Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 79


__ADS_3

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Cinta buru-buru pulang ke rumah. Ini membuat Andika mencurigainya, Andika pun bergegas mengejar Cinta.


"Cinta!" teriak Andika memanggil Cinta.


'Aduh mau apalagi sih Andika!' batin Cinta sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andika.


"Lo mau kemana? kok tumben buru-buru mau pulang?" tanya Andika setelah mendekat kepada Cinta.


"Bukan urusan lo!" ucap Cinta kesal.


"Tentu jadi urusan gue dong, bagaimanapun juga lo pacar gue!" ucap Andika.


"Masih belum ya, lo belum nemu pelakunya!" ucap Cinta.


"Sebentar lagi juga akan ketemu kok!" ucap Andika penuh percaya diri.


"Semoga aja sih! Gue balik duluan ya," ucap Cinta lalu pergi meninggalkan Andika.


"Biar gue antar pulang Cin, lagipula kita searah!" ucap Andika sambil mengejar langkah kaki Cinta.


"Gak usah! Gue bisa naik angkot!" sahut Cinta tanpa menoleh ke araj Andika lagi.


Namun Andika bersikeras untuk mengantar Cinta pulang sehingga Cinta tak mampu menolaknya lagi.


Di sudut lainnya, seorang pria menatap Andika dan Cinta dengan penuh rasa iri yang di pendam sejak lama. Terlihat pria tersebut menunjukkan rasa takut setelah mendengar percakapan Andika dan Cinta.


'Apa Andika akan serius menyelidiki kasus pembunuhan itu? semoga saja dia tida menemukan pelakunya yabg sebenarnya!' batin pria tersebut.


...***...


"Makasih ya udah antar gue pulang!" ucap Cinta.


Cinta ingin meninggalkan Andika karena waktu untuk bekerja sudah mendesak, namun tangannya di raih oleh Andika yang masih duduk di atas motor.


"Lo gak ijinkan gue masuk dulu gitu?" tanya Andika.

__ADS_1


"Gak! Gue ada urusan gue harus pergi setelah ini," ucap Cinta tanpa memberitahu tujuannya.


"Mau pergi kemana? Biar gue antar ya?" kata Andika menawarkan dirinya


"Gak usah Dik, gue bisa pergi sendiri. Udah ya gue mau ganti baju dulu, lo pulang aja. Daah!" ucap Cinta sambil melambaikan tangannya kepada Andika lalu pergi.


'Heh! Mau main rahasia-rahasiaan sama gue ya? Gak akan gue biarin Cin,' batin Andika sambil tersenyum miring.


Sementara menunggu Cinta mengganti pakaiannya, Andika mencari tempat mengumpat agar tidak di ketahui oleh Cinta. Dia mengumpat di balik pohon pisang yang ada di sana dan memarkirkan motornya jauh dari sana. Tak peduli ada banyak nyamuk, Andika tetap menunggu hingga Cinta keluar dari rumahnya.


Namun tiba-tiba ada panggilan masuk di handphonenya Andika, itu adalah bawahannya yang dia perintahkan untuk mencari informasi tentang kasus pembunuhan Laras.


"Baik siap! Kita bertemu di rumah saya saja!" ucap Andika setelah orang tersebut berbicara di telepon.


'Aku telah meminjam orangnya Papa untuk menyelidiki kasus pembunuhan ibunya Cinta. Sebagai gantinya aku telah berjanji untuk mengikuti semua perintahnya termasuk menjadi pewaris dan meneruskan bisnisnya. Semoga mereka dapat menemukan pelakunya,' batin Andika.


Belum sempat melihat Cinta keluar, Andika sudah harus pergi menemui suruhannya. Andika ingin segera tahu informasi apa yang di dapatkan mereka. Selain itu juga Andika ingin masalah ini segera selesai, agar rasa bersalahnya terhadap Cinta dan juga Laras berkurang. Dia masih mengingat dirinya yg begitu kejam menghina mereka sehingga membuat dia menyesal dan ingin membayar semua perbuatannya.


"Tuan muda ini beberapa informasi yang kami dapatkan!" ucap seorang pria yang mengenakan seragam serba hitam.


"Kita masuk dulu, bicarakan di dalam saja!" ucap Andika mengajak orang tersebut masuk ke rumahnya.


"Tuan muda, saya sempat ke kantor polisi untuk melakukan penyelidikan. Saya sempat mengecek Handphone korban dengan siapa saja terakhir kali dia berhubungan. Saya menemukan satu kontak yang patut di curigai, namun korban menggunakan nama samaran untuk kontak tersebut dan juga profil WhatsApp Nya sudah dihapus. Kemungkinan pelaku sudah tahu bahwa dia sudah di incar oleh polisi," ucap pria tersebut.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya? Apa tidak ada seseorang yang patut di curigai?" tanya Andika.


"Untuk saat ini kami masih belum ada, hanya saja kami menemukan sebuah Cincin dengan tulisan Marchel di tempat kejadian. Apa bos tahu siapa Marchel ini?" tanya pria tersebut.


"Marchel ya? aku pikir aku pernah mendengar namanya tapi di mana ya?" tanya Andika pada dirinya sendiri.


"Ini saja informasi yang kamu dapatkan?" tanya Andika.


"Iya Tuan!"


"Baiklah kamu selidiki lebih lanjut. Saya akan bertanya tentang Marchel ini kepada Cinta apakah dia mengenalnya atau tidak!" ucap Andika.

__ADS_1


"Baik Tuan, kalau begitu saya ijin pamit Tuan Muda!" ucap pria tersebut.


Setelah pria itu pergi, Andika kembali mengingat-ingat orang yang bernama Marchel tersebut. Dia pikir dia mengenalnya, namun dia lupa siapa orangnya dan kapan mereka bertemu.


"Lebih baik besok aku langsung tanya sama Cinta saja. Kalau sekarang mungkin dia sudah pergi karema urusannya," ucap Andika.


Di sisi lain, Cinta telah sampai di tempat dia bekerja. Cinta di sambut dengan ramah oleh bosnya yang bernama Pak Santoso.


"Maaf Pak saya telat!" ucap Cinta.


"Tidak apa masih ada waktu 5 menit kok untuk jam 3 nya," kata Pak Santoso ramah.


"Baik, kalau kamu sudah siap kamu bisa mulai bekerja ya!" ucap Pak Santoso.


"Baik Pak!" sahut Cinta.


Cinta pun mulai bekerja sesuai dengan perintah Pak Santoso. Dia memulai dengan membereskan piring-piring kotor yang sudah selesai pelanggan gunakan. Setelah itu dia membawanya ke belakang untuk segera di cuci. Setelah selesai mencucinya dia kembali ke depan untuk mengelap meja dan juga membantu Pak Santoso melayani pelanggan.


Cinta sangat lincah dalam mengerjakan pekerjaannya, membuat hati Pak Santoso senang mengangkatnya sebagai karyawan.


"Mbak nasi nya dua ya!" ucap seorang pria yang baru datang dengan kekasihnya.


"Baik Mas! Silahkan di tunggu ya. Untuk minumnya apa Mas?" tanya Cinta ramah.


"Jus alpukat ada?"


"Ada Mas!" sahut Cinta dengan senyum manisnya.


"Ya udah itu saja dua ya!" sahut pria tersebut.


"Baik Mas silahkan di tunggu ya!" ucap Cinta lalu bergegas melapor kepada Pak Santoso.


Cinta membawakan satu persatu pesanan pelanggan yang sudah di siapkan oleh Pak Santoso. Cinta bekerja sangat hati-hati, dia tidak ingin membuat Pak Santoso rugi apalagi ini adalah hari pertama dia bekerja. Meskipun lelah setelah berkali-kali berlarian, namun Cinta sangat senang melakukannya. Di pikir-pikir lumayan untuk berolahraga setelah pulang dari sekolah.


"Cinta, kamu sudah begitu lelah istirahatlah dulu mumpung belum ada pelanggan lain yang datang!" ucap Pak Santoso setelah selesai memenuhi semua pesanan pelanggannya.

__ADS_1


"Tidak apa Pak, saya tidak lelah kok. Saya izin ke belakang untuk mencuci piring dan gelas yang kotor dulu ya Pak!" ucap Cinta lalu pergi ke tempat penyucian.


Pak Santoso menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia melihat anak muda dengan semangat tinggi untuk bekerja. Dia bersyukur tidak salah memilih karyawan, meskipun dia sendiri bisa melakukannya sendiri namun dia sadar semakin tua kelincahannya semakin turun. Dan juga Pak Santoso selalu merasakan kelelahan, tidak ada salahnya dia merekrut Cinta sebagai karyawannya.


__ADS_2