
Sedangkan Riski yang di hukum, dia tidak pergi ke lapangan melainkan ke kantin.
"Buk beli mie ayam satu!" teriak Riski kepada Ibu kantin.
Ibu kantin langsung menyiapkan makanan yang di pesan oleh Riski. Di sana Riski bertemu dengan teman-teman yang sefrekuensi dengannya.
"Eh di sini juga lo Ki," kata Candra yang merupakan teman sepergaulan Riski yang lebih satu tingkat dari Riski.
"Eh iya nih. Kena hukum Gue sama bapak sehat itu," kata Riski.
"Siapa Pak Sehat?" tanya Candra yang tidak mengerti.
"Itu si guru matematika, Pak Yoga namanya. Kan sehat dia tuh!" ujarnya sambil tertawa terkikik-kikik.
Candra tertawa mendengar lawakan temannya.
"Bisa aja lo Ki," kata Candra
"Terus kenapa Lo bisa di sini?" tanya Candra.
"Ya masa gue nurutin perintah dia sih, mending ke kantin daripada Gue berdiri di lapangan. Malu Gue Ndra," kata Riski.
"Nekat Lo Ki. Awas ketahuan Lo," Candra memperingati temannya.
"Gak bakalan, gue punya waktu lima menit buat makan mie ini," kata Riski.
Tak butuh waktu lama Mie ayam yang di pesan Riski datang, begitupula dengan Mie ayam yang dipesan oleh Candra.
Riski langsung melahapnya entah karena lapar atau karena terburu-buru.
"Pelan-pelan kali. Awas tersedak lo," ujar Candra.
"Gue punya waktu lima menit Ndra, lo jangan ganggu Gue," kata Riski.
Dalam waktu 3 menit, Mie ayam di mangkuk Riski sudah habis beserta kuah-kuahnya.
"Anj*r cepat juga lo makan," kata Candra melihat mangkuk Riksi yang sudah kosong.
"Iyalah, eh Gue duluan ya," kata Riski terburu-buru dan membayarnya.
"Gak minum dulu lo?" tanya Candra kepada Riski yang sudah berjalan meninggalkannya.
"Gak usah," sahut Riski dari kejauhan.
Sebelum masuk ke kelas, Riski mengelap mulutnya takut ada sisa mie yang menempel. Setelah di rasa bersih, dia masuk ke kelasnya.
"Sudah lima menit ya?" tanya Pak Yoga sembari melihat jam di tangannya.
"Sudah Pak," sahut Riski.
"Yasudah kalau begitu kamu boleh duduk. Lain kali jangan di ulangi ya," ujar Pak Yoga.
"Baik Pak," kata Riski sambil berjalan menuju ke arah mejanya dan duduk di sebelah Agus.
__ADS_1
"Sialan Lo Gus," gumam Riski.
"Gimana hukumannya? Enak gak?" tanya Agus dengan suara pelan.
"Enak lah," ucap Riski.
"Eh kok Lo bau Mie Ayam sih? Lo pergi ke kantin ya?" tanya Agus dengan suara pelan.
Riski mengangguk.
"Gue laporin Lo.. Pak..," belum sempat Agus meneruskan suaranya, Riski buru-buru menutup mulut Agus dengan tangannya.
"Ada apa Agus?" tanya Pak Yoga.
"Tidak apa-apa Pak, dia cuma mau jahilin saya lagi," kata Riski mencari alasan.
"Dasar kang cepu Lo Gus," kata Riski melepas tangannya dari mulutnya Agus.
"Lagian lo gak ngajak-ngajak sih," protes Agus.
"Kapan-kapan Gue ajak," kata Riski.
Pak Yoga melanjutkan pembelajarannya, hingga bel istirahat pun berbunyi.
"Baik karena sudah jam istirahat, Bapak cukupkan sampai di sini!" ujar Pak Yoga lalu kembali ke ruangannya.
Para siswa berhamburan keluar dari kelas untuk pergi ke kantin.
"Cin, kantin yuk," ajak Erna.
"Eh kepala Lo kenapa?" tanya Erna yang baru sadar dengan luka di kepalanya.
Dari sekian banyak teman yang tadi mengerumuni Cinta, tidak ada satupun yang sadar dengan luka Cinta yang di balut dengan kapas di dahinya. Hanya Erna yang sadar, memang sahabat itu paling jeli dalam segala hal tentang kita ya:).
"Emmm... Itu.. Anu. Kemarin kejedot di lemari jadinya luka kecil deh makanya Gue perban hehe," kata Cinta dengan cepat mencari alasan.
"Ah masa sih, Kok gue gak percaya ya. Soalnya ada darahnya tuh," ujar Erna ragu-ragu.
"Aduh gak usah Lo urus. Udah sana ke kantin, ntar keburu habis jam istirahatnya," kata Cinta mengusir Erna agar tidak banyak bertanya lagi.
"Eh iya deh. Gue juga udah lapar hehe, Gue duluan ya Cin," kata Erna lalu pergi meninggalkan Cinta di dalam kelas.
Kini hanya Cinta yang tersisa di dalam kelas itu, sepi dan sunyi. Teman-temannya istirahat semua, dia teringat dengan tugas kakak kelasnya yang bernama Siska itu. Dia merogoh tasnya lalu mengambil sebuah buku dan keluar dari kelas.
"Eh Kak Siska, udah di depan kelas. Padahal mau aku antar ke kelasnya Kak siska," kata Cinta bertemu Siska di depan kelasnya yang akan menagih tugasnya.
"Hehe gak apa-apa. Udah selesai kan tugasku?" tanya Siska.
"Sudah Kak beres," kata Cinta memberikan buku Siska.
"Oke makasi ya Cinta, aku kembali ke kelas dulu. Daahhh..," ujar Siska lalu kembali ke kelasnya.
...****************...
__ADS_1
Pada jam istirahat, Cinta mendapat banyak job dari temannya. Ada sekitar 4 orang yang datang menemuinya sembari membawa buku tugasnya.
'Syukurlah dapat banyak orderan hari ini, setidaknya cukup buat makan hari ini dan juga modal buat beli bahan gorengan,' kata Cinta dalam hati.
Melihat Cinta menghitung uang, salah satu temannya menghampirinya.
"Wih banyak nih duitnya," ucap pria itu.
"Apaan sih Tang," sahut Cinya pada pria yang bernama Bintang.
"Tang,Tang,Tang, gak sekalian Lo panggil gue obeng?" kesal Bintang.
Dia tidak suka di panggil Tang, tetapi nama dia adalah Bintang, lebih baik daripada di panggil Binatang dengan alasan mulut kepleset kan?.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Cinta.
"Gue ada kerjaan buat lo," kata Bintang yang membuat Cinta mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Kerjaan apa?" tanya Cinta.
"Nyuci sama nyetrika baju gue," kata Bintang.
"Lah kan ada laundre," sahut Cinta, walaupun dia sangat menginginkan pekerjaan itu tapi dia tidak mau membuat Bintang curiga mengenai masalah perekonomiannya.
"Ya kan gue nawarin Lo dulu berhubung Gue baik hati. Tapi Lo gak merasa tersinggung kan Gue tawarin kerjaan kayak gini?" tanya Bintang yang tersadar atas perasaan Cinta.
"Ya enggaklah. Lo santai aja kali, Gue ambil kerjaan apa aja selama Gue mampu," kata Cinta.
"Tapi kok lo mau susah payah kerja kayak gini?" tanya Bintang penasaran.
Sebenarnya Bintang sudah curiga dengan perekonomian Cinta yang sedang tidak baik-baik saja, karena menurut dia sangat jarang ada anak yang seperti Cinta.
"Ya biar Gue bisa mandiri aja," ujar Cinta.
"Emang apa sih manfaatnya mandiri?" tanya Bintang yang masih tidak mengerti.
Cinta mengernyitkan keningnya, dia tidak menyangka bahkan Mandiri saja Bintang tidak tahu apa keuntungannya.
'Ni anak ot*knya buat pajangan aja kali ya?' batin Cinta.
"Astaga Lo nih, masa manfaat mandiri aja gak tahu. Nih Gue kasih tahu ya, dengerin baik-baik. Pertama setelah Lo lulus dari sini Lo bakalan ngelanjutin kuliah atau bekerja. Kalau Lo sudah bekerja, lo harus bisa mandiri karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Kedua, Lo tuh cowok jadi harus bisa mandiri karena nantinya Lo bakalan jadi kepala keluarga. Dan yang terakhir Lo bisa melatih kemampuan dan mental Lo, Lo bisa cari jalan keluar masalah Lo sendiri dan Lo gak banyak merepotkan orang lain. Sebenarnya masih banyak sih manfaatnya, cuma Gue malas bahas," kata Cinta menjelaskan.
"Oh begitu ya Bu Guru, siap deh," kata Bintang.
"Jadi kapan Gue ambil baju Lo?" tanya Cinta.
"Kapan aja, tapi seminggu sekali sih ya," ujar Bintang.
"Tapi Gue belum tahu alamat Lo, gimana dong?"
"Gue aja yang bawain," sahut Bintang.
"Selama ini juga tidak ada tuh teman sekelas kita yang pernah berkunjung ke rumah Lo, jadi Gue bisa jadi teman pertama kali yang tahu rumah Lo," imbuh Bintang.
__ADS_1
"Ish apaan sih, gak mau Gue. Biar Gue aja yang ambil dimana gitu, Lo jangan ke rumah Gue," tolak Cinta
Cinta tidak mau teman-temannya datang ke rumah lantaran ada Ibunya. Selain itu juga, Cinta tidak mau teman-temannya tahu kondisinya di rumah.