Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 73


__ADS_3

"Non, saya ada membelikan Non Cantika testpack untuk mengecek kehamilan Non Cantika," kata Rusmadi kepada Cantika setelah sampai di sekolah.


Cantika menerima testpack tersebut dari sopir pribadinya, dia menatap ke arah wajah sopir tersebut dengan rasa malu.


'Sopirku sepertinya sedikit ganteng, hanya saja umurnya lebih tua 12 tahun dariku' batin Cantika.


"Non, kalau sudah mengeceknya kabari ya kalau positif!" pinta Rusmadi.


"Untuk apa?" tanya Cantika bingung.


"Saya hanya ingin tahu saja," kata Rusmadi tanpa menoleh ke belakang.


"Iya!" ucap Cantika.


Cantika memasukkan testpack tersebut ke dalam tasnya, lalu turun dari mobil. Dia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.


"Argh!" Cantika menjatuhkan tasnya ketika seseorang menabraknya di depan kelas saat dia hendak masuk ke kelas.


"Erna kalau jalan Pakai mata dong!" ucap Cantika dengan nada tinggi kepada orang yang menabraknya.


"Iya sorry, sorry!" sahut Erna.


"Testpack? ngapain lo bawa benda kayak gitu ke sekolah? Lo hamil?" tanya Erna dengan suara yang lumayan keras sehingga membuat teman sekelasnya memalingkan wajahnya ke arah Cantika.


Cantika buru-buru mengambil testpack nya yang jatuh ke lantai, dia langsung menyembunyikannya ke dalam tas.


"Ngomong apa sih, gue beliin saudara gue, dia nitip ke gue tadi!" sahut Cantika marah.


"Masa sih?" tanya Erna tak percaya.


"Kalau hak percaya ya udah!" kata Cantika kemudian berlalu meninggalkan Erna di depan pintu kelas.


Teman-teman Cantika mulai mencurigai Cantika bahwa Cantika hamil. Mereka terus membicarakan Cantika di belakangnya, mereka penasaran apakah Cantika hamil atau tidak.


Pada jam istirahat, Erna terburu-buru mencari Cinta ke mejanya.


"Cinta tunggu!" teriak Erna ketika Cinta hendak meninggalkan mejanya.

__ADS_1


Cinta menoleh ke arah Erna dengan raut wajah yang bingung.


"Cin, ada yang mau gue omongin sama lo!" ucap Erna yabg membuat Cinta penasaran tentang topik yang ingin di bahas oleh Erna.


"Mau ngomong, ngomong aja sih," ujar Cinta.


"Lo tahu gak, tadi gue lihat Cantika bawa testpack ke sekolah. KIra-kira dia hamil anak siapa ya?" tanya Erna yang ternyata hanya mengajak Cinta untuk bergosip saja.


"Jadi lo buru-buru nyamperin gue cuma karena masalah kayak gini doang?" tanya Cinta.


"Iya, hehe!"


"Udahlah Erna lo gak usah ikut campur dengan urusan orang lain. Mau dia hamil atau enggak toh juga gak ada keuntungannya buat lo kan?" kata Cinta menasehati sahabatnya yang gemar bergosip.


"Iya deh iya, ternyata gue salah cari teman cerita," gumam Erna,


"Apa lo bilang?" tanya Cinta yang mendengar Erna mengejeknya.


"Eh engg...enggak kok! KIta pergi ke kantin yuk!" ajak Erna mengalihkan pembicaraan.


Sedangkan Cantika yang sedari tadi diam di mejanya merasa sangat takut, dia takut ketahuan oleh teman-temannya bahwa dia sudah melakukan hubungan intim dan orang itu adalah sopirnya sendiri. Cantika pergi ke toilet untuk memastikan apakah dia hamil atau tidak, dia menyelipkan testpack nya ke sakunya.


'Gak boleh! gue gak boleh hamil, apalagi orang yang menghamili gue umurnya jauh lebih tua daripada aku. Kalau hamil anaknya Andika sih gue mau-mau aja, putus sekolahpun gue rela,'batin Cantika.


SEtelah beberapa menit Cantika melakukan pengetesan, dia memperhatikan garis di testpack tersebut dengan teliti. Terlihat di testpack tersebut di tandai dengan garis dua yang artinya Cantika positif hamil. Cantika hampir saja terjatuh karena kakinya lemas, dia tidak menyangka bahwa sekali mencobanya langsung membuatnya hamil.


'Bagaimana ini? apa aku yakin akan menggugurkannya? jika aku gugurkan di masa depan mungkin aku gak bisa mendapat keturunan lagi. Lalu pria mana yang akan mau menikahi ku? apa aku menikahi sopir gue sendiri? tapi gue masih sekolah di sisi lain dia miskin dan juga lebih tua daripada gue' batin Cantika panik.


Butuh waktu lama untuk Cantika menari solusinya, dia memiliki pilihan yang sangat sulit. Cantika tidak mungkin menikah di usia yang muda apalagi masih sekolah, selain itu orang tuanya belum tentu akan merestui hubungan mereka dan pasti akan sangat marah ketika mendengar berita kehamilan Cantika.


"Aku punya ide!" uap Cantika lalu mengambil handphone yang sempat dia taruh di saku roknya.


"Halo Non ada masalah apa?" tanya seseorang yang berada di telepon.


"Pak Rusmadi jemput aku sekarang, aku akan berpura-pura sakit sekarang!" ucap Cantika kepada sopirnya di telepon.


"Kenapa Non? Non ada masalah?" tanya Rusmadi terlihat mengkhawatirkan majikannya.

__ADS_1


"Udah Bapak tinggal datang ke sini saja, cepetan!" kata Cantika dengan nada tinggi arena merasa jengkel dengan pria yang telah membuatnya hamil.


Cantika menutup telepon setelah berbicara seperti itu kepada sopirnya, lalu dia kembali ke kelas.


'Aku harus berpura-pura sakit perut biar yang lainnya bawa aku ke UKS. Tunggu seseorang datang ke kelas aku akan mulai berakting,' batin Cantika.


Benar saja, beberapa saat setelah Cantika sampai dikelas, Riana masuk kelas. Saat itu Cantika sudah mulai berakting, dia berkali-kali mengeluarkan suara kesakitan sambil memegang perutnya, ekspresinya sangat lemah sehingga orang yang melihatnya akan percaya kalau dia sakit.


"Lo kenapa cantika?" tanya Riana yang menoleh ke arah Cantika.


"Gak tahu nih Ri, kayaknya sakit perut bakalan datang bulan deh," ucap Cantika.


"Lo masih bisa bertahan sampai pulang gak? kalau gak gue antar ke UKS ya?" tanya Riana.


"Kayaknya gak deh Ri, gue minta tolong antar gue ke UKS ya kayaknya gue mau pulang aja," kata Cantika.


Riana pun mengantarkan Cantika ke UKS untuk mendapatkan obat lalu mencari surat izin untuk bukti bahwa Cantika memang sakit.


"Lo di jemput sama sopir lo?" tanya Riana.


"Iya tadi gue udah suruh sopir gue untuk jemput gue di depan! Lo antar gue sampai depan gerbang aja ya," ucap Cantika.


"Iya deh!"


Riana pun mengambilkan tasnya Cantika yang masih di dalam kelas, sedangkan Cantika masih menunggu di depan UKS.


Saat mengambil Tas Cantika, tanpa sengaja Riana melihat testpack milik Cantika dan dia terkejut melihat garis dua yang tertera di testpack tersebut. Namun Riana bersikap seolah-olah tidak melihat apapun. Dia kembali ke UKS untuk mencari Cantika.


"Yuk!" ajak Riana.


Erna menggandeng Cantika berjalan menuju ke gerbang sekolah. Di depan gerbang terlihat sebuah mobil terparkir di gerbang sekolah.


"Makasih ya Riana!" ucap Cantika yang masih memegang perutnya.


"Iya sama-sama. Lo hati-hati ya!" ucap Riana.


Setelah mengatakan hal itu, Cantika langsung masuk ke dalam mobil. Kali ini dia duduk di depan, di samping Rusmadi. Rusmadi tampak bingung sekaligus gugup ketika Cantika berinisiatif duduk di sampingnya Rusmadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang hal aneh yang di lakukan oleh Cantika.

__ADS_1


__ADS_2