
Sesampainya di restauran, Nadia, Bintang dan juga Marchel memesan makanan. Marchel terlihat gugup sampai mengeluarkan keringat dingin, apakah yang terjadi?. Ternyata Laras masih duduk santai di sebuah kursi tempat dia bertemu dengan Laras tadi.
Marchel ingin mengajak Nadia pindah meja, tetapi dia takut membuat Nadia mencurigainya.
'Semoga saja Nadia tidak melihat Laras di seberang sana,' batin Marchel.
Dia berharap Nadia tidak menengok kan kepalanya ke arah kiri dimana tempat Laras duduk.
"Mas kamu kenapa?" tanya Nadia melihat Marchel seperti menutupi wajahnya dengan buku menu.
"Ini...ini lagi pesan makanan Ma," sahut Marchel gugup.
"Mas kenapa? Kok kelihatannya gugup?" tanya Nadia.
"Mas gak apa-apa kok, kalian lanjut pesan dulu ya Mas mau pergi ke toilet dulu!" ucap Marchel lalu pergi meninggalkan Nadia dan Bintang di tempat duduknya.
"Papa kenapa Ma?" tanya Bintang.
"Mama juga kurang tahu," sahut Nadia.
"Sudah kamu lanjut pesan saja sayang," kata Nadia mengelus rambut Bintang.
'Mas Marchel kenapa gugup seperti itu? Apakah wanita itu masih ada di sini?' tanya Nadia pada dirinya sendiri.
Nadia menolehkan pandangannya ke kanan dan kiri berharap menemukan sosok yang di cari. Dan...
"Itu kan Laras?" ucap Nadia tanpa sadar yang membuat Bintang ikut menoleh ke arah Laras yang berperan sebagai Ibunya Cinta itu.
"Eh iya Ma, kita ajak gabung sekalian kali ya? Tapi kenapa tante Laras gak ajak Cinta ya?" tanya Bintang.
"Mama juga gak tahu, lebih baik kita kesana dulu," ujar Nadia lalu bangkit dari kursinya diikuti oleh sang anak.
"Hei Jeng! Lagi apa kamu di sini?" sapa Nadia kepada Laras.
Laras yang tadinya asik memainkan handphonenya terkejut dengan suara Nadia yang menyapanya.
"Eh kirain siapa, ternyata kamu jeng. Aku habis ketemu teman nih di sini," ucap Laras.
"Oh begitu, udah selesai kan?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Udah selesai dari tadi jeng, aku cuma masih ingin nyantai aja di sini," ucap Laras sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita gabung aja yuk! Kita pindah saja ke meja yang di sana!" ucap Nadia sambil menunjukkan meja yang dia duduki tadi.
"Gak apa nih?" tanya Laras yang pura-pura sungkan, padahal dalam hatinya merasa sangat senang karena akan di traktir makanan lagi.
"Santai aja, yuk!" ajak Nadia.
Mereka bertiga pun pergi ke meja yang sebelumnya Nadia dan Bintang tempati.
"Cinta gak ikut Tante?" tanya Bintang ketika semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.
"Oh ya, tadi Tante ke sini sebelum Cinta pulang sekolah jadinya dia gak diajak ke sini," ucap Laras.
"Mbak!" Nadia memanggil pelayan yang berdiri di dekat mereka dengan membawa buku menu.
Pelayan tersebut langsung menghampiri Nadia begitu di panggil.
"Mbak minta menu ya, saya tambah pesanan!" ujar Nadia.
Pelayan tersebut memberikan sebuah buku menu kepada Nadia, dan bersiap untuk mencatat makanan tambahan yang akan di pesan.
"Jeng, kamu pesan saja apa yang kamu mau. Biar aku yang traktir!" ucap Nadia.
"Iya beneran. Udah jangan sungkan-sungkan pesan saja yang kamu mau," ujar Nadia sekali lagi.
"Yaudah deh Jeng, kalau gitu terimakasih ya!" ucap Laras.
Kemudian Laras memesan makanan yang ada di buku menu tersebut, dan pelayan mencatat setiap pesanan yang dia pesan.
"Sudah segitu saja Mbak!" ucap Laras.
"Baik, mohon di tunggu ya makanan segera datang!" ucap Pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan meja Nadia.
Selang beberapa menit setelah pelayan pergi dari sana, Marchel kembali dari toilet. Dan tentu saja dia sangat terkejut melihat keberadaan Laras yang sudah duduk bersama Nadia dan Bintang.
"Eh Mas, sudah datang. Gak apa-apa kan Ibunya Cinta makan bareng kita?" tanya Marchel.
"Eng...Nggak apa-apa kok Ma. Santai, santai!" ucap Marchel duduk perlahan diiringi dengan keringat dingin.
__ADS_1
'Aduh kenapa juga Nadia mengajak Laras makan bersama,' batin Marchel.
Hatinya Marchel saat ini gundah gulanda, dia menjadi tidak nafsu makan setelah melihat Laras satu meja dengannya.
'Sepertinya memang benar Mas Marchel memiliki suatu hubungan yang tidak aku ketahui bersama Laras. Apa mungkin Mas Marchel selingkuh?' Nadia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Ketika makanan datang, mereka menyantapnya perlahan-lahan. Setiap orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Nadia yang masih curiga dengan hubungan Marchel dan Laras. Marchel yang tidak bisa tidak cemas dengan keberadaan Laras. Bintang juga sedang memikirkan hubungan dekat antara Cinta dengan Andika. Dan Laras juga ikut memikirkan cara untuk memberikan sedikit ancaman agar bisa membuat Marchel tunduk terhadapnya.
"Papanya Bintang, rasanya kita pernah berjumpa dulu dimasalalu. Benar tidak ya?" tanya Laras yang dengan sengaja memancing ketegangan suasana.
"Ma...masak sih? Saya rasa pertama kali kita bertemu saat berada di rumah Anda!" sahut Marchel gugup.
'Si Laras ini mau apa sekarang, semoga saja tidak berbicara yang macam-macam!' batin Marchel yang masih dihantui dengan rasa khawatir.
"Iya, kalau gak salah ingat dulu aku punya teman yang kerjanya sebagai 'wanita malam' dan salah satu pelanggannya mirip banget sama muka Anda. Tapi saya juga gak tahu sih ya, itu kayaknya cuma mirip saja!" jelas Laras seolah-olah dia tidak ingin mencurigai Marchel sebagai orang tersebut.
"Mana mungkin saya bermain dengan 'wanita malam'. Mungkin saja itu hanya sekedar mirip saja," ucap Marchel.
"Iya mungkin cuma mirip saja Jeng," ucap Nadia mencoba menahan rasa sesaknya.
Nadia dulu memang pernah mencurigai suaminya, Marchel bermain dengan wanita malam. Karena pada waktu itu Marchel jarang pulang ke rumah.
Alasannya adalah lembur, dan ada klient yang harus dia temui. Pada saat itu Nadia sedang mengandung Bintang di dalam perutnya, maka dari itu Nadia tidak ingin terlalu mencurigai suaminya. Dia takut suasana hatinya menjadi tidak baik dan berpengaruh terhadap anak di dalam kandungannya.
Namun setelah Nadia melahirkan Bintang, Marchel mulai menunjukkan sikap yang bertanggungjawab. Dan juga sangat jarang untuk tidak pulang ke rumah. Namun tetap saja Nadia mempercayai suaminya dan tidak berfikiran buruk pada saat itu.
"Jeng, kenapa melamun? Maaf ya kalau kata-kataku tadi membuat kamu tersinggung!" ujar Laras mencoba bersikap baik terhadap Nadia.
"Gak apa-apa, santai saja. Lagipula saya percaya kok sama suami saya," ucap Nadia.
"Iya, Papa saya sangat menyayangi Mama saya dari dulu sampai sekarang. Jadi tidak mungkin Papa akan bersama gadis malam itu," ucap Bintang ikut membela ayahnya.
"Iya mungkin cuma mirip saja kali ya!" kata Laras.
"Lebih baik kita melanjutkan makan saja, daripada nanti makanannya keburu dingin!" ucap Marchel mengalihkan pembicaraannya.
Mereka pun akhirnya melanjutkan untuk menyantap makanan. Walaupun masih ada rasa curiga di dalam benak Nadia, namun dia berusaha untuk menyembunyikannya dari Marchel dan juga Bintang.
__ADS_1
Begitupula dengan Marchel yang berusaha bersikap santai.
'Itu baru permulaan saja Mas, lain kali aku akan membuat rumah tangga kalian hancur karena aku tidak suka melihat rumah tangga kalian yang bahagia!' batin Laras sambil mengeluarkan senyuman jahatnya.