Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 56


__ADS_3

"Tolong bawa masuk kemari!" perintah seorang dokter yang akan menangani Cinta dan Andika.


Warga yang membantu tadi membawa Cinta dan Andika masuk ke ruangan yang di perintahkan oleh dokter tersebut.


"Silahkan kalian tunggu di sini dulu!" kata dokter tersebut kepada warga dan sopir truk itu.


"Sudahlah pak, jangan merasa bersalah seperti itu. Saya lihat jelas kok tadi kalau anak-anak itu lalai dalam mengendarai motornya sehingga dia tidak tahu truk Bapak melambat di depannya!" kata salah satu warga yang membantu Andika dan Cinta.


Seorang bapak-bapak dengan kumis tebal menempel di bawah hidungnya mencoba menenangkan sopir truk tersebut. Bahkan dia bersedia menjadi saksi jika hal ini di laporkan oleh pihak keluarga mereka.


Sedangkan di dalam ruangan, dokter sedang membersihkan luka-luka pada tubuh Cinta dan Andika.


Cinta kakinya terluka cukup keras sehingga perlu di jahit. Luka yang ada di pergelangan kakinya cukup besar namun tidak perlu di jahit. Luka tersebut hanya butuh pengobatan saja, sedangkan luka yang di jahit ada pada bagian betis.


Andika yang melihat kondisi Cinta yang begitu parah merasa sangat sedih dan juga merasa bersalah. Dalam benaknya dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahannya. Andika tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada orang tuanya terlebih lagi kepada Laras yang merupakan ibunya Cinta.


"Cinta lo pasti bisa!" Kata Andika menyemangati Cinta.


Cinta tersenyum di tengah kesakitan tersebut.


"Bawa pasien ke ruang operasi!" Ucap dokter yang merawat Cinta kepada perawat.


Melihat Cinta di bawa pergi, Andika tak henti-hentinya berdoa agar Cinta di selamatkan dan di kuatkan dari rasa sakit akibat ulahnya.


'Maafin gue Cin, kalau saja gue fokus bawa motornya gak bakalan kayak gini kejadiannya' batin Andika.


Beberapa menit kemudian, orang tuanya Andika dan juga Laras datang menjenguk Andika setelah dokter sudah selesai mengobatinya.

__ADS_1


"Andika sayang, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?" tanya Naya yang nampak begitu khawatir.


Di lihat dari hidungnya yang memerah dan matanya yang membengkak sepertinya Naya habis nangis. Laras pun ikut mengkhawatirkan anaknya yang satu kamar dengan Andika.


Melihat kaki anaknya yang sudah di jahit dan mengenakan perban, Laras menangis sedih. Ini pertama kalinya Cinta merasa bahwa ibunya sangat mengkhawatirkan dirinya.


Terakhir kali saat Cinta masuk ke rumah sakit, Laras datang dengan marah-marah dan berteriak. Bahkan saat itu Cinta tidak melihat rasa khawatir yang ada pada diri Laras.


"Cinta, apa yang terjadi nak?" tanya Laras nangis sesenggukan melihat keadaan anaknya.


Untung saja Cinta dan Andika mengenakan helm di kepalanya sehingga kepala mereka aman dari benturan.


"Cinta kecelakaan Bu, tidak sengaja mengajak Andika mengobrol dan ternyata itu membuat Andika tidak fokus dan menabrak truk melambat yang ada di depan kami," ucap Cinta.


"Tante maafin Andika ya. Andika tidak bisa menjaga Cinta dengan baik sesuai janji Andika!" ucap Andika merasa bersalah.


"Maaf mengganggu waktunya Bu, Pak!" ucap sopir truk tersebut ketika sudah masuk ruangan.


"Sebelumnya saya minta maaf, karena truk yang saya bawa membawa muatan yang begitu berat sehingga jalannya melambat. Karena itu mungkin adik tidak melihat ada truk di depan jadi menabraknya. Saya menyesali ini, tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya, tolong jangan bawa kasus ini ke kepolisian. Saya tidak mau di penjara, saya masih memiliki anak istri yang harus saya nafkahi," kata sopir truk tersebut dengan tulus meminta maaf dan memohon kepada 2 keluarga tersebut.


"Ini bukan kesalahan Bapak. Anak kami yang salah tidak memperhatikan jalan saat berkendara. Saya akan mengganti rugi atas kecelakaan ini untuk bapak. Tolong bawa kartu ini sebagai ganti rugi kami kepada bapak, di dalamnya ada sedikit uang yang bisa kami berikan semoga Bapak memaafkan kesalahan putra kami satu-satunya ya" ucap Naya sambil memberikan sebuah kartu ATM setelah mengambilnya dari dalam tas.


"Ini tidak bisa saya terima Bu. Kalian sedang mendapatkan musibah bagaimana mungkin saya menerima uang ini, lebih baik uang ini kalian gunakan untuk membayar biaya rumah sakit ini," kata sopir tersebut.


'Zaman sekarang jarang banget ada orang yang baik seperti ini. Bahkan jika orang ini orang lain mungkin mereka akan memanfaatkan kesempatan ini dan menuntut kami agar membayar sejumlah uang yang besar. Tetapi hati bapak ini sungguh mulia,' batin Naya.


"Bapak bawa saja uang ini. Kami masih memiliki uang cadangan kok, harap bapak menerima uang ini untuk mengurangi rasa bersalah kami kepada Bapak," kata Naya yang terus memaksa sopir truk tersebut.

__ADS_1


"Sudahlah Pak, lebih baik Bapak terima uang dari istri saya. Kalau tidak mungkin dia akan terus memikirkannya," imbuh David yang berdiri di samping Naya.


"Baiklah Pak, Bu. Saya ucapkan terimakasih banyak, kalau tidak ada hal lain saya akan pergi dan melanjutkan pekerjaan saya," ucap sopir truk tersebut.


Naya dan David mengangguk sambil tersenyum


"Laras, aku akan membayar biaya pengobatan untuk Cinta. Bagaimanapun ini kesalahan yang di lakukan oleh Andika, jadi kami akan bertanggungjawab sepenuhnya untuk biaya rumah sakit dan pengobatan Cinta," kata Naya kepada Laras.


"Iya Naya, terimakasih!" Ucap Laras yang masih sedih melihat keadaan anaknya.


"Beberapa hari ini mungkin Cinta gak akan bisa pergi ke sekolah begitupula dengan Andika. Kita seharusnya mencari surat untuk di bawa ke sekolah agar sekolah dapat memberikan mereka libur sampai mereka sembuh," kata Naya.


"Benar juga sih, biar aku saja mengurus semuanya. Kalian jaga anak-anak ya!" Kata David kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


"Cinta gimana keadaan lo? Masih sakit?" tanya Andika.


"Enggak kok Dik, udah mendingan setelah ditangani oleh dokter," sahut Cinta.


"Maafin gue ya, gara-gara gue lo jadi masuk rumah sakit," ucap Andika yang terus-menerus dihantui oleh rasa bersalahnya kepada Cinta.


"Udah gak apa-apa, lo juga masuk ke rumah sakit kan, namanya juga kecelakaan gak ada yang tahu!" Kata Cinta menenangkan Andika.


"Yang di katakan Cinta itu benar, kamu jangan terus menyalahkan diri kamu. Lagipula Tante Laras sudah maafkan kamu dan Cinta juga memaafkan kamu. Kamu harus fokus pada penyembuhan luka kamu ini, jangan banyak berfikir. Cinta juga kamu jangan terlalu banyak berfikir kamu harus fokus menjalani perawatan luka yang ada di kaki kamu itu ya, biaya rumah sakit Tante yang akan tanggung," Naya memberikan nasehat kepada kedua anak tersebut.


'Naya lebih dewasa untuk menjadi seorang Ibu, dia juga sangat menyayangi putranya. Sangat berbeda dengan aku dulu yang acuh tak acuh kepada Cinta. Dia pasti sangat menderita waktu itu, aku akan menebus semuanya untuk Cinta' batin Laras.


silahkan mampir ke karya temanku ya....

__ADS_1



__ADS_2