
Keesokan paginya...
Terlihat Cinta dengan raut wajah gembira yang tidak di buat-buat sedang berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Cinta terlihat membawa sebuah kantong plastik, yang di dalamnya berisi gorengan.
"Semoga saja hari ini dagangan ku laris, sepertinya aku harus pergi ke warung Bu Ida dulu, kemarin aku gak sempat kesana!" ucap Cinta kepada dirinya sendiri.
Kebetulan warung Bu Ida tidak terlalu jauh dan searah dengan jalan menuju sekolahnya, jadi Cinta tidak perlu untuk naik angkot terlebih dahulu.
"Pagi Bu, aku mau titip gorengan," kata Cinta.
"Iya boleh, kemarin kemana? Kok gak ada nampak batang hidungmu?" tanya Bu Ida.
"Maaf Bu, kemarin aku sibuk jadi gak sempat buat gorengannya. Maaf ya Bu," ucap Cinta.
"Iya gak apa-apa, Ibu kira kamu sakit," kata Bu Ida.
"Ya udah Bu, udah siang Cinta berangkat sekolah dulu ya Bu," kata Cinta pamit kepada Bu Ida.
"Iya hati-hati Cinta,"
"Iya Bu," sahut Cinta mengakhiri pembicaraannya.
Di jalan saat Cinta mencari angkot yang biasa mengantarnya ke sekolah, tiba-tiba Andika memanggilnya dari belakang. Andika masih mengendarai sepeda motornya dan menghentikan sepeda motornya di samping Cinta.
"Mau berangkat bareng gak?" tanya Andika.
"Gak usah, gue bisa naik angkot," kata Cinta lalu pergi meninggalkan Andika dan mencari angkot yang biasa mengantarnya ke sekolah.
"Loh kok gak ada?" tanya Cinta pada dirinya sendiri.
Sedangkan Andika masih terdiam di tempat tadi yang tak jauh dari sopir-sopir angkot yang sedang menunggu penumpang.
"Pak, angkot yang biasa mengantar saya ke sekolah kemana ya? Kok gak ada?" tanya Cinta kepada salah satu sopir angkot di sana.
"Waduh neng, kamu terlambat. Baru saja angkotnya jalan, soalnya kata sopirnya sudah penuh," kata sopir angkot tersebut.
"Yahhh! ya udah deh Pak makasih ya," ucap Cinta kemudian pergi meninggalkan sopir tersebut dengan raut wajah yang lesu.
"Kenapa lo nyari gue? Berubah pikiran lo?" tanya Andika ketika melihat Cinta kembali menghampirinya.
"Ya mau gimana lagi, terpaksa. Sopir angkot yang biasa bawa gue pergi ke sekolah sudah berangkat duluan," ucap Cinta yang merasa malu.
"Makanya jadi orang tuh jangan sombong," sindir Andika.
"Lo niat bantu gak sih? Kalau gak gue bisa jalan kaki," ucap Cinta kesal.
__ADS_1
"Yaudah naik!" kata Andika.
"Pegangan!" perintah Andika ketika Cinta sudah naik ke sepeda motornya. Cinta dengan malu-malu menuruti perkataan Andika.
Beberapa menit kemudian Cinta sudah sampai di sekolahnya. Seluruh tatapan siswa cewek tertuju padanya.
'Kenapa mereka natap gue segitunya ya? Seperti menatap musuh saja. Yaudah lah cuekin aja," batin Cinta lalu pergi menuju ke kelas.
"Eh lo gak mau bilang makasih dulu sama gue?" tanya Andika ketika melihat Cinta mendahuluinya pergi ke dalam kelas.
Cinta pun membalikkan badannya dan mengatakan, "terimakasih!" lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Dasar cewek sombong, tapi gue suka yang seperti ini!" gumam Andika.
"Eh lo kok bisa barengan sama Cinta sih? Lo apain dia sampai dia mau dibonceng sama Lo?setahu gue Cinta benci banget sama Lo," kata Bintang yang tiba-tiba datang menghampiri Andika di parkiran.
"Gue gak ngapa-ngapain dia, orang dia yang mau. Kenapa? Lo cemburu ya?" Andika mulai memanas-manasi Bintang.
"Gak mungkin sih kalau Cinta menawarkan diri untuk di bonceng sama lo, paling juga lo yang maksa," kata Bintang yang tidak percaya dengan kata-kata Andika.
"Kenapa lo iri ya?" tanya Andika.
"Lo jangan macem-macem ya, lo tuh cuma anak baru di sini. Cinta itu milik gue," kata Bintang menekankan kata-katanya.
"Kurang ajar Lo," Bintang menarik kerah baju Andika, namun dia sadar jika Cinta sampai tahu hal ini mungkin dirinya akan dibenci oleh Cinta.
Bintang memutuskan untuk pergi meninggalkan Andika.
"Cih! Ternyata ada saingannya juga buat dapetin Cinta," gumam Andika.
...****************...
"Wihh Cinta udah mulai jualan lagi nih!" seru salah satu teman sekelasnya.
Siswa-siswa yang berada di dalam kelas yang mendengar teriakan Cinta langsung menghampiri Cinta dengan berdesak-desakan.
"Sabar dulu, satu-satu!" kata Cinta yang kewalahan menghadapi teman-temannya.
"Ada apaan sih itu?" tanya Andika yang sudah sampai di kelas.
"Eh, eh lo lagi ngapain?" tanya Andika kepada salah satu teman sekelasnya.
"Ya beli gorengan Cinta lah," sahut siswa itu yang sudah menggenggam satu gorengan di tangannya.
"Emang di sekolah boleh jualan?" tanya Andika.
__ADS_1
"Ya enggak sih, namanya juga Cinta yang g*la bisnis. Yaudah gue duluan ya," ucap siswa itu.
Andika duduk di bangkunya sambil menoleh ke arah meja Cinta yang sangat ramai bagaikan pasar malam.
"Eh ada apa tuh?" Cantika menepuk pundah Andika yang sedang menoleh ke belakang.
"Cinta jualan gorengan," sahut Andika .
"Iieeww, jajanan anak kampung!" ucap Cantika lalu pergi ke tempat duduknya.
Baru saja Cantika duduk di mejanya, Erna datang dari meja Cinta dengan membawa gorengan.
"Kenapa lo liat-liat gue? Mau? Sorry ya gue gak rela berbagi makanan enak sama lo," kata Erna.
"Ih apaan sih lebay banget. Cuma kayak gitu doang di bilang enak," nyinyir Cantika.
"Lo belum tahu rasanya, makanya lo bilang kayak gitu. Coba aja lo sekali aja rasain gorengannya Cinta, pasti ketagihan," kata Erna.
"Gak bakalan. Gue bisa jajan yang lebih mahal dari itu dan gue gak miskin kayak lo yang cuma mampu beli jajajan begituan," sahut Cantika.
"Bodoamat, yang penting gue kenyang," kata Erna.
Di sisi lain, meja Cinta sudah sepi dan gorengannya pun ludes tak tersisa. Saat itu juga Andika menghampirinya.
"Lumayan juga bakat lo berjualan ya, gue kira lo tadi bawa apa pakai kantong plastik. Ternyata itu jualan lo ya," ucap Andika.
"Iya, kenapa?" tanya Cinta memasang wajah sinis.
"Ya gak apa-apa gue cuma nanya aja,"
"Tapi lo kenapa suka banget sih sama hal yang berbau bisnis?" tanya Andika.
"Sorry, bukan urusan lo!" kata Cinta.
Bel jam pertama akhirnya berbunyi, Cinta mengusir Andika dari mejanya dia tidak ingin lelaki itu mengganggu dia belajar.
"Sekarang dapat pelajaran apa Cin?" tanya Bintang.
"Lo gak lihat jadwal ya Tang? Sekarang dapat bahasa inggris," kata Cinta.
"Oh untung gue bawa bukunya. Gue gak sempat lihat jadwal soalnya hehe," kata Bintang.
"Ada-ada saja lo Tang," Cinta menggelengkan kepalanya ke arah Bintang.
Jam pertama di mulai, guru bahasa inggris Cinta sudah masuk ke dalam kelas yang membuat suasana hening. Kegiatan pembelajaran pun berlangsung sampai waktunya jam istirahat.
__ADS_1