Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 60


__ADS_3

Cantika berpapasan dengan ibunya Cinta, tanpa sopan santun Cantika menyenggol bahu Laras yang akan masuk ke dalam ruangan. Laras tidak mempedulikan perilaku Cantika lagi, dia menghampiri anaknya yang sudah di kerumuni oleh teman-teman sekelasnya.


"Eh ada teman-temannya Cinta ya?" ucap Laras ramah kepada teman-teman sekelas Cinta sambil menaruh obat yang baru saja dia tebus di apotek.


"Ini IBunya Cinta ya? baru tahu saya. sebelumnya Cinta tidak pernah mengijinkan kami berkunjung ke rumahnya," kata Erna kepada Laras.


"Iya saya Ibunya Cinta, mungkin karena rumah kami tidak terlalu bersih dan Cinta juga malu kepada kalian," kata Laras.


"Ya udah kalian kapan-kapan kalau berkenan datang saja ke rumahku, tapi jangan sampai menyesal loh ya," ucap Cinta sambil tersenyum kepada teman-temannya.


Beberapa saat mengobrol, Cinta baru menyadari kalau BIntang juga ternyata ikut menjenguknya. Cinta masih mempunyai perasaan yang tida enak kepada BIntang. Bagaimanapun juga Bintang pernah menyatakan perasaannya kepada Cinta, dan sekarang Cinta malah berpacaran dengan Andika. Cinta dapat merasakan rasa sakit BIntang, namun dia tidak bisa mempungkiri rasa sukanya kepada Andika.


Ini adalah pertama kali Cinta egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain, maka dari itu juga dia selalu di hantui dengan rasa bersalah dengan perilakunya itu.


Bintang tak hanya menjenguk Cinta, dia juga menghampiri Andika yang sedang terbaring di bangsal.Beberapa saat dia hanya terdiam hingga membuat Andika bingung, lalu Bintang pun berkata,"jaga Cinta baik-baik. Gue harap ini adalah terakhir kalinya lo bikin Cinta masuk rumah sakit, kalau enggak gue akan rebut dia dari lo!".


Setelah itu Bintang pergi dari hadapan Andika, dia pamit kepada Cinta dan Ibunya.


'Kenapa gue merasa ada yang aneh dengan Bintang? apa yang dia katakan tadi kepada Andika kayaknya serius,' batin Cinta dengan kebingungan.


"Kita juga mau pamit pulang ya Cin, lain kali kita jenguk lagi. Cepat sembuh ya biar kelas jadi makin rame karena lo!" ucap Riana.


"Dik, lo juga cepat sembuh ya!" kata Riana memandang ke arah Andika.


"Oke sip. Makasih ya udah jengukin gue!" kata Andika.


Tanpa banyak basa-basi lagi, teman-teman Cinta dan Andika pergi meninggalkan ruangan. Dan ruangan kembali menjadi sepi tinggal hanya Laras seorang yang mendampingi mereka.


Laras mendekat ke arah Cinta dan duduk di kursi yang ada di samping bangsal Cinta.


"Cin, tadi IBu berpapasan sama seorang siswa cewek, masih menggunakan seragam sekolah dan datang dari arah ruangan kamu. Itu teman kamu ya?" tanya Laras kepada putrinya.


"Iya Bu, itu temanku. Dia siswa pindahan sama kayak Andika," kata Cinta kepada Ibunya.


"Emang ada aapa Bu? kenapa Ibu bertanya seperti itu?" tanya Cinta dengan rasa bingung.

__ADS_1


"Enggak, cuma penasaran aja sih," kata Laras.


Laras tidak ingin memberitahu Cinta soal Cantika yang menabrak bahunya dengan sengaja saat berpapasan tadi. Dia tidak ingin Cinta membenci Cantika dan merusak pertemanan diantara mereka.


...***...


Keadaan di rumah Bintang semakin hari semakin buruk, Nadia terus menerus mencurigai suaminya.Terlebih lagi Marchel sekarang jarang di rumah dengan alasan bekerja part time dengan gaji harian,namun Nadia tidak pernah melihat hasilnya.


Setiap saat pulang bekerja, Marchel selalu di suguhkan banyak pertanyaan dari sang istri. Setiap hari Nadia mencurigainya memiliki selingkuhan di luar, namun Marchel tidak marah kepada sang istri karena rasa bersalahnya yang atas perilaku yang dulu.


"Mas kemana uang hasil bekerjamu? setiap hari pulang larut malam dengan alasan mencari pekerjaan part time tetapi tidak ada hasilnya. Kamu membohongi aku ya Mas?" tuduh Nadia kepada sang suami.


Marchel berdiri di samping sofa, bahkan dia belum sempat duduk di sofa sudah si tuduh oleh istrinya. Kesabaran Marchel menipis tetapi rasa bersalahnya lebih besar sehingga dia mengurungkan niat untuk memarahi sang istri yang selalu menuduhnya yang bukan-bukan.


"Mas kenapa kamu diam saja? jawab Mas!" uap Nadia sambil menarik tangan Marchel yang berdiri mematung tanpa suara.


"Nadia, aku berkali-kali sudah bilang sama kamu aku kerja dan gak ada selingkuhan. Untuk pendapatan yang aku hasilkan aku sudah tabung di bank, makanya gak terlihat oleh kmu. Kalau kamu gak percaya aku punya bukti saldonya," kata Marcel yang berbohong.


Marchel emang menyisihkan setengah gajinya untuk di tabung setiap hari, sedangkan sisanya dia tabung untuk menyiapkan uang untuk Laras.


"Kenapa kamu baru jelasin sekarang Mas? selama ini kmu diam saja jadinya aku berfikir yang bukan-bukan. Maafin aku ya Mas," kata Nadia yang merasa bersalah kepada sang suami.


Marchel memeluk istirnya dengan penuh kasih sayang, dia sangat mencintai istrinya dan sangat takut kehilangan istrinya.


'Untung saja aku mempunyai rencana menabung, sehingga bisa mengelabui istriku. Tapi ini tidak bisa di biarkan begitu saja, kalau terus-terusan seperti ini aku bisa mati bekerja seharian untuk wanita rendahan itu. Aku harus menyingkirkan Laras secepatnya, hanya dengan menghilangkan nyawa seseorang baru bisa menjaga rahasiaku dengan aman,' batin Marchel yang merencanakan rencana jahatnya.


Pelukan di lepas ketika Bintang membuka pintu, Bintang yang melihat situasi tersebut merasa bersalah karena datang di waktu yang tidak tepat.


"Eh maaf aku ganggu kalian ya!" ucap Bintang menggoda Papan dan Mamanya yang tersipu malu.


"Te...tentu saja enggak," ucap Nadia terbata-bata.


"Kamu kenapa baru pulang BIntang?" tanya Marchel mengalihkan pembicaraan.


"Iya Pa, habis jenguk teman ke rumah sakit," ucap Bintang.

__ADS_1


"Siapa yang sakit? dan sakit apa?" tanya Nadia.


"Ada teman, Mama gak akan tahu!" ucap Bintang yang tak ingin Mamanya mengetahuinya.


"Oh gitu. Kamu makan dulu gih!"


"Iya deh, aku ke kamar dulu ya. Kalian lanjutkan saja aktivitas yang tadi," kata Bintang kembali menggoda orang tuanya.


"Eh apaan sih Bintang, udah sana-sana masuk ke kamar!" usir Nadia.


"Gara-gara kamu sih Mas, kita jadi diledekin kan sama Bintang," kata Nadia menyalahkan suaminya.


"Benar yang di katakan Bintang, kita lanjut di kamar yuk Ma! hitung-hitung hilangin lelahnya Papa," ucap Marchel menggoda istrinya.


"Papa mandi dulu sana, keringatan tahu!" kata Nadia.


'Tapi beneran ya 'dikasih'? awas bohong!"


"Iya Pa! sana mandi dulu!" ucap Nadia.


Marchel bergegas ke kamar mandi untuk mandi, mengambil handuk di kamarnya di susul oleh Nadia.


"Ehhh!" Nadia terkejut ketika Marchel menarik tangannya dari kamar mandi.


"Kita belum coba loh di kamar mandi Ma," kata Marchel sambil menggerayangi leher istrinya dengan lidahnya.


"Mas Marchel katanya mandi dulu!" rajuk Nadia.


"Nanti aja sekalian Ma, aku ingin menikmati mu dulu,"


Karena sudah tidak mampu menahannya, Marchel membawa istrinya ke atas ranjang untuk bercocok tanam.


"Mas pelan-pelan ya," kata istrinya.


"Iya, Mas pasti akan lembut kok kali ini," kata Marchel setelah melucuti semua pakaiannya dan istrinya.

__ADS_1


"Emmmmm!" Nadia mengekspresikan rasa nikmat yang di berikan oleh suaminya.


Keduanya bermain dengan senang, tentu saja dengan kenikmatan yang tiada tara.


__ADS_2