Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 88


__ADS_3

Keesokan harinya di kelas Cinta....


"Jadi begitulah cara menjadi jawabannya. Perlu di ingat antara penjumlahan dan perkalian yang di hitung perkalian terlebih dahulu!" jelas Pak Yoga yang sedang mengajar di kelas Cinta.


Tiba-tiba wali kelas di kelas Cinta mencari Pak Yoga, beliau mengobrol dengan suara pelan kepada Pak Yoga sehingga semua siswa yang ada di kelas itu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Pak Yoga tampak sedikit kaget setelah mendengar informasi yang di berikan oleh wali kelas.


"Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya Cin? Kelihatannya sangat serius?" tanya Bintang pada Cinta.


Cinta menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia juga tidak mengetahuinya dan ikjt bertanya-tanya.


Seluruh siswa berbisik pada teman sebangkunya, masing-masing dari mereka penuh tanda tanya kecuali Andika. Andika masih bisa bersikap tenang dan seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi.


Setelah beberapa saat wali kelas tersebut menghadap ke arah seluruh siswa.


"Anak-anak, Ibu ingin menyampaikan informasi yang bahagia sekaligus sedih untuk kalian, mohon perhatiannya sebentar ya!" ucap wali kelas mereka dengan suara datar.


"Jadi, teman kalian Cantika sudah keluar dari sekolah, karena hari ini dia akan menikah!" ujar wali kelas tersebut.


"Hah? Kok bisa?" tanya Cinta yang terkejut mendengar berita tersebut.


"Cantika di titipkan anak lebih cepat oleh Tuhan daripada kalian sehingga dia menikah hari ini!" kata wali kelas kemudian.


"Nanti kami semua guru akan datang menghadiri pernikahannya, jadi seluruh siswa akan di pulangkan lebih awal!" lanjutnya.


Seketika seluruh siswa bersorak gembira setelah mendengar kabar yang mengejutkan. Mereka lupa dengan kabar sebelumnya setelah mendengar kabar pulang lebih awal.


"Baik segitu dulu dari Ibu. Silahkan lanjutkan pembelajaran kalian!"


"Pak Yoga, saya izin pamit dan mohon maaf mengganggu waktunya!" kata wali kelas terhadap Pak Yoga.


"Iya Bu tidak apa-apa!" sahut Pak Yoga.


Wali kelas pun berjalan menuju ke pintu keluar.


Setelah wali kelas keluar dari kelasnya, Pak Yoga diam tanpa suara menatap seluruh muridnya. Hal ini membuat seluruh siswa kebingungan mengapa Pak Yoga menatap mereka dengan raut wajah yanv sedikit sedih.

__ADS_1


"Kira-kura apa yang akan Pak Yoga lakukan kepada kita?" tanya Riski kepada Agus dengan suara pelan.


"Entahlah! Sepertinya akan ada hal serius yang di sampaikan!" sahut Agus dengan suara pelan juga.


Setelah beberapa saat terdiam yang telah membuat para siswa bingung, Pak Yoga akhirnya kembali membuka suara dan bertanya jumlah siswa di kelas tersebut kepada Riana selaku ketua kelas.


"Ada 25 siswa Pak!" sahut Riana yang di tanya oleh Pak Yoga.


"Dengan kejadian yang di informasikan oleh wali kelas kalian hari ini, Bapak harap saat kalian lulus nanti semuanya masih utuh 25 orang. Tidak ada yang menikah sebelum lulus, tidak ada yang tinggal kelas!" kata Pak Yoga menaruh harapan kepada siswa yang berada di kelas tersebut.


"Baik Pak!" sahut seluruh siswa.


"Kalian masih kecil, masih banyak perjalanan yang ada di depan kalian. Ada orang tua yang perlu kalian banggakan, jangan sampai memutuskan harapan orang tua kalian kepada kalian. Dan jangan sesekali kalian bermain-main dengan ****. Karena sekali kalian mencobanya tidak ada harapan lagi untuk kalian lepas dari musibah seperti tadi!" ucap Pak Yoga.


Seluruh siswa terdiam, mereka mendengar dan meresapi nasehat yang di berikan Pak Yoga. Mereka yang masih anak-anak bertekad untuk membahagiakan orang tua. Siswa wanita tidak ingin kejadian seperti Cantika terjadi pada diri mereka masing-masing.


Setelah menasehati siswa di kelas Cinta, Pak Yoga kembali mengajar hingga waktunya habis.


"Pak jam berapa kita di pulangkan?" tanya Agus sebelum Pak Yoga meninggalkan kelasnya.


"Nanti tunggu saja pengumumannya!" ucap Pak Yoga, lalu pergi meninggalkan kelas.


"Kita kan gak punya undangan? Gimana kalau kita tidak di izinkan masuk dan juga Cantika anak orang kaya pasti banyak pengawal yang berjaga di sana!" ucap Cinta.


"Gak perlu takut! Ada gue pasti di kasih masuk, itu jika lo mau pergi!" ucap Andika yang tiba-tiba datang ke meja Cinta.


"Lo yakin kita bisa masuk dengan adanya Lo?" tanya Cinta yang masih ragu.


"Yakin! Kalau gak percaya kita buktikan saja nanti!" ucap Andika penuh percaya diri.


"Gue... Gue boleh ikut gak?" tanya Bintang ragu-ragu.


"Boleh!" ucap Erna.


Cinta menatap ke arah Andika dengan raut wajah yang sedikit takut, takut Andika marah. Andika yang pura-pura tak mengerti menunjukkan ekspresi bingung terhadap Cinta.


"Kenapa lo lihat gue kayak gitu?" tanya Andika.

__ADS_1


"Gak apa-apa!" sahut Cinta.


Beberapa menit setelah mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama, bel berbunyi di iringi dengan sebuah pengumuman bahwa seluruh siswa boleh pulang lebih awal.


Seluruh kelas tampak bersorak gembira karena pulang lebih awal.


"Kenapa kita pulang lebih awal ya? Apa guru-guru mengadakan rapat?" tanya seorang siswa yang bukan kelas dari Cinta.


Dia bertanya dengan teman sekelasnya yang berjalan di sampingnya.


"Gue dengar-dengar sih karena akan menghadiri pernikahan. Katanya salah satu siswa kelas 11 hamil dan hari ini pernikahannya!" sahut temannya.


"Ih malu-maluin kelas banget sih itu!" ucapnya.


Cinta yang mendengar percakapan mereka berdua kerasa kasihan dengan Cantika. Dia tidak menyangka Cantika akan menikah dengan pria lain, padahal yang Cinta ketahui Cantika sangat mencintai Andika. Cantika bahkan sangat mengejar Andika waktu di sekolah.


"Apa yang lo pikirin? Jangan bilang lo mikirin pria lain?" tanya Andika mencurigai Cinta.


"Apaan sih lo! Gue cuma diam aja gak melamun!" sahut Cinta.


"Ya udah yuk buruan jalannya! Kita bakalan ke toko baju dulu setelah ini!" kata Andika.


"Buat apa?" tanya Cinta.


"Ya pilih baju lah! Yuk cepat!" kata Andika menarik tangan Cinta.


Setelah sampai di salah satu toko baju di kota mereka, Andika menarik tangan Cinta untuk masuk dan mengajaknya ke tempat pemajangan pakaian wanita.


"Lo ngapain ke sini? Ini kan gaun? Lo mau pakai gaun ya?" tanya Cinta yang gak peka.


"Ya kali gue pakai gaun. Lo coba pilih satu yang lo sukai buat menghadiri acara nanti!" kata Andika.


"Gak ah ini pasti mahal-mahal!" ucap Cinta.


"Gue yang bayar! Pilih cepat setelah ini bantu gue pilihin kemeja!" kata Andika.


"Gak ah, lo aja yang beli gue gak usah!" kata Cinta yang merasa tudaj enak hati.

__ADS_1


"Lo mau gue marah ya Cin?" ucap Andika dengan tatapan yang tajam.


"Ya udah gue pilih sekarang!" kata Cinta.


__ADS_2