Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 83


__ADS_3

"Silahkan Mbak mau pesan apa?" tanya Cinta kepada pelanggannya.


Wanita tersebut menyebutkan makanan yang ingin di pesan. Lumayan banyak makanan yang dia pesan sehingga Cinta kewalahan untuk mencatat pesanannya.


"Maaf Mbak bisa di ulangi lagi gak?" pinta Cinta dengan sopan.


"Duh kamu ini bisa kerja gak sih, masa cuma gitu aja gak bisa catat sih!" bentak wanita tersebut.


Teman-teman wanita itu menertawakan Cinta dengan angkuh meskipun Cinta sudah meminta maaf atas perbuatannya.


"Kamu tuh masih kecil, harusnya belajar ini malah sok-sokan kerja di luar cari uang," ucap wanita tersebut.


"Maaf Mbak! tolong di ulangi lagi sekali pesanannya," kata Cinta memohon kembali.


Wanita tersebut mengulangi kembali makanan yang ingin dia pesan. Kali ini Cinta mendengarkan dengan cermat sambil menulis dengan tangan mungilnya itu.


"Baik Mbak terimakasih. Silahkan di tunggu ya!" ucap Cinta lalu pergi meninggalkan pelanggannya.


"Kok pelayan itu bisa catat semuanya sih? padahal kan aku ngomong lebih cepat dari yang tadi, masa iya daya ingatnya begitu kuat?" ucap Wanita itu bingung.


"Gimana sih Sis, kamu kan nyebut udah dua kali pasti dia ingatlah. Nanti coba saja kamu tes lagi!" ucap salah satu temannya.


Beberapa menit kemudian, cInta membawa pesanan wanita tersebut. Dia menghidangkannya di atas meja tepat di hadapan mereka.


"Mbak aku mau pesan lagi dong!" ucap teman wanita tersebut.


"Mau pesan apa Mbak?" tanya Cinta dengan ramah.


Wanita tersebut kembali menyebut makanan yang ingin dia pesan, tentu saja dnegan pesanan yang banyak dan kecepatan bicara yang cepat.


"Oke Mbak, silahkan ditunggu ya!" ucap Cinta.


'Pelanggan ini ada masalah apa sih sama aku? Kok kayak sengaja ingin mengerjai aku? Untung saja aku bisa mengingat suatu hal dengan cepat, kalau tidak mungkin aku akan di tertawakan habis-habisan oleh mereka,' batin Cinta.


Cinta tak ingin terlaku memikirkan hal tersebut, dia melanjutkan pekerjaannya dengan baik.


"Ih kok bisa sih dia catat? Apa aku kurang cepat bicaranya ya?" tanya wanita tersebut.

__ADS_1


"Mungkin kita gak harus ngerjain dia lagi deh, percuma uang kita habis sia-sia," saran temanya.


Sedangkan di dapur, Pak Santoso sedang menyiapkan makanan yang di pesan oleh pelanggan. Cinta memberikan catatan pesanan pelanggan kepada Pak Santoso.


"Pak, saya boleh usul gak?" tanya Cinta kepada Pak Santoso.


"Boleh, mau usul apa Cinta?" tanya Pak Santoso sambil menyiapkan pesanan pelanggan.


"Gimana kalau kita bikin menu makanan dan tempel di masing-masing meja pelanggan Pak. Kita juga bisa menyiapkan buku kecil dan pulpen di sana, nanti kita bisa menyuruh pelanggan menulis apa yang ingin dia pesan dengan melihat menu di meja mereka masing-masing," kata Cinta menjelaskan pendapatnya.


"Ide bagus itu Cinta. Besok saya akan buat menunya deh, dengan begitu mempermudah pekerjaan kita," kata Pak Santoso menyetujui usul yang Cinta berikan.


"Bagus deh kalau Bapak setuju!" kata Cinta senang karena pendapatnya di terima oleh Pak Santoso.


"Ini pesanan untuk meja 6 ya!" ucap Pak santoso memberikan pesanan tersebut kepada Cinta.


"Baik Pak!" kata Cinta menerima pesanan dari Pak Santoso kemudian pergi.


Setelah beberapa jam kemudian, rumah makan tampak sudah sepi pengunjung. Cinta memanfaatkan waktu untuk beristirahat setelah berjalan seharian. Cinta duduk di meja pelanggan sambil melamun, dia tidak menyadari bahwa Pak Santoso sudah berada di sampingnya.


"Cinta, apa yang kamu pikirkan?" tanya Pak Santoso sambil duduk di samping Cinta.


"Gak ada Pak, cuma bengong aja!" sahut Cinta sambil tersenyum.


"Kamu udah makan? Makan dulu gih, mumpung belum ada pelanggan!" ucap Pak santoso.


"Baik Pak, tapi nanti saja kebetulan saya belum lapar!" ucap Cinta.


"Makan jangan nunggu Lapar Cin, dalam situasi bekerja kamu harus mengisi perutmu terlebih dahulu untuk menambah tenaga kamu. Apalagi kalau kamu beristirahat melihat situasi terlebih dahulu, kamu harus memanfaatkan waktu bukan menunggu lapar!" ucap pak Santoso.


'Benar juga yang di katakan Pak Santoso. Aku harus bisa mengatur waktu makan ku, jangan sampai aku sakit dan menyusahkan Pak santoso kedepannya,' batin Cinta.


"Baik Pak, saya makan sekarang ya! Terimakasih sudah mengingatkan saya!" ucap Cinta kepada Pak Santoso.


"Sama-sama Cinta!" sahut Pak Santoso.


Cinta ke dapur untuk mengambil makanan, walaupun sudah di izinkan oleh Pak Santoso tentu saja Cinta masih sungkan. Dia hanya mengambil satu lauk saja dan juga mengambil sedikit nasi.

__ADS_1


...***...


Menjelang malam, Andika merindukan Cinta. Dia ingin pergi menemui Cinta, tanpa pikir panjang lagi dia pun bergegas mengambil kunci motor yang dia taruh di atas lemari kecilnya.


"Mau kemana kamu Dik?" tanya Naya yang melihat Andika keluar denhan tergesa-gesa.


"Mau ke rumah Cinta Ma!" sahut Andika.


"Oh iya! Lain kali ajak Cinta menginap di sini ya agar tidak sendirian terus," ucap Andika.


"Iya Ma, nanti juga bakalan aku bawa ke sini untuk Mama!" sahut Andika lalu pergi meninggalkan Naya di ruang tamu.


'Dasar anak ini, apa dia masih suka sama Cinta? Aku harap dia tidak mengecewakan Cinta lagi!' batin Naya sambil menatap kepergian anaknya.


Sesampainya di rumah Cinta, Andika mengetuk pintu Cinta. Namun sudah beberapa menit setelah dia mengeruk pintu, tidak ada orang yang membukakan pintunya.


"Cinta kemana ya? baru jam 7 masa sudah tidur?" tanya Andika pada dirinya sendiri.


Andika kembali menggedor pintu Cinta, namun tetap tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Andika merogoh sakunya untuk mengambil handphone, namun dia melupakan sesuatu.


"Aduh! Gue kan belum minta nomor handphonenya Cinta, gimana caranya gue menghubungi dia?" ucap Andika menepuk dahinya.


Andika pun mulai khawatir terhadap Cinta, dia memutuskan untuk menunggu di depan rumahnya Cinta dan duduk di kursi yang ada di teras rumahnya Cinta.


Andika sangat yakin kalau Cinta tidak akan tidur di jam segini, ini terlalu awal untuknya jika tidur jam segini.


satu jam menunggu namun Andika tidak melihat kemunculan Cinta. Dia semakin khawatir, takut Cinta ada masalah.


"Cinta lo kemana sih? Kenapa selalu menghilang gak jelas seperti ini?" kata Andika yang mulai gelisah.


Andika tak bisa tenang, dia berdiri dari tempat duduknya kemudian beberapa menitnya lagi dia kembali duduk, dan seperti itulah seterusnya hingga satu jam pun berlalu.


Andika sudah mulai kelelahan dan juga mengantuk, namun dia tak bisa tenang jika dia pulang saat itu. Andika memutuskan untuk memejamkan matanya di kursi tersebut sambil menunggu kedatangan Cinta.


Beberapa menit kemudian, Cinta datang di antar oleh Pak Santoso lagi. Suara motor Pak Santoso membuat Andika terbangun dari tidurnya. Dia melihat Cinta yabg sedang mengobrol dengan seorang pria tua yang tidak dia kenal.


"Siapa pria itu? Kenapa Cinta seperti senang berbicara dengan dia, apa jangan-jangan itu sugar daddy-nya Cinta?" gumam Andika yabg mulai berfikir yabg bukan-bukan terhadap Cinta.

__ADS_1


Setelah Pak santoso pergi, Cinta masuk ke halaman rumahnya. Dia terkejut melihat keberadaan Andika di depan rumahnya.


__ADS_2