Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
CHAPTER 82


__ADS_3

Di rumah Andika....


"Tuan Muda saya telah menyelidiki pemilik nomor WhatsApp yang sering di hubungi oleh Almarhum ibunya Cinta. Dan nama pemiliknya sama persis seperti nama yang ada di cincin tersebut," ucap bawahan Andika.


"Hal yang seperti ini juga bisa di cek ya?" tanya Andika heran.


"Bisa Tuan. Dengan kekuasaan yang di miliki oleh Ayah Tuan semua bisa di selidiki dengan mudah," ucap bawahan tersebut.


"Baiklah! Saya juga sudah menemukan orang yamg di curigai, sisanya saya serahkan saja ke kamu ya! Saya ingin hal ini segera di proses!" tegas Andika kepada bawahannya.


"Baik Tuan!" ucap bawahannya.


"Baiklah kalau tidak ada hal lain yang ingin di sampaikan kamu bisa pergi sekarang!"


Bawahan Andika pun pergi meninggalkan rumah Andika, dia berpapasan dengan David.


"Tuan!" sapa bawahannya.


David hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah Andika , sedangkan bawahannya pergi dari rumahnya.


"Gimana perkembangannya? Apa sudah di temukan pelakunya?" tanya David yang sudah duduk di samping Andika.


"Belum pasti Pa! Kita hanya mempunyai orang yang di curigai saja!" sahut Andika.


"Oh, tinggal nunggu pembuktiannya saja berarti. Serahkan saja sisanya sama bawahan Papa!" ucap David.


"Iya Pa!" sahut andika singkat.


"Kamu masih ingat kan dengan janji yang kamu ucapkan?"


"Masih Pa. Papa tenang saja, setelah kasus ini selesai Andika akan fokus belajar bisnis!" kata Andika berjanji kepada David.

__ADS_1


"Oke! Papa tunggu janji kamu! Papa mau ke kamar istirahat!" kata David sambil menepuk bahu anaknya.


Di sisi lain, Bintang menemukan Papanya sedang melamun di sofa. Dia tahu apa yang sedang Marchel gelisah kan. Bintang menghampiri Marchel sekaligus ingin menanyakan kebenarannya tentang kasus Laras.


"Pa, ada yang mau aku omongin sama Papa!" ucap Bintang tanpa basa-basi langsung duduk di samping Marchel.


Marchel terkejut melihat kedatangan anaknya, dia merasa sangat aneh dan menebak bahwa Bintang mengetahui sesuatu tentang kasus Laras. Namun Marchel menyembunyikan kekhawatirannya dan tetap bersikap tenang.


"Mau ngomong apa?" sahut Marchel menolehkan wajahnya ke arah Bintang.


"Pa aku udah tahu semuanya!" ucap Bintang tanpa memberikan penjelasan yang lebih jelas.


"Tahu apa?" tanya Marchel yang pura-pura tidak paham apa yang di bicarakan oleh anaknya.


"Aku tahu Papa ada hubungannya dengan kasus pemb*nuhan Tante Laras! Sebenarnya Papa memiliki hubungan apa sebelumnya sama Tante Laras?" tanya Bintang.


Marchel sungguh terkejut setelah mendengar perkataan Bintang, dia tidak menyangka anaknya tahu rahasia besar yang dia simpan rapat-rapat.


'Memang benar kata pepatah, sepintar-pintarnya kita menyembunyikan bangkai lama-kelamaan akan tercium juga baunya. Tapi bagaimana aku menjawabnya sekarang? Apa aku harus menyangkalnya? Siapa tahu itu hanya kecurigaannya saja kan?' batin Marchel.


"Pa gak usah bohong sama aku. Aku baca chat Papa sama Tante Laras!" ucap Bintang to the point.


Bintang ingin Papanya mengaku bahwa dia memang ada kaitannya dengan kasus pemb*nuhan tersebut dan juga Bintang ingin tahu apakah dirinya bersaudara dengan Cinta atau tidak.


"Kamu bagaimana bisa baca chat Papa?" tanya Marchel gugup.


"Aku sadap WhatsApp Papa!" ungkap Bintang yang membuat Marchel terkejut.


"Kamu sadap WhatsApp Papa? Itu privasi Bintang, kenapa kamu gak menghargai privasi orang?" Marchel berdiri dan memarahi Bintang.


"Udah lah Pa itu tidak penting sekarang! Aku cuma mau Papa jujur, tolong jangan mengalihkan pembicaraan. Papa duduk dulu!" ucap Bintang.

__ADS_1


'Sial! Dia kenapa gak terkecoh dengan amarahku?' batin marchel yang rencananya telah gagal.


Marchel pun duduk kembali ke tempat semula dan tidak berani melihat ke arah Bintang.


"Pa, apa benar aku sama Cinta saudara beda Ibu?" tanya Bintang.


"Kamu sudah tahu sampai situ?" tanya Marchel.


"Iya Pa! Seperti yang aku bilang, aku sudah menyadap WhatsApp Papa dan aku tahu Papa berkali-kali transfer uang ke Tante Laras untuk menafkahi mereka kan?"


"Ya! Dulu Papa bersalah sama Mama sama kamu juga. Sebelum kamu ada Papa sempat bermain dengan wanita malam yaitu Tante Laras. Saat itu Papa sama Mama belum memiliki kamu, sehingga saat itu Papa khilaf melakukan hal yang menj*jikan seperti itu!" ucap Marchel sambil menundukkan kepalanya, dia tahu dirinya tak bisa menyembunyikannya lagi kepada Bintang.


"Terus? Papa sama Tante Laras memiliki anak?" tanya Bintang penasaran.


Marchel menggelengkan kepalanya yang membuat Bintang bingung sendiri.


"Saat pertama kali ke rumah Cinta, Ibunya Laras mengingat Papa dan mengajak bertemu di luar. Dan dia mengatakan kalau Cinta adalah anak Papa, saat itu Papa merasa bersalah kepada mereka dan diam-diam menafkahi mereka. Berkali-kali dia meminta transferan dari Papa dan Papa selalu kasih karena Papa takut dia akan mengadu kepada Mama atau kamu!" kata Marchel.


"Lalu? Kenapa Papa bilang aku sama Cinta bukan saudara tiri?" tanya Bintang yang masih belum meresapi cerita Marchel.


"Iya! terakhir kali Papa bertemu dengan dia di gedung tua itu, Pala pikir dia akan menagih uang lagi. Tapi ternyata tidak, dia mengatakan dengan jujur bahwa Cinta bukan anak Papa selama ini dia berbohong dan memeras Papa. Saat itu Papa emosi dan akhirnya terjadilah seperti ini,"


"Jadi kejadiannya seperti ini!" ucap Bintang.


"Iya Bintang, Papa merasa bersalah saka kalian dan juga Cinta. Papa takut mereka akan menyalahkan Papa, dan Papa takut di penjara!" kata Marchel.


"Pa! Dulu Papa sempat bilang kalau apa yang kita lakukan pastikan kita mampu untuk mempertanggungjawabkan. Sekarang Papa berbuat seperti itu, Bintang harap Papa bertanggungjawab dan menyerahkan diri daripada setiap hari Papa di hantui dengan rasa takut!" kata Bintang.


"Papa gak mungkin menyerahkan diri, Papa tidak ingin mendekam di penjara Bintang. Dan Papa belum siap melihat Mama kamu sedih, dan minta pisah sama Papa!" ucap Marchel menangis karena takut.


Ini pertama kali Bintang melihat Marchel begitu lemah hingga menangis di depannya. Ada rasa Iba dalam dirinya ketika melihat Marchel seperti itu, tetapi dia juga tidak bisa membantunya karena ini memang konsekuensi yang harusnya Marchel terima.

__ADS_1


Bintang hanya bisa menenangkan Marchel lewat kata-katanya. Dalam hati dia juga takut Mama-nya akan meminta cerai dan keluarganya akan terpisah. Bintang tidak mau menjadi anak yang broken home, dia tahu itu pasti sangat menyakitkan.


'Tapi bagaimana dengan Cinta? Dia baru saja mendapat masih sayang seorang ibu yang sudah lama dia dambakan tetapi harapannya du musnahkan oleh Papa sendiri? Apa aku sejahat itu menyembunyikan ini semuanya? Apa aku bisa tenang menjalani hidupku kedepannya?' pikir Bintang.


__ADS_2