
Cinta masih menangis di taman sekolah, rasa sakit setelah di hina oleh orang yang dia sayangi masih terasa. Seseorang datang menghampirinya dan duduk secara pelan di sampingnya.
"Cin gak apa-apa, jangan nangis lagi. Gue gak akan jauhin lo kok, lo tetap sahabat gue yang baik!" ucap Erna menenangkan Cinta.
Erna mengusap-usap punggung Cinta berharap Cinta bisa tenang dan tidak terlalu menyalahkan dirinya atas masa lalu ibunya.
"Cin, seperti yang lo bilang. Ibu lo sudah berubah bahkan sudah memiliki pekerjaan yang baik-baik untuk apa lo mendengarkan mereka lagi? lagipula ibu lo selama ini bersikap baik sama lo!" kata Erna kembali.
"Ibu gue dulu tidak sebaik ini Na, gue pernah di pukul," kata Cinta jujur.
Pikirannya dipenuhi rasa bersalah dan juga sakit hati yang membuat dia menceritakan rahasia besar yang dia pendam selama ini.
"Dulu Ibu tidak pernah sayang sama gue, hingga beberapa bulan ini Ibu gue berubah baik dan sayang sama gue. Perlakuan Ibu yang tidak baik ke gue, itu alasan gue melarang kalian datang ke rumah gue. Keadaan gue di rumah tidak baik-baik aja!".
"Hal apa lagi yang lo sembunyikan dari gue Cin? lo nanggung beban begitu berat padahal gue sahabat lo sendiri tapi gue gak tahu apa-apa tentang lo. Sekarang lo ceritain semua penderitaan lo ke gue. Gue gak mau ada rahasia lagi di antara kita".
"Selain pernah di pukul oleh Ibu, gue harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan gue. Gue melakukan semua bisnis bukan karena gue senang atau hanya iseng tetapi memang dari sana uang yang datang untuk memenuhi kebutuhan gue. Gue juga ingin seperti kalian, bisa bersantai tanpa memikirkan uang untuk membeli makanan yang akan di makan besok," keluh Cinta sambil menangis sesenggukan.
Bintang datang secara perlahan mendekat ke arah Cinta dan Erna. Erna yang membelakangi Bintang memberikan kode kepada Bintang untuk tidak duduk di samping Cinta dulu karena dia ingin menenangkan Cinta sambil mendengar ceritanya.
"Gue juga gak tahu kenapa Ibu gue berubah terutama setelah bertemu kedua orang tua Bintang. Awalnya Ibu pernah nyuruh gue pacaran sama Bintang untuk porotin Bintang. Tentu saja gue gak mau, bagaimanapun juga gue gak ada perasaan sama Bintang selain itu keluarga Bintang baik sama gue mana mungkin gue tega melakukan hal jahat itu.
Tetapi setelah sahabat Ibu gue pindah dekat rumah gue, Gue gak di ijinkan untuk sekedar berkunjung ke rumah Bintang. Dan juga Ibu gue bersikeras agar gue pacaran sama Andika. Memang gue suka sama Andika, tetapi gue belum tahu tujuan Ibu gue. Setelah beberapa hari Ibu gue selalu berprilaku baik dan gue mengklaim bahwa Ibu gue sudah berubah, gue tidak menaruh curiga kepada beliau" jelas Cinta lagi.
"Berarti anak dari sahabat Ibu lo tuh Andika? lo sempat di jodohkan sama Ibu lo?"
"Iya Na!" kata Cinta mengangguk.
"Terus gimana setelah lo putus sama Andika? apa Ibu lo tahu tentang itu?" tanya Erna.
"Tahu Na. Ibu merasa bersalah, tapi gue gak pernah nyalahin Ibu gue. Bagaimanapun juga Ibu seorang manusia yang membesarkan gue sendirian dan itu pasti berat bagi Ibu,"
"Lo benar anak yang baik Cin, mungkin kalau gue jadi lo gue gak akan kuat. Mungkin gue akan membenci Ibu gue!" ucap Erna.
"Mau gimana lagi, seburuk-buruknya Ibu dia telah melahirkan aku dan mengurusku semasih bayi. Ibu masih memiliki hati nurani, kalau tidak mungkin aku sudah di buang oleh beliau!".
"Maafin gue Cin, gue baru tahu sekarang penderitaan lo setelah semuanya berakhir. Mulai sekarang kalau lo ada masalah lo bisa cerita ke gue. Jangan ada yang di tutup-tutupi lagi kepada gue," kata Erna sambil memeluk Cinta yang masih belum berhenti menangis.
"Makasih Na, lo emang sahabat gue yang terbaik!" ucap Cinta.
"Cinta, Erna! balik ke kelas yuk, setelah ini ada pelajaran lain yang menunggu. Kalian jangan bersedih lagi ya," kata Bintang dari belakang mereka yang membuat Cinta sedikit terkejut.
"Bintang, sejak kapan lo ada di sini?" tanya Cinta melepas pelukan dari Erna.
"Udah dari tsdi Cin, gue sengaja gak ijinin dia duduk karena lo masih sedih!" kata Erna.
__ADS_1
"O...ohh, berarti lo dengar semuanya cerita gue dong,"
"Gak usah malu Cin, gue bukannya sahabat lo juga?" ucap Bintang yang masih menahan air matanya.
"Makasih Tang!" kata Cinta tersenyum sambil menghapus air matanya.
"Ya udah yuk ke kelas!" ajak Erna.
Mereka bertiga pun kembali ke kelas, begitu sampai di kelas Cinta di soraki oleh teman-temannya. Riana berusaha menenangksn teman-temannya ttapi tidak bisa.
"Anak pel*cur masuk kelas woy!" teriak salah satu siswa cowok di kelas Cinta.
"Huuu! dasar gak tahu malu!" sorak yang lainnya.
"Sial banget, kenapa harus satu kelas sih sama anak pel*cur ini!"
"Iya, nanti bisa-bisa nyebarin wabah pel*cur lagi!"
Hinaan demi hinaan keluar dari mulut teman kelasnya Cinta kecuali Riana, Agus dan Riski. Mereka tidak peduli soal status Cinta. Beberapa siswa mulai mlempari Cinta dengan kertas yang sudah di bentuk oleh bola.
"Stop semua! Kalian mau gue laporin ke guru?ini sudah termasuk pembulian!" teriak Riana yang masih berusaha menenangkan teman-temannya.
"Yang di katakan Riana benar, jika ini sampai di ketahui oleh guru kalian tidak akan bisa menghindari hukuman!" kata Erna yang ikut membela Cinta.
"Ada pahlawan kesiangan nih! soraki bareng-bareng yuk! Huuuuu!" teriak Cantika yang membuat suasana semakin panas.
Mereka bukannya kapok tapi malah semakin menjadi-jadi. Tanpa pikir panjang lagi, Bintang menyelinap pergi ke ruang guru untuk melapor ke guru.
'Gue gak bisa biarin Cinta di buly terus-terusan. Ini salah Andika, dia harus membayar apa yang dia lakukan!' batin Bintang sambil melangkahkan kakinya ke ruang guru dengan perasaan kesal.
"Pak Yoga, di kelas ada keributan masalah pembulyan tolong di tangani ya Pak, saya mohon!" kata Bintang.
Bintang hanya melihat Pak Yoga saja yang berada di ruang guru, jadi dia hanya bisa minta tolong kepada Pak Yoga. Lagipula Pak Yoga cukup tegas untuk menangani persoalan seperti ini.
"Baik!" kata Pak Yoga bergegas pergi ke arah kelas Cinta.
Sesampainya di kelas Pak Yoga melihat Cinta berdiri di depan kelas dan di lempari bola kertas oleh teman-temannya. Seketika kelas menjadi sepi setelah Pak Yoga memasuki kelas.
"Kalian apa-apaan ini? mau jadi preman kelas? melempar kertas ke arah teman kalian Hah?" teriak Pak Yoga penuh emosi.
Pak Yoga memang paling benci dengan pembulian apalagi melihat siswa nakal ingin sekali rasanya dia memberi hukuman yang benar-benar bikin mereka jera.
"Kalian semua kumpul di lapangan tanpa terkecuali!" perintah Pak Yoga.
"Ih panas tahu Pak siang-siang begini di suruh ke lapangan!" celetuk Cantika.
__ADS_1
"Sebelum membuly teman kalian kenapa kalian tidak takut akan hukuman ini?" tanya Pak Yoga yang membuat siswa tak bisa berkata apa-apa lagi dan terpaksa mengikuti perintah Pak Yoga.
Satu kelas mengikuti Pak Yoga dari belakang. Mereka menyesal telah ikut-ikutan membuly Cinta, dan beralih menyalahkan Cantika yang sedari tadi mengompori mereka.
"Dasar kalian setelah kena hukum malah menyalahkan gue. Kenapa tadi dengan senangnya melempar bola kertas ke arah Cinta?" ucap Cantika tak terima disalahkan.
"Sudah-sudah! kalian jangan ribut lagi!" kata Pak Yoga setelah sampai di lapangan.
"Siapa ketua kelasnya?" tanya Pak Yoga.
Riana yang berbaris di samping Cinta mengangkat tangannya.
"Kamu tahu teman-temanmu di bully kenapa tidak menghentikannya?" tanya Pak Yoga.
"Maaf Pak saya sudah berusaha menghentikannya tetapi mereka tidak mau berhenti!" kata Riana tegas namun ada rasa bersalah di hatinya.
"Siapa saja yang membuly Cinta tadi?" tanya Pak Yoga.
"Banyak Pak, satu kelas kecuali Erna, Bintang, Riski dan Agus Pak!" sahut Erna.
"Pemicunya adalah Andika! Hukum yang berat Pak!" kata Bintang.
"Kok gue sih?" ucap Andika tak terima.
"Kan emang lo? kalau bukan karena lo yang hina Cinta duluan mana mungkin akan terjadi hal yang seperti ini?" sahut Bintang kesal.
"Betul tuh! Harusnya kalau gagal move on jangan buly orangnya, dasar pec*ndang!" ujar Riski.
"Gue bicara fakta kan kalau dia memang anak pel*cur!" kata Andika membela dirinya.
"Sudah-sudah! kalian ribut saja. Makanya masih sekolah fokus belajar jangan main pacar-pacaran jadi kayak gini kan?" kata Pak Yoga marah.
"Ya sudah, kalian Bapak beri hukuman membersihkan toilet selama satu bulan. Kalau ada yang melapor tentang pembulyan lagi Bapak akan memberikan hukuman yang lebih berat lagi!" ucap Pak Yoga lalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Argh! siapa sih yang laporin?"
"Siapa lagi kalau bukan si pahlawan kesiangan?" ujar Andika.
"Dasar cepu!" lanjut Andika.
"Lah daripada lo cowok baj*ngan," kata Bintang.
"Lebih baik lo nikmati hukuman yang diberikan Pak Yoga, lumayan bikin lo jera!" kata Agus.
"Yuk ke kelas yuk!" ajak Riski.
__ADS_1
Bintang, Riski, Agus, Erna, Riana dan Cinta kembali ke kelas mereka meninggalkan teman-teman lainnya yang mendapat hukuman.
Tampak wajah kesal mereka karena mendapat hukuman dari Pak Yoga.