman sekolah aku Bu," ucap Cinta yang sedikit takut.
Meskipun Laras sudah tidak pernah memukuli atau memaksanya untuk mencari uang, namun Cinta masih trauma dengan kejadian dulu yang membuat Laras marah. Dia masih belum bisa menerima sikap Laras yang tiba-tiba baik, bahkan dia masih ingin menyelidiki pekerjaan Laras. Karena bagi Cinta perubahan Ibunya itu adalah hal yang secara tiba-tiba terjadi.
"Kenalin Tante, aku Andika teman sekelasnya Cinta. Rumahku gak jauh dari sini kok, kalau Tante berkenan silahkan mampir ke rumah ya!" ucap Andika memperkenalkan dirinya.
"Jadi kamu tetangga toh? Dan tunggu! Siapa nama kamu tadi? Andika?" tanya Laras sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Tante, kenapa? Ada yang salah dengan nama saya?" ucap Andika bingung.
"Kamu anaknya Naya ya? Yang baru pindah itu kan?"
__ADS_1
"Iya benar Tante. Tante kenal sama Mama saya?"
"Iya kenal, dia sahabat Tante dulu waktu Tante masih muda!" kata Laras.
"Oh gitu ya Tante, gak nyangka ya ternyata Mama bisa bertemu dengan sahabatnya," kata Andika ikut senang dengan pertemuan mereka.
"Kalau gitu kita masuk dulu yuk! Gak enak kalau di luar," ucap Laras mengajaknya masuk.
Cinta yang dari tadi merasa di cuekin ikut masuk ke dalam dengan ekspresi yang bingung.
"Cinta buatkan Andika teh ya!" ucap Laras ketika sudah sampai di ruang tamu.
"Ibu gak sekalian?" tanya Cinta.
"Gak usah," sahut Laras.
Cinta pun pergi ke dapur untuk membuatkan Teh. Sambil menunggu Laras mengajak Andika untuk berbincang-bincang.
"Tante tuh sering dulu kemana-kemana sama Mama kamu waktu sama-sama belum menikah. Kemanapun Tante pergi pasti ada mama kamu," kata Laras .
"Masa sih Tante?"
"Iya, kami itu seperti saudara tahu. Bahkan ada yang bilang kalau kita kembar gara-gara sering kemana-kemana bareng, padahal wajah kita beda kan ya?"
"Berarti dekat banget persahabatan Mama sama Tante ya. Andika gak nyangka!"
"Oh ya Tante, Andika boleh gak antar jemput Cinta ke sekolah?" tanya Andika.
"Boleh, boleh. Malah lebih bagus kalau Cinta sama kamu, jadinya Cinta ada temannya dan aman," kata Laras dengan senang hati.
'Ini juga mengirit pengeluaran untuk ongkos naik angkot sih,' batin Laras.
"Tapi Cinta mau gak ya?" tanya Andika.
"Nanti Tante bilangin sama Cinta ya," ucap Laras.
Beberapa detik kemudian, Cinta datang dengan segelas teh yang dibawanya menggunakan piring.
"Seru banget kayaknya ngobrol. Lagi ngobrolin apa?" tanya Cinta sambil menyuguhkan teh untuk Andika.
"Makasih Cin!" ucap Andika menerima Teh yang di suguhkan Cinta.
"Ini loh Cin, Andika mau antar jemput kamu ke sekolah. Jadi nanti kamu bisa berangkat dan pulang bareng, lagipula rumah kita kan dekat," kata Laras.
"Emang boleh Bu?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Boleh dong. Lagipula Andika anak dari sahabat Ibu, jadi Ibu percayakan kamu ke Andika!" kata Laras.
"Iya deh Bu!" ucap Cinta menyetujuinya.