
Setelah selesai menenangkan diri dari rasa terkejut yang di buat oleh Andika, Cinta tersadar bahwa dia berada dalam pelukan Andika. Cinta segera mendorongnya dan menjauh dari Andika yang membuat Andika terkejut.
"Kenapa lo dorong gue?" tanya Andika.
"Lo mau nyuri-nyuri kesempatan lagi ya?" tanya Cinta penuh kemarahan.
"Gak ada. Gue cuma nenangin lo, berfikir yang baik-baik tentang gue bisa gak sih?" jawab Andika yang ikut meninggikan suaranya.
Dan akhirnya mereka pun bertengkar saling sahut-menyahut.
"Sudahlah, gak ada untungnya bertengkar denganmu!. Aku mau bicara serius sama kamu, mari kita duduk di teras rumah," ajak Andika.
Cinta pun mengikuti langkah Andika menuju ke teras rumah.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Cinta penasaran.
Andika duduk di kursi teras rumah Cinta sebelum menjawab pertanyaan dari Cinta. Dia diam selama beberapa menit hingga membuat Cinta merasa jengkel.
"Hei! Lo mau bikin gue menunggu sampai mati ya?" tanya Cinta sambil melambaikan tangannya ke wajah Andika.
"Eh iya sorry, sorry!" ucap Andika.
"Cepat gak lo ngomong, kalau gak mau ngomong lagi gue usir lo dari rumah!" ancam Cinta.
Andika menjadi takur dengan ancaman yang diberikan oleh Cinta, akhirnya dia pun segera bicara tentang hal penting uang dia katakan kepada Cinta sewaktu di kamar.
Andika ingin membantu Cinta menemukan orang yang membunuh ibunya. Tak hanya itu, dia juga akan membantu melaporkan pelaku yang membunuh ibunya Cinta ke polisi sampai doa masuk penjara.
Mendengar hal tersebut, Cinta kembali merasa sangat sedih sekaligus terharu degan sikap Andika.
"Lo mau bantuin gue?" tanya Cinta ragu.
"Iya!" sahut andika dengan raut wajah serius.
Cinta tidak mempercayai bahwa Andika melakukan itu semua tanpa menginginkan keuntungan.
"Lalu apa yang lo mau dari gue setelah membantu gue menemukan pelakunya?" tanya Cinta.
"Lo memang pengertian banget ya Cin, tahu bagaimana cara membalas budi setelah menerika.bantuan," puji Andika yang membuat Cinta muak.
__ADS_1
"Gak usah bertele-tele. Bilang aja apa yang lo mau dari gue?" kata Cinta sinis.
"Gue mau lo balikan dan kembali menjadi pacar gue, gimana?" tanya Andika.
"Gak mau! Gak ada permintaan lain kah?" tanya Cinta menolak permintaan pertama.
"Ada. Tentu saja ada," kata Andika.
Mendengar hal itu, Cinta dengan antusias bertanya pilihan yang kedua.
Namun dia nampak kesal setelah mendengar jawaban dari Andika.
"Sama aja dengan permintaan yang pertama," ucap Cinta.
"Ya lo tinggal pilih balikan sama gue atau menikah dengan gue di masa depan?" tanya Andika yang membuat Cinta tidak bisa berkutik lagi.
"Gue pilih balikan sama lo aja!" sahut Cinta dengan semangat.
'Toh juga belum tentu sampai menikah, paling juga beberapa bulan lagi lo putusin gue. Dan saat itu tiba, gue gak akan mungkin mau balikan sama lo lagi,' ucap Cinta dalam hati denhan rasa senang.
"Lo yakin? Lo gak berfikir bahwa gue bakalan putusin lo kedua kalinya kan?" tanya Andika mencurigai Cinta.
"Baguslah! Karena kalau lo berfikir seperti itu sama saja seperti menunggu ayam jantan bertelur," ucap Andika.
"Ehh, hehe gak mungkin lah gue mikir seperti itu," ucap Cinta sambil tersenyum palsu.
"Ya udah kalau gak ada hal lain gue balik dulu. Ingat janji kita ya!" ucap Andika lalu pergi meninggalkan Cinta.
"I...iya hati-hati ya! Aku gak antar," kata Cinta sambil melambaikan tangannya.
'Bagaimana dia begitu licik? Sampai bisa mengetahui apa yang aku pikirkan, tapi semoga saja perkataannya itu tidak benar. Aku gak mau menikah sama orang seperti dia,' batin Cinta.
"Tapi kalau di pikir-pikir, apakah Andika bisa menemukan pelakunya? Atau jangan-jangan dia sudah ada orang yang di curigai sehingga dia begitu percaya diri untuk menolongku?" tanya Cinta pada dirinya sendiri.
Dia melamun sejenak memikirkan hal yang akan di lakukan oleh Andika kedepannya untuk menangkap pelaku tersebut.
"Tapi bagaimanapun caranya semoga saja berhasil di temukan. Dengan begitu aku sudah bisa membalaskan dendam ibuku," ucap Cinta.
Cinta menarik nafas panjang, dia menikmati pemandangan yang ada di pekarangan rumahnya. Mengenang masa-masa saat dia di pukuli oleh ibunya hingga dia mendapat kasih sayangnya.
__ADS_1
"Ahh! Itu sudah berlalu. Ibu pergi begitu cepat setelah berubah menjadi orang baik, tapi kata Ibu aku gak boleh terus bersedih atas kepergiannya. Aku harus fokus pada diriku sendiri, terlebih lagi uang komite bulan ini belum di bayar. Aku harus mencari uang kemana?" ucap Cinta.
Cinta melamun sambil memikirkan cara untuk mencari uang. Dia tahu saat ini sangat susah untuk mendapat pekerjaan, semua pekerjaan memberikan syarat minimal tamat SMK/SMA. Jadi mau tidak mau Cinta harus melanjutkan pendidikannya demi masa depan yang cerah.
"Aku punya ide!" seru Cinta.
Cinta bergegas pergi ke kamarnya dan mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih rapi. Dia ingin pergi melamar pekerjaan part time untuk mendapatkan uang. Tak masalah baginya jika menjadi tukang cuci piring, yang terpenting adalah dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya karena tabungan uang dia punya sudah menipis.
Cinta bergegas pergi keluar dengan berjalan kaki. Dia berencana mencari tempat yang tidak jauh dari rumahnya agar bisa berjalan kako dan tak perlu membayar ongkos angkot.
"Aku harus semangat mencari uang, setelah mendapat pekerjaan aku mungkin harus melanjutkan jualan gorengan dan juga menjual jawaban," kata Cinta di perjalanan.
Cinta menemukan rumah makan kecil setelah berjalan 10 menit, Cinta pun bergegas masuk dan menemui pemiliknya.
"Permisi Bu!" ucap Cinta dengan sopan.
"Iya Dik, mau pesan apa?" tanya pemilik rumah makan tersebut.
"Oh bukan Bu. Saya ke sini untuk menanyakan lowongan pekerjaan," ucap Cinta.
"Maaf Dik, saya tidak mencari karyawan. Mungkin kamu bisa ke tempat lain ya," ucap pemilik rumah makan tersebut.
"Baik Bu, terimakasih ya Bu!" ucap Cinta.
Cinta kembali berjalan kaki, dia beberapa kali menemukan orang-orang dengan repot berjualan memghadapi pelanggan namun tak satupun di antara mereka yang membutuhkan karyawan.
Hingga akhirnya Cinta menemukan tempat makan dan nongkrong anak-anak muda, rasa semangatnya tumbuh kembali.
"Pak, apa ada lowongan kerja di sini?" tanya Cinta.
"Kamu darimana? Dan umur kamu berapa? Kenapa kamu mencari pekerjaan di usia segini?" tanya Bapak pemilik tempat tersebut.
Bapak tersebut keluar dari tempat dagangnya dan mengajak Cinta untuk duduk di sebuah kursi yang berada di luar ruangan.
"Saya anak sekolah Pak sedang membutuhkan pekerjaan part time agat bisa menghasilkan uang," ucap Cinta tanpa ragu.
Bapak tersebut memandangi Cinta dengan raut wajah yang tak bisa di tebak. Cinta hanya terdiam kemudian menundukkan kepalanya karena takut berucap yang salah.
__ADS_1