
Cinta dan Erna bersama-sama pergi ke kantin, ini adalah pertama kalinya Cinta pergi ke kantin pada jam istirahat, dia tidak menyangka ternyata satu kantin aja seramai itu.
"Rame banget ya, seandainya Gue jualan di sini," ujarnya.
"Ah Lo apa-apa mau di jadikan ladang bisnis," kata Erna.
Cinta tertawa kecil, dan mengajak Erna pergi ke kantin yang agak sepi karena tidak mau menunggu lama.
"Cin, Lo gak capek apa ngerjain tugas orang?" tanya Erna sembari makan camilan yang dia beli tadi.
"Gak sih, kan dapat uang," sahut Cinta santai.
"Lo mah mata duitan," celetuk Erna.
"Ya sesuai realita aja sih, sekarang semuanya perlu uang mau gak mau ya uang dulu yang diutamain. Lagipula Gie pingin mandiri biar tahu susahnya mencari uang dan kedepannya tidak menghambur-hamburkan uang seenaknya," kata Cinta.
"Wihh calon orang sukses nih," ledek Erna.
"Yah semoga saja, doakan Erna!" ucap Cinta tersenyum.
Erna tidak tahu kehidupan Cinta dirumahnya seperti apa, karena Cinta tidak pernah menceritakan segala masalah yang dia hadapi. Malah sebaliknya, Cinta selalu memasang wajah ceria dihadapan teman-temannya.Hal ini membuat teman-teman Cinta berfikir kalau Cinta tidak pernah memiliki masalah. Sehingga banyak juga temannya yang penasaran tentang kehidupan Cinta di rumahnya.
Tapi, mau segigih apapun teman-temannya bertanya, Cinta tidak akan pernah menceritakan kehidupannya yang berantakan itu. Dia selalu bilang kepada teman-temannya bahwa itu privasi, sehingga teman-temannya menyerah untuk bertanya lagi.
"Kak Cinta!" seru seorang wanita yang bertubuh pendek sedang membawa buku di tangannya.
Cinta pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Ternyata dia adalah salah satu siswa yang mempunyai orang tua terkaya di satu sekolah ini. Gadis yang bernama lengkap Intan Pramesti itu menghampiri Cinta yang sedang duduk di depan kelas bersama dengan Erna.
"Ada apa Intan?" tanya Cinta kepada adik kelasnya itu.
"Aku ada tugas nih Kak, dikumpul besok pas jam kedua. Kira-kira bisa tidak Kak Cinta ngerjain? Aku kasih uang tambahan deh," kata Cinta.
"Cobak aku lihat dulu," kata Cinta sembari mengambil buku yang disodorkan oleh Intan.
Dia melihat dan membaca tugasnya, karena dia sudah pernah mendapatkan pelajaran itu Cinta menjadi lebih gampang menentukan bisa tidaknya dia mengerjakan.
"Gampang sih ini, Aku kasih harga 40ribu ya karena ini di suruh menjelaskan dan menambah contoh jadi pasti akan agak panjang," jelas Cinta.
"Oke Kak," Intan merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang 100rb.
"Nih Kak," ucap Intan.
"Ada uang pas gak? Aku gak bawa uang kembalian," kata Cinta.
__ADS_1
"Gak ada Kak. Kak Cinta ambil aja, anggap aja bonus dari aku karena jawaban Kak Cinta tidak pernah mengecewakan," ujar Intan.
"Tapi ini kebanyakan Tan," Cinta menolak itu karena uangnya terlalu banyak dia tidak enak hati mengambilnya.
"Udah tidak apa Kak, anggap aja itu bonus," sahut Intan.
"Kalau gitu makasi banyak ya Tan,"
"Iya sama-sama. Aku balik kelas dulu ya, ingat besok jam istirahat aku ambil," kata Intan.
"Iya-iya," sahut Cinta.
"Erna, aku masuk kelas duluan ya. Selesaiin job nih," ucap Cinta.
"Yaudah sana, semangat ya!" ucap Erna.
Kemudian Cinta masuk ke kelas dan dengan cepat dia mulai mengerjakan tugas tersebut.
"Syukurlah kemarin selesaiin banyak tugas, jadi tidak ada tugas yang menumpuk deh," ucap Cinta sendirian.
10 menit lagi bel masuk akan berbunyi, Cinta buru-buru menulis jawaban yang sudah dia dapatkan agar mengurangi pekerjaannya di rumah. Yang ada di pikirannya hanyalah kepuasan Customernya, karena sekali saja ada customer yang tidak puas maka bisnisnya bisa saja hancur.
10 menit kemudian, teman sekelas Cinta sudah masuk kelas dan suasana yang tadinya adem ayem berubah menjadi rame karena teriakan teman-temannya.
"Apa sih Lo, ganggu aja," sahut Cinta ketus.
"Idihhh orang cuma nanya kok," kata Bintang.
"Udah sana pergi Lo, risih Gue deket-deket sama Lo," ucap Cinta.
"Elehh, awas aja lo nyari-nyari Gue ntar," kata Bintang lalu melangkah pergi meninggalkan meja Cinta.
Melihat keakraban Bintang dengan Cinta, Erna pun menghampiri Bintang yang sudah duduk di kursinya.
"Eh lo suka ya sama Cinta?" tanya Erna dengan suara pelan.
"Kenapa? Lo cemburu? Sorry ya Gue gak suka sama Lo," sahut Bintang sombong.
"Ih apaan sih Lo sombong banget," kata Erna.
"Mau gue bantuin gak?" sambung Erna memberikan tawaran.
"Gak ah, gue bisa sendiri tanpa bantuan Lo," ucap Bintang.
__ADS_1
"Ah dasar Lo! Ditawarin hal yang bagus malah kek gitu, awas nyesel Lo," Erna kemudian pergi meninggalkan Bintang karena merasa kesal.
...****************...
Sepulang sekolah, terlihat Bintang yang berjalan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa ke arah pintu keluar.
"Woy Tang, pelan dikit napa!" teriak Agus kepada Bintang ketika Bintang melewatinya.
Namun Bintang tidak mempedulikan teriakan Agus tersebut. Bintang terus melanjutkan langkah kakinya dengan cepat, hingga dia melihat sosok wanita yang dia kejar.
"Cinta!" seru Bintang dengan langkah kaki yang sedikit diperlambat.
Wanita yang awalnya berjalan di depannya kini berhenti di pinggir kerumunan sembari membalikkan badannya ke arah suara yang memanggil namanya.
"Cinta, mau gue antar gak?" tanya Bintang ketika sudah tepat berada di depan Cinta.
Cinta mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti dengan maksud Bintang.
"Antar kemana?"
"Pulang ke rumah lah Ta!" ucap Bintang sambil tersenyum.
"Sekalian Gue mau ambil pakaian Gue!" imbuhnya.
"Gak..gak usah Tang, lagipula pakaian Lo belum kering kok!" ucap Cinta dengan panik.
"Oh yaudah deh, kalau gitu Gua antar Lo pulang ke rumah aja ya?" kembali Bintang memberikan tawaran kepada Cinta.
"Gak usah Tang. Gua bisa naik angkot kok, Gu...gua duluan ya Tang. Bye," ucap Cinta langsung melangkahkan kakinya kembali tanpa menoleh lagi ke arah Bintang.
Bintang yang di tinggal begitu saja oleh Cinta berdiri diam seperti patung.
'Kenapa setiap Gua kau ke rumahnya, Cinta selalu panik ya? Ada apa sama rumahnya? Apa mungkin orang tuanya galak kali ya, makanya dia gak berani bawa teman ke rumah?' batin Bintang dengan penuh pertanyaan.
"Tang! Ngapain Lo bengong di sini?" tanya Agus menepuk bahu Bintang.
"Gak ngapa-ngapain. Gua pulang duluan ya!" ucap Bintang yang bertingkah tidak seperti biasanya.
"Kenapa tuh anak?" tanya Agus kepada Riski yang berdiri di sampingnya.
"Gak tahu. Putus cinta kali!" sahut Riski.
Mereka berdua memilih untuk melanjutkan langkah kakinya menuju tempat parkir. Namun, ketika mereka sudah sampai di tempat parkir, Agus dan Riski tidak lagi melihat Bintang.
__ADS_1