
"Pa! Papa mau kemana?" tanya Bintang ketika melihat Marchel melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
"Papa ada urusan sebentar Bintang, jadi harus cepat-cepat pergi!" kata Marchel lalu kembali melangkahkan kakinya.
'Papa sangat mencurigakan. Kenapa dia begitu gugup ketika aku memergoki kepergiannya? Aku harus mengikutinya!' batin Bintang.
Bintang buru-buru ke kamarnya mencari kunci motornya dan turun ke bawah untuk mengendarai sepeda motornya setelah mobil Marchel melaju.
"Papa pasti mau bawakan uang untuk orang yang tadi chat!" ucap Bintang sambil fokus membawa motor agar tidak ketahuan oleh Marchel dia telah mengikutinya.
Setelah beberapa saat, Marchel tampak memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang sepi. Bintang memandangi Papanya dari jarak jauh, setelah beberapa saat menunggu Marchel keluar dari mobil Bintang pun segera mengikuti langkah kaki Marchel.
Di bawah pohon yang suasananya sangat sunyi itu berdiri seorang wanita membelakangi Marchel.
"Laras!"
Wanita yang tadinya berdiri membelakangi Marchel kini membalikkan badannya ketika Marchel memanggil namanya.
Bintang membelalakkan matanya ketika dia tahu kalau wanita itu adalah Laras, ibunya Cinta.
"Mana uangnya?" tanya wanita itu tanpa basa basi lagi.
"Ini! dan ini terakhir kalinya ya Ras! aku sudah capek biayain kehidupan kamu yang selalu berfoya-foya!" keluh Marchel.
"Kali ini aku gak berfoya-foya Mas. Anak kita Cinta masuk rumah sakit karena kecelakaan!" ucap Laras.
'Cinta masuk rumah sakit?' batin Bintang sambil memandangi Marchel dan Laras.
"Cinta masuk rumah sakit? sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Marchel yang menampakkan wajah khawatir.
"Dia sekarang sudah selesai di operasi Mas, kakinya banyak luka!"
"Di rumah sakit mana dia di rawat? aku mau ke sana jenguk dia!" kata Marchel.
"Jangan Mas!" tolak Laras.
"Kenapa? anakku kecelakaan, kenapa aku tidak boleh menjenguknya?" tanya Marchel kesal.
"Dia sekamar dengan anak sahabatku. Anak sahabatku ini juga satu sekolah dengan anakmu. Apa kamu mau rahasia kita terbongkar gara-gara kecerobohanmu ini?" jelas Laras.
"Tapi aku juga ingin melihat keadaannya!" kata Marchel kekeh dengan keinginannya.
"Biar aku saja yang urus, kamu jangan khawatir. Kamu hanya perlu menyiapkan biaya cadangan karena aku juga tidak tahu apakah uang ini cukup apa tidak untuk biaya rumah sakit Cinta!"
"Ya... ya sudah. Kalau begitu kamu pergi ke rumah sakit jaga Cinta dengan baik!" kata Marchel.
__ADS_1
"Baik!" ucap Laras lalu pergi meninggalkan Marchel sendirian.
Bintang yang sedari tadi mengintip sambil merekam video percakapan Marchel dengan Laras, segera kembali ke motornya. Bintang tidak mau Papanya menemuinya dan akhirnya dia ketahuan.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini!" kata Bintang sambil memutar balik sepeda motornya.
Bintang kembali ke rumahnya dengan beberapa perasaan sakit yang ada di hatinya.
'Aku tidak tahu apa reaksi Ibu kalau Papa selingkuh bahkan sampai memiliki anak. Dan anak itu adalah Cinta, gadis yang sangat Ibu sayangi. Akankah Ibu membenci Cinta?' batin Bintang.
Bintang berniat untuk menyembunyikan semua ini dari Ibunya sebelum dia menemukan kepastiannya. Bintang berencana untuk melakukan tes DNA antara Papanya dengan Cinta.
***
Sesampainya di rumah, Bintang menemukan Mamanya duduk di sofa ruang tamu.
"Mama sedang apa?" tanya Bintang menghampiri Nadia.
"Lagi santai aja, kamu habis darimana?" tanya Nadia yang melihat Bintang baru datang dari luar.
"Keluar sebentar Ma, nyari angin sejuk!" ucap Bintang.
"Ma, Bintang mau nanya boleh gak?"
"Iya cuma iseng aja sih," ucap Bintang tersipu malu.
"Ya udah mau nanya apa?" tanya Nadia dengan nada suara yang lembut.
"Misalnya Papa selingkuh, apa yang Mama lakuin? apa mama benci sama Papa?"
DEG!
Nadia terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anak semata wayangnya itu. Bagaimana mungkin Bintang bertanya seperti itu tanpa adanya alasan?.
'Mungkinkah Bintang mencurigai sesuatu?' tanya nadia pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Bintang?" tanya Nadia kembali.
"Seperti yang Bintang bilang tadi, itu hanya pertanyaan iseng saja!" kata Bintang mencoba menyembunyikan perasaan khawatirnya.
"Ya kalau Papa kamu selingkuh yang pertama Mama lakuin adalah menanyakan pendapat kamu. Kalau kamu setuju Mama berpisah, Mama sama Papa akan berpisah. Tapi kalau kamu tidak setuju Mama tidak akan berpisah dengan Papa, karena kebahagiaan kamu adalah hal utama bagi Mama!" jelas Nadia sambil tersenyum ke arah Bintang yang sedang menatapnya.
"Kalau Mama bertahan bukannya Mama akan mendapatkan penderitaan? bagaimanapun juga perselingkuhan itu adalah kesalahan yang tidak bisa di maafkan dalam sebuah hubungan," ucap Bintang.
"Kalau Papa kamu selingkuh, kebahagiaan yang Mama miliki ada pada diri kamu Bintang bukan di Papa. Tapi Mama yakin Papa kamu orangnya setia tidak mungkin selingkuh dari Mama!" kata Nadia.
__ADS_1
"Iya... iya udah deh Ma, kalau begitu Bintang masuk kamar dulu ya!" ucap Bintang setelag mendapat jawaban.
"Haizz dasar kamu! ya udah sana!" ucap Nadia terheran-heran melihat tingkah anaknya.
'Bintang hari ini terlihat sedikit gelisah yang berusaha dia tutup-tutupi, dan juga bertanya soal tadi. Apa ada yang di sembunyikan Bintang? Ada masalah apa sebenarnya anak itu? putus cinta kah?' batin Nadia.
Beberapa saat setelah Bintang pergi ke kamarnya, Marchel juga datang setelah mengantar sejumlah uang kepada Laras tanpa sepengetahuan Nadia.
"Papa darimana?" tanya Nadia.
"Habis ketemu klien Ma!" sahut Marchel sedikit gugup karena takut ketahuan oleh istrinya.
"Oh gitu. Eh Pa, duduk dulu sini!" ucap Nadia menarik tangan suaminya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Ada apa Ma?" tanya Marchel sambil duduk di sebelah istrinya.
"Bintang kok tingkahnya sedikit aneh ya? habis putus cinta kah?" tanya Nadia kepada suaminya yang tidak tahu apa yang terjadi tadi.
"Aneh kenapa Ma?" tanya Marchel mengernyitkan keningnya menatap sang istri.
"Iya. Masa datang dari luar tiba-tiba dia duduk di samping Mama lalu dia bertanya, kalau Papa selingkuh apa Mama akan benci Papa?" kata Nadia menceritakan tingkah aneh yang di rasakan Nadia kepada anak satu-satunya itu.
"Di... dia bertanya seperti itu Ma?" tanya Marchel gugup.
"Iya Pa! Kenapa reaksi Papa seperti itu? Papa terkejut ya?" tebak Nadia.
"Iya sedikit Ma!"
"Mama juga terkejut Pa, kok tumben dia bertanya seperti itu!"
"Mungkin benar yang Mama katakan, dia mungkin lagi putus cinta. Mama gak usah terlalu mikirin itu!" ucap Marchel.
"Iya deh Pa!" ucap Nadia.
"Ya udah kalau gitu Papa mau ganti baju sama mandi sekalian ya Ma!"
"Iya udah Pa!" sahut Nadia.
Marchel buru-buru pergi meninggalkan istrinya, untuk sementara dia ingin menjauhi istrinya agar nantinya tidak keceplosan.
'Mungkinkah Bintang mengikuti aku tadi? tapi tidak mungkin kan? Ah sudahlah tidak mungkin juga dia curiga denganku!' ucap Marchel penuh percaya diri.
Jangan lupa mampir di karya temanku ya...
__ADS_1