
Ketika jam istirahat, Cinta pergi ke kelas pelanggannya untuk menyerahkan tugas-tugas mereka yang sudah dia selesaikan. Kini Cinta bisa bersantai karena tidak ada lagi tugas dari pelanggan-pelanggannya lagi. Cinta masih belum mendapat orderan baru.
"Habis darimana lo?" tanya Andika berdiri di depan kelas.
"Bukan urusan lo!" sahut Cinta dengan cuek lalu melewati Andika dan pergi ke mejanya.
Namun Andika mengejarnya, dia masih penasaran dengan Cinta.
"Eh lo gak istirahat?" tanya Andika yang kemudian duduk di kursi Bintang.
"Ngapain lo urusin gue sih? Mau gue istirahat atau enggak itu bukan urusan lo!" ucap Cinta dengan nada tinggi.
"Lo kenapa benci banget sih sama gue?" tanya Andika serius.
"Gak, gue gak benci sama lo. Gue cuma gak suka aja dekat-dekat sama cowok!" sahut Cinta tanpa menoleh ke arah Andika, pandangannya saat ini tertuju pada buku yang ada di depannya.
Cinta membolak-balikkan bukunya, meski dia tidak membacanya karena terganggu dengan kedatangan Andika.
"Loh, bukannya yang duduk di samping lo ini cowok? Kenapa lo pindah ke sini kalau lo gak suka dekat dengan cowok?" tanya Andika heran.
"Bedalah. Dia kan sahabat gue," sahut Cinta.
"Kalau gue jadi sahabat lo boleh gak?" tanya Andika menatap Cinta.
"Gak, gue gak butuh lo buat jadi sahabat gue!" kata Cinta.
"Dasar cewek aneh!" kata Andika kemudian pergi meninggalkan Cinta.
"Cih!"
Beberapa menit kemudian, bel masuk pun berbunyi. Semua teman sekelas Cinta masuk ke dalam kelas dan suasana kelas kembali menjadi rame setelah Riski dan Agus kembali.
"Tang, pacar lo rajin banget tuh!" ucap Agus kepada Bintang yang berjalan di sampingnya.
"Apaan sih lo!" sahut Bintang dengan perasaan malu dan kesal terhadap Agus.
"Cie... Cie sekarang pasti bintang nyamperin Cinta!" goda Riski.
"Ya iyalah. Gue kan duduk disebelahnya, lo bod*h apa gimana sih?" balas Bintang.
"Iya juga ya, Bintang kan emang duduk disebelah Cinta," ucap Riski sambil berfikir.
"Mending lo segera deh periksa ke dokter!" saran Agus.
"Buat apa? Gue kan gak sakit!"
"Ya buat periksa, Ot*k lo masih ada apa gak. Hahahaha!" Agus mulai membuat lelucon yang membuat Bintang ikutan tertawa melihat kedua temannya.
"Apaan sih Lo! Bisanya ngeledek gue aja, walaupun gue bod*h-bod*h gini, gue juga pintar dalam satu hal!" sahut Riski yang tak terima di cap begitu oleh Agus.
"Pintar ngapain lo?" tanya Agus serius.
"Ya pinter ngibul lah! Hahahaha!" sekarang giliran Riski yang menertawakan Agus.
Melihat kelakuan receh temannya, Bintang memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
"Gue duduk aja deh, daripada di sini sama kalian nanti gue sama lagi sengklek kaya lo pada!" ucap Bintang kemudian pergi meninggalkan temannya.
"Hai Cin, lo gak istirahat lagi ya?" tanya Bintang.
"Gak Tang!" sahut Cinta.
"Kenapa? Kan Mama gue udah kasih lo uang. Jangan-jangan dipakai semua ya sama Ibu lo?" tanya Bintang yang nampak masih mengkhawatirkan hubungan antara ibu dan anak itu.
"Gak kok, yang pegang uangnya itu gue Ibu gue gak mau. Cuma gue malas aja istirahatnya, lagipula gue mau simpan uangnya buat bisnis," kata Cinta.
'Emang benar sih gue pegang uangnya, tapi itu cuma 500 ribu saja dari 1 juta yang diberikan oleh mamanya Bintang. Tapi setidaknya gue masih punya simpanan buat jaga-jaga!" batin Cinta.
"Oh gitu,"
"Iya. Tolong bilang makasih sama Mama lo ya, lain kali pasti gue akan balas kebaikan lo dan orang tua lo," kata Cinta bertekad.
"Iya, santai aja Cin. Kita kan sahabat sekarang," sahut Bintang sambil tersenyum.
'Persahabatan ini terkesan gue memanfaatkan Cinta Bintang ke gue. Tapi mau gimana lagi, saat ini hanya bisa seperti ini dulu. Suatu saat nanti aku pasti akan membalas semua kebaikan mereka!' batin Cinta yang merasa bersalah kepada Bintang.
"Perhatian-perhatian!" teriak Riana berada di depan papan tulis.
"Ada apa lagi sih ini?" bisik seorang siswa kepada temannya.
"Hari ini Guru Bahasa Indonesia kita gak masuk. Tapi juga gak ada titipan tugas, jadi kita gunakan untuk pemilihan lomba saja yang akan diadakan sekolah minggu depan!" ucap Riana yang masih berdiri di depan.
"Aduh! Itu kan masih lama!" ucap siswa lainnya.
"Ya karena masih lama makanya kita punya waktu buat persiapan!" kata Riana.
Kemudian Riana menulis di papan tulis, dia mencatat lomba-lomba di sana. Diantaranya ada lomba memasak, menggambar, baca puisi, lomba mading, lomba lari karung, kelereng dan juga pecahin balon berpasangan.
"Siapa yang mau menawarkan diri untuk ikut lomba menggambar?" tanya Riana kepada teman sekelasnya.
"Bintang aja. Dia paling jago soal menggambar," ucap Agus mengusulkan Bintang.
"Gak ah gak. Nanti kalah gue, mending tunjuk yang lain saja yang gambarnya lebih bagus dari gue!" tolak Bintang.
"Ada yang lain gak yang mau menawarkan dirinya untuk ikut lomba menggambar?" tanya Riana kemudian.
Namun suasana menjadi sepi, tidak ada yang berniat menawarkan dirinya.
"Ya udah kalau gak ada Bintang aja ya!" kata Riana.
"Gak gue gak mau!" tolak Bintang tegas sambil berdiri.
"Kenapa? Lo takut kalah?" tanya Riana.
"Iya!" sahut Bintang yang dari kejauhan.
"Gak perlu takut kalah, yang penting kelas kita ada yang mewakilkan. Lo mau kelas kita di hukum karena tidak ada perwakilannya? Gue dengar-dengar hukumannya berat loh!" ancam Riana.
"Ya Udah deh gue aja!" sahut Bintang menyerah.
'Emang kalau berdebat sama cewek gak bakalan pernah menang!' batin Bintang.
__ADS_1
"Yang mau lomba puisi siapa?" tanya Riana setelah menulis nama Bintang di kolom lomba menggambar.
"Gue aja!" sahut Erna mengangkat tangannya.
"Oke, kalau begitu baca puisi gue tulis Erna ya!" kata Riana mencatat nama Erna.
"Lomba Mading siapa aja yang mau ikut? Ada 8 orang yang harus mewakili!" tanya Riana.
"Itu belakangan saja Ri, nanti biar yang gak dapat ikut lomba saja yang mewakili!" usul Cinta dari belakang.
"Ya udah skip dulu deh. Lomba lari karung siapa nih? Harus diwakilkan 2 orang diantaranya 1 cewek dan 1 cowok!" tanya Riana lagi.
"Riski sama Cantika saja!" usul Agus.
"Ah lo bisanya cuma ngusulin aja, lo mau lomba apa nantinya? Mading ya?" ucap Riski tak terima.
"Ya nanti gue ikut lomba kelereng!" kata Agus.
"Awas bohong lo ya!" kata Riski.
"Gue gak mau. Lomba lari karung nanti gue keringetan lagi, iiieeeww!" sahut Cantika.
"Sombong amat sih lo!" kata Erna.
"Ya dong. Gue kan gak seperti kalian," sahut Cantika.
"Ya udah biar gue aja! Riski lo mau gak?" tanya Riana.
"Gue mau tapi catat dulu nama Agus di lomba kelereng!" kata Riski.
"Ya udah deh!" Riana pun menuruti perkataan Riski.
"Sialan lo Ki!" kata Agus kesal.
"Kan lo udah janji!"
"Selanjutnya lomba pecahin balon berpasangan siapa?" tanya Riana.
"Gue sama Cinta aja!" kini Andika yang menyahut setelah sekian lama terdiam.
"Ihh lo apaan sih, gak mau gue pasangan sama Andika!" tolak Cinta.
"Lo mau teman-teman sekelas dihukum cuma gara-gara lo?" ancam Andika.
"Ya kan bisa pasangannya yang lain?" kata Cinta.
"Yang lain bakalan ikut lomba selanjutnya, lomba Mading saja belum," sahut Andika.
"Jadi gimana Cin? Lo mau gak?" tanya Riana.
"Ya udah deh gue mau!" kata Cinta.
"Oke. Dan yang terakhir sisanya cewek-cewek yang gak ikut lomba yang mewakili lomba mading ya, termasuk Cantik!" ucap Riana.
"Iya!" sahut Cantika.
__ADS_1
Yang gak ikut lomba tentu saja merasa senang, jadinya mereka tidak perlu repot-repot untuk mengikuti lomba.
Setelah selesai mencatat peserta lomba, Riana kemudian menyalin di buku tulis untuk diserahkan ke wali kelasnya.