
Situasi di rumah Bintang nampak sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bintang merasa sangat aneh dengan orang tuanya yang jarang berkomunikasi.
'Mungkinkah mereka bertengkar? Lalu apa masalahnya?' batin Bintang yang masih menatap kedua orang tuanya duduk berjauhan di sofa ruang tamu.
Setiap malam biasanya mereka menonton tv bersama, tetapi kali ini Ibunya Bintang sedari tadi memainkan handphone yang dia genggam.
Bintang menjadi sangat bingung, apa penyebab kedua orang tuanya seperti ini.
"Ma! Pa!" panggil Bintang kepada kedua orang tuanya.
Marchel dan Nadia yang tadinya sibuk masing-masing dengan aktivitasnya menolehkan kepala mereka ke arah Bintang.
"Kenapa sayang?" tanya Nadia sambil tersenyum kepada Bintang.
"Kalian sedang berantem ya?" tanya Bintang kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain.
"Gak kok Bintang, kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Marchel.
"Setelah pulang dari restauran itu dan setelah bertemu dengan tante Laras, kalian seperti orang yang sedang bertengkar. Tidak ada komunikasi, tidak pernah tertawa bersama lagi dan terkesan saling menjauh" ujar Bintang.
"Bintang, orang dewasa juga punya kesibukan masing-masing. Jadi adakalanya kita sibuk dengan urusan pribadi, dan adakalanya kita bersama. Dan ini sudah menjadi kesepakatan kami berdua. Iya kan Ma?" kata Marchel langsung mengalihkan pandangannya ke arah istrinya.
"Iya Sayang, yang Papa kamu bilang itu benar!" kata Nadia membenarkan perkataan suaminya.
"Tapi Bintang jarang melihat kalian berdua seperti ini," kata Bintang yang masih belum percaya.
"Karena kita jarang seperti ini Bintang," sahut Nadia.
"Oh gitu ya. Bintang kira kalian sedang berantem, syukurlah kalau enggak!" ucap Bintang lega, dia memasang senyum diwajahnya.
'Apa aku salah ya sudah mencurigai Mas Marchel. Sebenarnya aku gak mau seperti ini, takut masalahnya tambah besar dan mengorbankan Bintang. Tetapi perkataan wanita itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku, sangat susah untuk di lupakan,' batin Nadia.
Memang belakangan ini Nadia terus menaruh curiga kepada sang suami. Dia belum bisa melupakan kata-kata Laras beberapa hari yang lalu.
"Oh ya Bintang, katanya kamu ikut lomba melukis di sekolah. Sudah di umumkan pemenangnya?" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.
"Udah Ma aku juara 3!" sahut Bintang.
'Kegiatan lomba di sekolah telah usai kemarin pada hari jumat, Cinta dan Andika...ah sudahlah. Aku gak mau mengingat mereka lagi!' batin Bintang.
"Wah selamat ya! Untuk merayakannya bagaimana kalau kita jalan-jalan besok. Besok kamu libur kan Bintang?"
__ADS_1
"Libur Pa, tapi gak usah lah kita rayain. Bintang mau istirahat saja di rumah, lagipula kasihan Papa sama Mama harus ambil cuti cuma masalah seperti ini. Nanti ada hal lain yang lebih penting, Mama sama Papa gak bisa ambil cuti lagi," kata Bintang.
"Anak Papa memang pengertian banget!" puji Marchel.
"Eh itu anak Mama juga kali," ucap Nadia.
"Udah-udah, Bintang anak Mama sama Papa kok," kata Bintang melerai pertengkaran kecil orang tuanya.
Marchel dan Nadia pun tertawa mendengar perkataan Bintang. Akhirnya suasana kembali seperti semula, Bintang merasa sangat lega setelah melihat kedua orang tuanya tertawa bersama.
"Oh ya Pa, untuk ulang tahun Mama, Papa sudah siapin untuk Mama?" tanya Bintag mengingatkan Marchel bahwa ulang tahun Nadia sudah dekat.
"Mmmm, apa ya? Ada deh pokoknya. Lagipula masih lama kok," ucap Marchel yang lupa dengan ulang tahun istrinya.
"Lama? bukannya ulang tahun Mama lagi dua hari? iya kan Ma?" tanya BIntang memastikan kepada sang Mama.
Nampak di raut wajah Nadia dia sedang kesal dengan suaminya, terlebih lagi suaminya melupakan ulang tahunnya.
"Iya sayang, sudahlah gak perlu di rayakan lagi. Kamu tahu sendiri kan umur Mama sudah berapa, malu untuk merayakan lagi," ucap Nadia.
"Kok gitu Ma? Biasanya jugav tiap tahun Mama dengan semangat merayakan ulng tahun Mama. Papa juga biasanya dua hari sebelum ulang tahun Mama sudah sibuk menyiapkan segala macam," ucap Bintang yang semakin mencurigai bahwa ubungan orang tuanya sedang tida baik-baik saja.
"Ma kita rayakan saja ya, masa gak di rayakan sih. Maaf Papa lupa soalnya akhir-akhir ini banyak pekerjaan dikantor," ucap Marchel yang merasa bersalah terhadap istrinya.
"BIntang, Mama ke kamar dulu ya!" kata Nadia lalu bergegas meninggalkan Marchel dan Bintang dengan tatapan aneh mereka.
"Mama kenapa Pa? kok seperti sedang marah?" tanya Bintang.
"Sepertinya Mama marah karena Papa melupakan hari ulang tahunnya," ucap Marchel.
''Lagipula Papa sih kok bisa-bisanya lupa sama ulang tahun istri sendiri,"
"Mau gimana lagi BIntang, mungkin sudah faktor U," ucap Marchel.
'Ini gara-gara Laras, aku kepikiran dengan uang yang dia minta sampai-sampai aku melupakan ulang tahun Nadia,' batin Marchel.
Sedangkan di kamar Nadia masih memasang wajah cemberut karen kesal dengan suaminya.
'Bisa-bisanya Mas Marchel melupakan ulang tahunku. Padahal setiap tahun dia yang pling heboh untuk mempersiapkan ulang tahunku, sesibuk apapun dengan pekerjaannya Mas Marchel tidak pernah lupa dengan ulang tahunku. Ini pasti karena ada wanita lain yang Mas Marchel pikirkan, sampai-sampai Mas Marchel melupakan ulang tahunku,' batin Nadia.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka, Nadia dengan posisi rebahan di atas kasur langsung memejamkan matanya. Nadia tahu, itu pasti suaminya yang datang menghampirinya.
Dia mendengar langkah suaminya yang perlahan-laha mendekat ke aats kasur dan menaiki kasur.
__ADS_1
"Ma, Papa minta maafx tidak sengaja melupakan ulang tahun Mama," ucap Marchel sambil memeluk istrinya dari belakang.
Namun Nadia masih tidak membalikkan badannya, dia masih malu-malu kucing menghadapi suaminya.
"Ma maafin Papa dong, Papa ngaku salah Ma," ucap Marchel memelas kepada istrinya yang masih ngambek.
"Pa, Mama mau bertanya tapi Papa harus menjawabnya dengan jujur!" ucap Nadia dengan posisi yang masih sama membelakangi Marchel.
DEG!
Seketika jantung Marchel berdetak dengan kencang, memikirkan pertanyaan apa yang akan di tanyakan oleh istrinya.
"Mama mau bertanya, apakah ada sesuatu yang Papa sembunyikan dari Mama mengenai Laras? Ibunya Cinta?" tanya Nadia.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu?" tanya Marchel.
"Ya Papa tinggal jawab saja, ada apa tidak?" kata Nadia.
'Duh akhirnya yang aku takut-takutkan terjadi juga. Kalau aku berbohong Nadia akan tahu sesuatu gak ya? tapi kalau aku jujur dia pasti akan kecewa dan benci sama aku! Aku gak mau membuat suasana hatinya menjadi hancur apalagi ulang tahunnya sudah dekat' batin Marchel bingung.
"Mas kok diam?" tanya Nadia.
"Habisnya dari tadi kamu bicara tanpa menatap Mas, bahkan membalikkan badan saja tidak," ucap Marchel.
Nadia pun membalikkan badan dan memeluk sang suami.
"Kalau kayak gini udah kan?" tanya Nadia.
"Udah hehe. Tapi Mas gak ada loh sembunyikan apa-apa tentang ibunya Cinta, Mas kenal saja tidak. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya mengenai dia? apa karena saat di restaurant itu?" tanya Marchel.
"Enggak sih Mas, aku cuma tes kamu aja kok," ucap Nadia sambil tersenyum menatap ke arah Marhel.
"Beneran?" tanya Marchel.
"iya Mas," ucap Nadia.
"Syukurlah! yaudah sekarang kamu tidur aja, besok kerja pagi agar gak telat bangun," kata Marchel.
"Iya Mas juga tidur ya," ucap Nadia.
"Iya sayang, mimpi indah ya Ilove you," ucap Marchel sambil mengecup kening istrinya.
"ILove you too Mas," sahut Nadia.
__ADS_1
Meskipun sudah mempunyai anak, keromantisan mereka tidak pernah hilang. Mungkin ini yang diharapkan oleh semua pasangan yang sudah berumah tangga. Namun di balik kemesraan itu ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pasangan, jadi romantis tidak menjamin dia tidak menghianatimu.