
Keesokan harinya, Cinta bangun seperti biasa yaitu jam 5 pagi. Dia ternyata sudah tidur terlalu lama dan tidak tahu keberadaan Bintang dimana.
Cinta melihat di sekeliling kamar, namun tak menemukan Bintang hingga akhirnya Cinta keluar dari kamarnya dan mendengar ada orang yang sedang memasak.
'Apa Ibunya Bintang ya?' batin Cinta.
Karena penasaran, Cinta pun mencari sumber suara tersebut. Dia melihat seorang wanita sedang memasak di dapur.
'Apa aku sapa aja ya? Kemungkinan ini Ibunya Bintang. Lagipula kemarin aku tidak dapat bertemu,' batin Cinta.
Cinta sudah berada beberapa meter di belakang Nadia, namun dia masih ragu untuk menyapanya karena takut Nadia orang yang pemarah.
"Eh, kamu temannya anak saya ya?" tanya Nadia yang tidak sengaja melihat keberadaan Cinta.
"I...iya Bu, saya temannya Bintang. Perkenalkan nama saya Cinta, Tante," ucap Cinta dengan sopan memperkenalkan dirinya.
"Iya, Bintang sudah cerita kemarin. Ngomong-ngomong gimana tidurnya kemarin? Nyenyak gak?" tanya Nadia sambil memasak.
"Iya nyenyak kok Tante. Biar saya bantu Tante," sahut Cinta sambil membantu Nadia yang sedang kewalahan memasak.
"Makasih ya, kamu pintar masak juga ya?" tanya Nadia.
"Enggak pintar sih Tante, cuma bisa dikit-dikit saja. Kebetulan saya masak dirumah, jadi setidaknya sedikit tahu tentang masakan," ucap Cinta.
"Oh gitu ya, ternyata senang juga ya kalau punya anak bisa masak. Soalnya Bintang gak bisa masak, makanya setiap pagi Tante selalu kerepotan masaknya," ucap Nadia.
"Oh gitu ya Tante," ucap Cinta sambil tersenyum canggung.
"Iya, Tante cuma punya anak satu. Yaitu, Bintang. Makanya Tante sangat menyayanginya, tapi akibatnya Bintang malah malas-malasan. Di sekolah pasti dia nakal kan anaknya?" tanya Nadia yang tidak bisa berhenti bicara.
"Eng...enggak juga kok Tante. Paling juga cuma tidur aja di kelas, tapi gak pernah dapat hukuman," ucap Cinta.
"Oh kamu sekelas ya sama anak saya?" tanya Nadia kembali.
"Iya Tante, kebetulan sekelas hehe," sahut Cinta.
"Yah, akhirnya sudah jadi. Kamu mau cicip gak?" tanya Nadia sambil menyendokkan makanan dan memberikan ke arah Cinta.
"Boleh deh Tante," kata Cinta.
"Biar Tante suapi ya," ucap Nadia.
"Gak...gak usah Tante. Aku bisa sendiri kok," ucap Cinta.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Tante ingin suapi kamu, sudah lama Tante ingin anak perempuan. Boleh ya?" ucap Nadia.
"Iya deh Tante," kata Cinta.
Nadia menyuapi Cinta, adegan seperti ini hanya baru kali ini Cinta merasakannya. Ini juga membuat Cinta merasa nyaman, ingin sekali dia mempunyai seorang Ibu seperti Nadia.
'Kenapa aku tiba-tiba merasa nyaman ya kalau ada anak ini?' batin Nadia.
"Enak gak masakan Tante?" tanya Nadia setelah Cinta mencicipi masakannya.
"Ini sih enak banget Tante, kalah jauh dibandingkan masakan saya," ucap Cinta.
"Masak sih? Mau dong sesekali dimasakin sama kamu, pingin rasain masakan kamu seperti apa sih"
"Jangan Tante, aku gak percaya diri kalau Tante icip-icip masakan aku," kata Cinta.
"Gak apa-apa. Kalau gitu nanti kita masak bareng lagi ya. Untuk sekarang karena masakannya sudah siap kamu mandi dulu nanti setelah mandi kita makan bersama ya. Tante juga mau mandi, gerah soalnya!" ucap Nadia.
Nadia pun mengarahkan Cinta untuk mandi di kamar Bintang saja, karena Bintang juga tidur di kamar yang lain.
SRUSHHH! SRUSHHH!
Bunyi dari gemercik air yang mengalir ke tubuh Cinta.
'Seandainya aku punya Ibu seperti Tante Nadia, pasti aku bahagia,' batin Cinta.
"Segar juga ya mandi pagi!" ucap Cinta setelah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di tubuhnya.
Cinta mengelap seluruh tubuhnya agar tidak ada air lagi yang mengalir. Lalu satu persatu mulai memakai pakaiannya.
"Cinta, di suruh makan sama Mama gue!" teriak Bintang yang tiba-tiba muncul di pintu kamar.
"Ahhhh!" Cinta buru-buru mengambil handuk untuk menutup bagian tubuh yang belum memakai celananya.
"Ma...maaf Cinta. Gue gak bermaksud," ucap Bintang terburu-buru menutup pintunya.
"Nan...nanti ke meja makan ya. Kita makan bersama disana," ucap Bintang gugup.
"I...iya!" sahut Cinta.
Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, rasa kaget dan malu bercampur menjadi satu.
"Aduhh, kenapa aku bodoh sekali. Bahkan tidak mengunci pintu tadi, malu banget!" ucapnya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Cinta buru-buru memakai pakaiannya kembali, lalu pergi ke meja makan menemui Bintang dan orang tuanya.
"Pagi, Om, Tante!" sapa Cinta kepada orang tua Bintang.
"Cinta, sini duduk disamping Tante!" ucap Nadia.
Cinta menghampiri Nadia, dan duduk di sampingnya.
"Loh Mama sudah kenal sama Cinta?" tanya Bintang bingung.
"Udah dong. Tadi dia bantu Mama masak loh," ucap Nadia heboh.
"Kamu bisa masak Cinta?" tanya Marchel.
"Sedikit Om. Dibandingkan dengan masakan Cinta, masih kalah jauh sama masakannya Tante," ucap Cinta merendah diri.
"Tidak apa, yang penting sudah bisa!" ucap Marchel.
"Oh ya, saya minta maaf sudah merepotkan Om, Tante dan juga Bintang. Saya tidak akan lama kok di sini," ucap Cinta yang merasa tidak enak hati terhadap kedua orang tuanya Bintang.
"Tidak apa-apa. Kami juga sudah tahu kondisi kamu di rumah, dan memang lebih baik kamu tinggal di sini dulu saja," ucap Marchel.
"Iya benar kata Om, lagipula Tante senang kalau kamu tinggal di sini lama-lama. Bila perlu kamu tinggal di sini saja selamanya, biar Tante kayak punya anak cewek," ucap Nadia senang.
"Ya gak bisa gitulah Ma, Cinta juga kan punya Ibu. Emang Mama mau nanti Bintang dikira menculik anak orang?" ucap Marchel yang merasa tidak enak hati kepada Cinta.
"Iya juga sih, tapi Cinta anaknya manis, Mama jadi pingin angkat jadi anak saja!" ucap Nadia.
"Tante bisa saja," ucap Cinta yang merasa malu.
"Ayuk makan dulu, makan. Cinta makan yang banyak ya, kata bintang kemarin kamu gak makan," kata Nadia mengambilkan Cinta nasi beserta dengan lauknya.
"A..aku bisa sendiri kok Tante," ucap Cinta yang merasa tidak enak hati.
"Ini sebenarnya yang jadi anak kalian siapa sih? Kok aku di cuekin?" ucap Bintang yang merasa di cuekin sama orang tuanya.
"Ya kamu lah! Iri ya?" ucap Nadia menggoda anaknya.
"Biasa aja!" kata Bintang memasang wajah cemberut.
"Ciee cemberut!" kata Nadia.
Karena tidak ingin pilih kasih, Nadia juga mengambilkan anaknya nasi dan lauknya. Barulah Bintang memasang wajah yang penuh senyum.
__ADS_1
Begitupula dengan Cinta yang baru pertama kali mendapat kehangatan dari keluarga, walaupun saat ini dia tidak termasuk ke keluarga Bintang.
'Tuhan, aku ingin saat ini juga waktu berhenti berjalan,' batin Cinta