
Pada malam hari sesuai kesepakatannya dengan Cantika, Andika telah bersiap untuk bertemu di sebuah Bar. Naya yang sudah lama tidak melihat anaknya berpakaian rapi setelah putus dengan Cinta pun menghampiri Andika yang sedang bercermin di kamarnya.
"Mau kemana kamu Dik?" tanya Naya lembut sambil duduk di tepi ranjang milik Andika.
"Mau keluar sebentar Ma, nyari angin malam!" sahut Andika yang masih sibuk merapikan pakaiannya.
"Sama siapa? sama Cinta?" tanya Naya.
"Gak mungkinlah Dika jalan sama anak pel*cur itu!" kata Andika kesal setelah mendengar nama Cinta.
"Kamu kok begitu sih Dik?"
"Lagian Mama kenapa gak bilang dari awal sih kalau tante Laras pel*cur? Mama malah tega membiarkan Andika jatuh cinta sama anak pel*cur!" ucap Andika.
"Dik, kalau kamu memang cinta sama Cinta, kamu gak akan mempermasalahkan status Ibunya," ucap Naya.
'Yang dikatakan Mama benar, jika aku memang beneran cinta sama dia aku gak akan mempermasalahkan itu. Apa aku gak cukup mencintainya? apa aku hanya mengaguminya saja?' batin Andika memikirkan kata-kata Naya.
"Dik, saat itu kamu meminta bantuan Mama untuk menjodohkan kamu dan saat sudah berhasil kamu malah menyia-nyiakan Cinta. Waktu itu Cinta sempat menolak tetapi dia tidak bisa berbohong dari raut wajahnya. Saat ini mungkin Cinta membenci kamu Dik, bagaimanapun juga dulu kamu yang mengejarnya," ucap Naya memberikan nasehat kepada anaknya.
"Pikirkan baik-baik Dik, kasihan Cinta!" kata Naya terakhir kalinya lalu pergi meninggalkan Andika yang sudah bersiap akan pergi.
'Mungkin gue harus minta maaf sama Cinta, saat melihat dia menangis tadi hati gue juga sakit dan terus merasa bersalah,' batin Andika.
Meskipun Andika telah mengalihkan rasa bersalahnya tadi, namun dari lubuk hatinya dia tidak akan mampu mengalihkannya. Rasa bersalah itu akan terus menghantuinya saat dia tidak mampu menyembunyikannya.
Andika mengambil Handphonenya, dia mengetik sebuah pesan kepada Cantika bahwa dia tidak bisa datang ke Bar malam ini. Setelah mengirim pesan tersebut, Andika bergegas pergi ke rumah Cinta.
Sedangkan di seberang sana, terlihat Cantika memajang wajah kesal setelah membaca chat yang di kirim oleh Andika. Cantika sudah sangat senang bisa berduaan dengan Andika, bahkan sudah memilih pakaian yang bagus dalam beberapa jam hingga menemukan yang cocok.
'Oke gak apa-apa, gue cuma nunggu sampai besok kan?' batin Cantika menenangkan dirinya.
__ADS_1
...****...
Sementara itu di rumah Cinta...
"Cinta, kamu beneran gak mau makan dulu?" tanya Laras menghampiri Cinta yang mogok makan sejak putus dari Andika.
"Iya Bu, aku gak kepingin makan Bu!" ucap Cinta.
Laras duduk di samping Cinta, hatinya merasa bersalah kepada putri satu-satunya. Menyesal telah membiarkan putrinya di permalukan oleh teman-temannya.
"Cinta sini nak!" panggil Laras kepada Cinta yang berpura-pura membaca sebuah buku untuk mengalihkan rasa sedihnya.
Laras menyandarkan kepala anaknya ke bahunya dan memeluknya dengan kasih sayang. Laras tidak ingin Cinta merasakan kesedihan itu dan menanggungnya sendirian.
"Cinta, kamu jujur saja sama Ibu. Apa yang membuat kamu menjadi seperti ini? apa karena Andika?" tanya Laras lembut.
"Enggak kok Bu. Cinta juga gak sedih!" ucap Cinta berusaha tersenyum di depan Laras.
"Bu kenapa Andika mempermasalahkan status Ibu? bukankah dia sendiri sudah melihat ibu sudah berubah?" tanya Cinta kepada Laras.
Laras tak bisa berkata-kata, untuk sementara dia diam dan berfikir. Hatinya ikut sakit melihat anaknya sedih seperti itu, bagaimana tidak? ini pertama kali Cinta bersedih sampai tidak ingin makan. Cinta seringkali mengurung dirinya di kamar, Laras menjadi sangat khawatir terhadap anaknya.
"Cinta, Ibu yang salah. Seandainya Ibu dulu bekerja dengan benar mungkin kamu akan bahagia sekarang. Kamu juga memiliki ayah dan tidak di hina oleh teman-temanmu. Maafin Ibu ya nak, Ibu bersalah sama kamu," kata Laras meneteskan air matanya.
Cinta mengangkat kepalanya, melihat Laras menangis dia tidak tega. Cinta mengelap air mata yang mengalir di pipi Ibunya.
"Ibu jangan menangis, ini bukan salah Ibu. Ini salah mereka yang tidak mengerti penderitaan Ibu waktu itu," kata Cinta yang ikut menangis tak mampu menahannya lagi.
Mereka saling berpelukan dan menenangkan diri, hingga tangisan keduanya reda Cinta mulai bicara serius dengan Laras.
"Ibu, semuanya sudah berlalu. Jangan Ibu sesali lagi, yang terpenting saat ini adalah Ibu tidak bekerja seperti itu lagi. Bukankah sekarang Ibu bekerja di toko? Ibu jangan pernah mengambil pekerjaan kotor itu lagi ya Bu?" pinta Cinta kepada Ibunya.
__ADS_1
Laras menganggukkan kepalanya dsn saat itu juga air matanya kembali menetes. Dia memeluk kembali anaknya, untuk kedua kalinya Laras merasa sangat bersalah kepada Cinta. Bagaimana tidak? pekerjaannya yang saat ini tidak beda jauh dengan pekerjaan yang sebelumnya. Laras membohongi anaknya bekerja di sebuah toko, padahal dia sama sekali tidak bekerja dan hanya memanfaatkan Marchel.
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu di ketuk, Cinta dan Laras bergegas membukakan pintu sambil menghapus air mata mereka. Mereka tidak tahu siapa yang datang malam-malam seperti ini.
"Andika!"
Cinta terkejut melihat Andika berdiri di balik pintu yang baru saja dia bukakan.
"Hai Cin!" sapa Andika kepada Cinta yang masih memajang raut wajah terkejutnya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Cinta.
"Gue...," Andika melirik ke arah Laras.
Laras yang mengerti maksud Andika segera pergi memberikan ruang waktu untuk mereka berbicara. Bagaimanapun juga Laras dulu pernah muda, mungkin saja mereka akan memperbaiki hubungan mereka.
"Ibu gue udah pergi, lo mau apa?" tanya Cinta mengulangi pertanyaannya yang belum sempat di jawab oleh Andika.
"Gue minta maaf sama lo," kata Andika.
Sontak Cinta terkejut ketika Andika minta maaf kepada dirinya. Ada rasa kesal di dalam hatinya, dengan rasa sakit yang telah dia rasakan beberapa hari ini tidak sepadan dengan kata maaf yang di ucapkan oleh Andika. Namun Cinta berusaha bersikap tenang, dia tidak ingin emosi.
"Terus?" tanya Cinta seperti mengabaikan permintaan maaf Andika.
"Ya gue nyesel telah mempermalukan lo di depan teman-teman. Gue juga nyesel bikin lo sakit hati," kata Andika.
Cinta hanya terdiam, tidak menjawab. Dia belum bisa memaafkan Andika karena Andika sempat merendahkan ibunya.
'Coba saja lo cuma nyakitin hati gue mungkin gue bisa memaafkan lo, tapi kenapa lo harus merendahkan Ibu gue juga? Ibu adalah orang yang paling gue sayang dan hanya Ibu yang gue punya!' batin Cinta penuh penyesalan dengan perilaku Andika.
__ADS_1