
Tepat jam 9.30 pagi, seluruh siswa SMK Saraswati berkumpul di lapangan. Mereka akan makan bersama dengan makanan yang mereka buat sendiri.
Setiap kelas membagikan makanan mereka ke kelas lain, agar mereka sama-sama bisa merasakan masakan dari kelas lainnya. Selain itu juga, mereka bisa belajar untuk saling berbagi kepada teman-temannya dan juga tidak egois apalagi pelit.
"Gue duduk dimana nih? Sempit banget tempatnya," ucap Riski kepada teman-temannya.
Setiap kelas membagi dirinya menjadi dua grup, yaitu grup pria dan wanita. Ini untuk memudahkan mereka mengambil makanan saat mereka makan.
Terlihat nampan yang terbuat dari besi sudah penuh dengan nasi, Cinta dan teman-temannya duduk melingkar dengan posisi nampan berada di tengah-tengah. Mereka menambahkan lauk ke dalam nasi yang diwadahi nampan tersebut.
"Iyuhh! Masa makan rame-rame gini dengan satu wadah sih, nanti kalau tangan kalian penuh bakteri gimana?" celetuk Cantika yang tidak terbiasa dengan makan bersama seperti ini.
Kegiatan makan bersama seperti ini di sebut 'Megibung' yang merupakan salah satu dari tradisi Bali.
"Jangan sok bersih deh lo, kalau gak mau makan sama kita ya udah gak usah makan," ucap Erna menyahut.
"Tapi gue lapar," keluh Cantika.
"Ya Udah jangan banyak omong, lagipula kita semua di sini cuci tangan dengan bersih kok!" kata Erna dengan nada yang sedikit tinggi.
"Sudah-sudah, kita mau makan loh kok malah bertengkar. Gak baik kita ribut di depan makanan," ucap Cinta melerai keributan itu.
Erna dan Cantika pun terdiam, tidak berani lagi menyahut ataupun melanjutkan pertengkaran mereka.
Lapangan yang biasanya sepi kini menjadi sangat ramai karena sekolah mengadakan lomba masak dan makan bersama. Ini cukup adil, karena selain mengikuti lomba memasak para siswa juga bisa mengisi perutnya dengan berbagai masakan. Jadi, tidak hanya juri saja yang perutnya kenyang tapi yang masak juga kebagian.
Seperti kata orang-orang, perut kenyang hati pun senang.
...****************...
Setelah kegiatan makan bersama (Megibung) selesai, akan dilanjutkan untuk lomba berikutnya yaitu lomba baca puisi.
Erna yang merupakan perwakilan dari kelas Cinta segera bersiap mengganti pakaiannya yang tadinya pakaian olahraga sekarang menjadi putih abu. Sedikit ribet tetapi ketentuan lomba harus di ikuti.
"Gak sabar deh nonton pertunjukan Erna membaca puisi," ucap Cinta ketika Erna sudah selesai mengganti pakaiannya di toilet.
"Biasa aja kali," sahut Erna.
"By The way, gue titip tas ya," ucap Erna kepada Cinta.
__ADS_1
"Aman!" sahutnya sambil menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya hingga membentuk seperti huruf O.
Beberapa menit kemudian, sebuah pengumuman memerintahkan agar siswa yang mengikuti lomba puisi untuk berkumpul di kelas XI J.
Erna pun pergi ke kelas tersebut, dia berjalan dengan gugup. Hatinya sangat berdebar-debar mengikuti lomba ini, walaupun dia sudah berkali-kali mengikuti lomba puisi tetapi tentu saja di atas langit masih ada langit.
"Semua sudah berkumpul?" tanya seorang guru yang akan menjadi juri di lomba puisi kali ini.
"Sudah Pak!" sahut peserta lomba puisi secara bersamaan.
"Kalau begitu kalian bisa bersiap-siap karena lomba akan dilaksanakan sebentar lagi. Kalian bisa duduk di meja untuk menunggu pemanggilan ya," ucap Pak Guru.
Erna dan peserta yang lain duduk di kursi yang ada di kelas tersebut. Erna tak sengaja menolehkan pandangannya ke arah jendela dan dia terkejut dengan keramaian siswa-siswa yang menonton. Walaupun yang terlihat hanya kepalanya saja, tetapi itu sungguh menambah kecemasan Erna.
Erna menarik nafas panjang dan membuangnya lewat mulut yang dia buka sedikit. Dengan begitu rasa khawatir dan geroginya pudar begitu saja.
Lomba pun di mulai, satu persatu peserta yang di panggil maju ke depan untuk menunjukkan penampilannya kepada juri.
Erna yang merupakan peserta paling terakhir maju dengan jalan yang santai. Dia sudah berhasil membuang rasa cemas itu.
"Perkenalkan nama saya Erna, perwakilan dari kelas XI C. Hari ini saya akan membawakan puisi yang berjudul "Sahabat Sejati".
Erna pun mulai membawakan puisinya, dia sangat menikmati setiap kata dari puisi yang dia buat sendiri. Karena penghayatannya yang bagus, semua orang yang menonton termasuk juri seperti masuk ke dalam puisi tersebut.
"Terimakasih," ucap Erna sambil membungkukkan badannya, lalu Erna kembali ke mejanya.
"Erna, puisi ini kamu yang buat sendiri?" tanya salah satu Juri.
"Iya Pak!" sahut Erna.
Guru yang menjadi juri itu hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Ini membuat Erna berfikiran buruk tentang puisi yang di buatnya sendiri.
'Apa puisi yang gue buat jelek ya?' pikir Erna.
Lomba pun berakhir, hasil penilaian akan di berikan saat semua lomba berakhir. Saat itu juga pemenang seluruh lomba di umumkan.
"Wah puisi lo bagus banget Erna!" puji Cinta dengan mata berbinar-binar.
Cinta sangat kagum dengan Erna yang bisa membawakan puisi dengan sangat bagus.
__ADS_1
"Masa sih? Tapi kenapa tadi salah satu guru itu nanya ya?" tanyanya yang kurang percaya diri.
"Nanya gimana?" Cinta balik bertanya.
"Lo gak dengar? Dia nanya puisi itu buatan gue sendiri apa gimana?" Erna menyampaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh guru tadi.
"Mungkin karena terlalu bagus makanya dia bertanya seperti itu, lagipula lo juga gak menyampaikan siapa penciptanya kan tadi?" ucap Cinta berusaha membuat Erna berfikir positif.
"Iya bisa jadi sih ya," kata Erna.
"Kita ke kelas yuk!" ajak Cinta.
"Yuk!"
Mereka berdua pun pergi ke kelasnya, sesampainya di sana Erna disambut dengan berbagai pujian dari teman-temannya.
"Puisi lo bagus banget Erna, makasih ya sudah mau mewakili kelas kita. Jujur puisi yang lo bawain itu bagus banget, lo bisa menghayati isinya super keren deh menurut gue," ucap Riana selaku ketua kelas.
"Iya Erna, lo gimana caranya sih kok bisa pintar gitu menghayati isi puisinya?" tanya yang lainnya.
"Makasih buat pujiannya Riana, dan untuk caranya gue sendiri juga gak tahu pasti intinya harus rajin belajar pasti bisa," sahut Erna.
"Tapi makasih banyak ya buat kalian semua yang udah nonton, setidaknya gue merasa di hargai oleh kalian," kata Erna.
"Cih gitu aja bangga!" sindir Cantika yang sengaja berkata seperti itu saat lewat di hadapan Erna.
"Apa lo bilang?" tanya Erna sambil menarik rambut Cantika yang di kepang satu.
"Arghh! Sakit tahu!" teriak Cantika sambil menahan rasa sakit.
"Sakit ya?" Erna semakin kuat menarik rambut Cantika sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Lepasin b*ngs@t," ucap Cantika.
"Gak ah, gue gak mau lepasin sebelum lo minta maaf sama gue," ucap Erna.
"Gue gak salah, ngapain gue minta maaf," ucap Cantika yang tidak mau kalah.
"Yaudah gue gak akan lepasin," sahut Erna santai sambil terus menarik rambut milik Cantika.
__ADS_1
Hingga Andika masuk ke dalam kelas, disitulah Cantika mengeluarkan bakatnya menjadi artis profesional.
"Aduh sakit Erna, gue minta maaf deh walaupun gue gak tahu salah gue apa," ucap Cantika.