Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 70


__ADS_3

Keesokan Paginya, Cantika terbangun dari tidurnya. Dia melihat dirinya yang sudah tanpa busana. Cantika melihat di sekeliling kamar tersebut, dan tersadar bahwa dia berada di kamarnya sendiri.


"Apa yang terjadi kemarin? kenapa kepalaku sangat sakit dan tidak bisa mengingat apa-apa?" tanya Cantika pada dirinya sendiri.


Cantika kemudian membalikkan badannya ke belakang dan menemukan sopirnya sedang terbaring di sampingnya yang tanpa busana juga .


"ARGHHHHH!" Cantika menjerit dengan keras sembari menutupi badannya dengan selimut.


Jeritan Cantika membuat Rusmadi yang tertidur lelap itu terbangun.


"Bapak ngapain di sini? Dan... dan apa yang sudah bapak lakukan kepada saya?" tanya Cantika panik.


"Ma...maaf Non, kemarin Non yang minta saya melayani Nona jadi saya khilaf. Non duluan yang menggoda saya," ucap Rusmadi.


Semalam dia kelelahan sehingga dia tanpa sadar tertidur di samping Cantika.


'Gawat! kenapa aku bisa ketiduran di sini sih, tamatlah sudah riwayatku!' batin Rusmadi.


Pria yang berusia 30 tahun itu di tampar dengan keras oleh Cantika hingga pipinya merah.


"Kurang ajar! berani-beraninya kamu meniduri saya!" ujar Cantika penuh emosi.


"Tapi itu Non sendiri yang minta," ucap Rusmadi membela dirinya.


"Lalu Andika kemana? mengapa dia yang seharusnya ada di sini tidak ada? dan Apa yang terjadi kemarin?" tanya Cantika bertubi-tubi.


Akhirnya Rusmadi menceritakan semua kejadian kemarin bahwa saat itu Cantika mabuk dan Andika menyuruhnya untuk membawa pulang. Rusmadi menceritakan semuanya secara jujur kecuali saat Cantika memanggil nama Andika saat berhubungan.


"Tidak mungkin saya menggoda kamu! Saya maunya Andika bukan kamu, tapi kenapa malah kamu. Bahkan aku sudah menjaganya baik-baik tapi kenapa harus kamu yang mendapatkan itu?" ucap Cantika marah.


Dia sangat menyesali kejadian tadi malam, dia tidak menyangka keperawanan yang dia jaga selama ini di rampas oleh sopirnya sendiri.


"Pokoknya kamu jangan bilang kepada siapa-siapa tentang kejadian semalam, kalau kamu tidak ingin kehilangan pekerjaanmu!" ancam Cantika.


"Ta..tapi bagaimana kalau Non hamil?" tanya Rusmadi gugup.

__ADS_1


"Kamu? Kamu?..."


"Iya Non, di dalam!" sahut Rusmadi yang mengerti maksud dari Cantika.


Cantika sungguh terkejut mendengar hal tersebut, dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga dan saat ini dia mendapat kabar lagi bahwa kemungkinan dia hamil.


Cantika terduduk lemas di lantai, dia tidak menyangka rencananya akan hancur seperti ini. Dan bahkan harus menikahi pria yang umurnya beda jauh dengannya.


"Bapak tahu sendiri kan saya masih sekolah? kenapa Bapak melakukan seperti itu? Ok kalau Bapak sudah merampas kesucian saya, saya bisa menutupinya tapi kenapa,,, kenapa sampai membuat saya hamil juga?" kata Cantika sambil meneteskan air matanya.


"Ma...maaf Non, saya tidak sengaja. Saya terlalu menikmatinya hingga lupa kalau saya melakukannya dengan Nona," kata Rusmadi ketakutan.


"Kamu jangan bilang siapa-siapa masalah ini, kamu tidak di izinkan untuk mengundurkan diri agar tidak membuat Papa curiga. Dan jika aku hamil aku akan menggugurkan anak ini, kamu jangan harap bisa menikah dengan aku!" ucap Cantika.


"Tapi Non, itu darah daging saya bagaimana mungkin Non Cantika tga menggugurkannya?" ucap Rusmadi yang tidak setuju dengan hal itu.


"Terus? kamu mau aku melahirkan anak ini dan menikah denganmu? bagaimana dengan sekolahku? lalu apa kamu bisa menjamin kebahagiaanku? kamu saja hanya seorang sopir gajimu hanya cukup untukku saja," kata Cantika merendahkan Rusmadi.


"Tapi Non, saya benar-benar tidak ingin anak ini di gugurkan bagaimanapun juga dia tidak bersalah," ucap Rusmadi yang tetap tidak setuju dengan rencana Cantika.


Rusmadi pun keluar setelah memakai pakaiannya kembali, dalam hatinya dia masih tidak ikhlas jika Cantika membunuh keturunannya.


"Cantika lo harus tenang! lagipula ini hanya sekali, belum tentu bisa buat lo hamil!" ucap Cantika berusaha untuk menenangkan dirinya.


Cantika memutuskan untuk tidak pergi sekolah hari ini, dia ingin menenangkan dirinya yang di kagetkan dengan dua berita buruk yang di dapatkan pagi ini.


...***...


Sedangkan di rumah Andika keadaannya semakin panik karena Laras belum juga ada kabar bahkan belum pulang ke rumah.


Naya dan David berencana untuk pergi melapor ke polisi membiarkan anak-anaknya sekolah. Namun Cinta dan Andika sudah meminta izin untuk tidak sekolah, mereka ingin ikut mencari keberadaan Laras.


"Kalau seperti itu keputusan kalian, sekarang ikut kami ke kantor polisi untuk melapor!" ucap David kepada Cinta dan Andika.


Mereka pun pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangannya Laras. Di kantor polisi, Cinta menceritakan semua kejadian sebelum Laras menghilang. Naya juga ikut membantu memberikan petunjuk kepada polisi.

__ADS_1


"Baik kami akan membantu kalian untuk proses pencarian. Jika sudah ada petunjuk kami akan segera mengabari kalian!" ucap seorang polisi yang bertugas menangani masalah Laras.


"Baik Pak, tolong ya segera temukan!" ucap David.


"Iya Pak, kami akan lakukan semaksimal mungkin!" kata Polisi tersebut.


David berdiri dan menjabat tangan polisi sambil mengucapkan terimakasih. Setelah selesai dengan segala urusan yang ingin di proses, David mengajak anak istrinya meninggalkan kantor polisi.


"Kamu tenang saja ya Cinta, Ibu kamu pasti ketemu kok!" ucap Naya menenangkan Cinta.


Cinta hanya mengangguk, matanya kembali sembap akibat menangis semalam. Semalam dia bahkan tidak dapat tidur dengan nyenyak, dia terus memikirkan Laras yang tidak ada kabarnya sama sekali.


"Cinta lo kalau ngantuk tidur aja dulu, gue tahu lo pasti khawatir sama Ibu lo tapi lo harus cukup tidur juga biar gak sakit. Supaya saat ketemu Ibu lo gak sedih karena melihat lo sakit," ujar Andika.


"Yang di katakan Andika benar Cinta, kamu jangan khawatir kami pasti akan membantu kamu!" ucap David sambil menyetir mobilnya.


"Makasih ya Om, Tante, Andika. Aku sudah merepotkan kalian," kata Cinta yang merasa tidak enak hati.


"Tenang saja, kamu anak dari sahabat Tante sudah pasti Tante peduli sama kamu," sahut Naya.


Cinta terdiam mau berapa orangpun yang menenangkannya Cinta tidak bisa tenang. Yang ada di pikirannya hanya Ibunya. Cinta melamun di dalam mobil, matanya mengantuk tetapi hatinya tidak tenang sehingga dia tidak bisa tidur.


Andika yang melihat kondisi Cinta saat itu tidak tega melihatnya. Andika mendekatkan dirinya kepada Cinta yang duduk di sampingnya, lalu menyandarkan kepala Cinta ke bahunya.


"Lo tidur dulu Cin, percuma lo gak tidur seperti ini tanpa melakukan apa-apa," ucap Andika.


"Gue gak bisa Dik, gue gak bisa hidup tanpa Ibu gue. Gue gak pernah membayangkan hal ini terjadi, gimana kalau Ibu gue gak ketemu?" ucap Cinta kembali menangis dengan kepala masih menyandar di bahu Andika.


"Ssstt! Lo gak boleh berfikir seperti itu. Kita pasti bisa bertemu sama Ibu lo kok!" ucap Andika.


"Tapi hati gue gak tenang Dik, gue merasa ada sesuatu yang terjadi sama Ibu,"


"Cinta kamu jangan berfikiran buruk terus. Lebih baik kamu tidur dulu ya, nanti kalau sudah ada informasi kami akan membangunkan kamu kok!" ucap Naya.


"Iya deh Tante!" sahut Cinta pasrah.

__ADS_1


Andika mengelus rambut Cinta, dia berusaha memberikan kenyamanan untuk Cinta agar bisa tidur lelap di mobil.


__ADS_2